Ikuti Launching dan Bedah Buku : Sehat Holistik Ala Rosullullah 5 Maret '11 pk 19.00-21.00 di Istora Senayan
bersama penulis Dr. H. Briliantono M.Soenarwo, SpOT. dan bintang tamu artis ketika cinta bertasbih Oki Septiana Dewi gratis info Telp. (021) 7651689 www.almawardiprima.co.id
Selasa, 01 Maret 2011
Donor darah Sabtu 5 Maret 2011
Ikuti aksi donor darah kerjasama warung steak n shake & PMI pada hari Sabtu 5 Maret 2011 pk 09-12 di warung steak n shake di jl kebayoran lama 3A Kebon Jeruk.
Mengapa Kelebihan Garam Bisa Bikin Hipertensi?
Merry Wahyuningsih - detikHealth
Jakarta, Banyak orang tahu bahwa makan makanan yang asin alias mengandung banyak garam dapat menyebabkan tekanan darah naik dan memicu hipertensi. Tapi tahukah Anda mengapa kelebihan garam bisa memicu hipertensi?
Natrium dalam garam (NaCl) sebenarnya bermanfaat untuk menjaga regulasi volume dan tekanan darah, menjaga kontraksi otot serta transmisi sel saraf, serta membantu keseimbangan air, asam dan basa dalam tubuh.
Namun berdasarkan Panduan Umum Gizi Seimbang 2003, konsumsi garam tidak boleh lebih dari 6 gram (1 sendok teh) dalam 1 hari atau sama dengan 2300 mg natrium.
"Garam sangat erat dengan hipertensi. Setengah sendok teh garam saja bisa menaikkan tekanan sistolik naik sebesar 5 poin dan tekanan diastolik naik 3 poin, ini berdasarkan penelitian," jelas Fendy Susanto dari Nutrifood Research Centre, Program Development and Scientific Support, dalam acara Media Sharing 'Garam dan Hipertensi' di Penang Bistro Kebon Sirih, Jakarta, Rabu (23/2/2011).
Ferdy menjelaskan, kandungan garam yang tinggi dalam tubuh dapat mengganggu kerja ginjal. Garam harus dikeluarkan dari tubuh oleh ginjal, tetapi karena natrium sifatnya mengikat banyak air, maka makin tinggi garam membuat volume darah meningkat.
"Volume darah semakin tinggi sedangkan lebar pembuluh darah tetap, maka alirannya jadi deras, yang artinya tekanan darah menjadi semakin meningkat. Ini juga dapat meningkatkan risiko hipertensi," jelas Ferdy.
Sebenarnya tidak hanya garam, lanjut Ferdy, faktor risiko hipertensi juga dipengaruhi beberapa hal, yaitu usia, riwayat keluarga penderita hipertensi, berat badan berlebih, gaya hidup kurang aktif, merokok, stres dan minum alkohol.
"Tapi dengan mengurangi konsumsi garam orang sudah bisa mengurangi risiko terkena hipertensi," lanjut Ferdy.
Hipertensi hanya awal, lanjut Ferdy, karena dibelakangnya telah menunggu berbagai penyakit serius, antara lain serangan jantung dan gagak jantung, stroke, gagal ginjal dan penyakit mata.
Berikut beberapa cara untuk mengurangi konsumsi garam:
1. Konsumsi lebih banyak produk segar dan kurangi makanan olahan
2. Batasi penggunaan garam pada makanan Anda dengan cara menggantinya dengan rempah-rempah tertentu yang dapat memperkaya rasa atau gunakan bumbu pengganti garam.
3. Pilih produk makanan yang rendah garam
4. Perbanyak konsumsi buah dan sayur
5. Bila harus makan produk olahan, cerdaslah dalam membaca label.
6.
Jakarta, Banyak orang tahu bahwa makan makanan yang asin alias mengandung banyak garam dapat menyebabkan tekanan darah naik dan memicu hipertensi. Tapi tahukah Anda mengapa kelebihan garam bisa memicu hipertensi?
Natrium dalam garam (NaCl) sebenarnya bermanfaat untuk menjaga regulasi volume dan tekanan darah, menjaga kontraksi otot serta transmisi sel saraf, serta membantu keseimbangan air, asam dan basa dalam tubuh.
Namun berdasarkan Panduan Umum Gizi Seimbang 2003, konsumsi garam tidak boleh lebih dari 6 gram (1 sendok teh) dalam 1 hari atau sama dengan 2300 mg natrium.
"Garam sangat erat dengan hipertensi. Setengah sendok teh garam saja bisa menaikkan tekanan sistolik naik sebesar 5 poin dan tekanan diastolik naik 3 poin, ini berdasarkan penelitian," jelas Fendy Susanto dari Nutrifood Research Centre, Program Development and Scientific Support, dalam acara Media Sharing 'Garam dan Hipertensi' di Penang Bistro Kebon Sirih, Jakarta, Rabu (23/2/2011).
Ferdy menjelaskan, kandungan garam yang tinggi dalam tubuh dapat mengganggu kerja ginjal. Garam harus dikeluarkan dari tubuh oleh ginjal, tetapi karena natrium sifatnya mengikat banyak air, maka makin tinggi garam membuat volume darah meningkat.
"Volume darah semakin tinggi sedangkan lebar pembuluh darah tetap, maka alirannya jadi deras, yang artinya tekanan darah menjadi semakin meningkat. Ini juga dapat meningkatkan risiko hipertensi," jelas Ferdy.
Sebenarnya tidak hanya garam, lanjut Ferdy, faktor risiko hipertensi juga dipengaruhi beberapa hal, yaitu usia, riwayat keluarga penderita hipertensi, berat badan berlebih, gaya hidup kurang aktif, merokok, stres dan minum alkohol.
"Tapi dengan mengurangi konsumsi garam orang sudah bisa mengurangi risiko terkena hipertensi," lanjut Ferdy.
Hipertensi hanya awal, lanjut Ferdy, karena dibelakangnya telah menunggu berbagai penyakit serius, antara lain serangan jantung dan gagak jantung, stroke, gagal ginjal dan penyakit mata.
Berikut beberapa cara untuk mengurangi konsumsi garam:
1. Konsumsi lebih banyak produk segar dan kurangi makanan olahan
2. Batasi penggunaan garam pada makanan Anda dengan cara menggantinya dengan rempah-rempah tertentu yang dapat memperkaya rasa atau gunakan bumbu pengganti garam.
3. Pilih produk makanan yang rendah garam
4. Perbanyak konsumsi buah dan sayur
5. Bila harus makan produk olahan, cerdaslah dalam membaca label.
6.
Temani Garam, Gula Juga Jadi Pemicu Darah Tinggi
London, Selama ini garam dianggap paling banyak memicu hipertensi atau tekanan darah tinggi. Gula hampir tidak pernah jadi kambing hitam, padahal penelitian membuktikan bahwa makanan manis juga bisa meningkatkan tekanan darah seperti halnya garam.
Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan faktor risiko utama penyakit jantung dan pembuluh darah. Seseorang dengan tekanan darah 135/85 mmHg punya risiko 2 kali lebih besar mengalami stroke dan serangan jantung dibandingkan orang sehat dengan tekanan darah 120/80 mmHg.
"Sudah banyak yang tahu bahwa garam bisa meningkatkan tekanan darah. Namun penelitian kami menunjukkan gula juga bisa memicu hipertensi, sama seperti garam," ungkap Paul Elliott dari Imperial College London, seperti dikutip dari Reuters, Selasa (1/3/2011).
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Hypertension ini melibatkan 2.696 orang berusia 40-59 tahun di Inggris dan Amerika Serikat. Selama 3 pekan, peneliti mengamati pola makan dan melakukan pemeriksaan gula darah, tekanan darah dan komposisi urine para relawan.
Hasil analisis menunjukkan konsumsi gula yang berlebihan dalam sehari bisa meningkatkan tekanan sitolik sebesar 1,6 mmHg dan tekanan diastolik sebesar 0,8 mmHg. Tekanan sistolik diukur ketika jantung memompa darah, sedangkan sistolik diukur saat jeda pemompaan.
Para peneliti mengaku belum dapat menjelaskan secara pasti hubungan antara gula dan hipertensi, namun yang jelas pengaruhnya lebih besar jika konsumsi gula yang berlebihan itu disertai juga dengan konsumsi garam. Dengan kata lain, gula bisa memperburuk hipertensi yang dipicu oleh kelebihan garam.
Seperti pernah ditulis detikHealth, konsumsi gula yang dianjurkan untuk orang dewasa adalah sekitar 90 gram/hari atau tidak lebih dari setengah cangkir. Lebih dari 100 gram/hari, konsumsi gula dikatakan berlebihan dan bisa mempengaruhi sistem kekebalan tubuh. AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan faktor risiko utama penyakit jantung dan pembuluh darah. Seseorang dengan tekanan darah 135/85 mmHg punya risiko 2 kali lebih besar mengalami stroke dan serangan jantung dibandingkan orang sehat dengan tekanan darah 120/80 mmHg.
"Sudah banyak yang tahu bahwa garam bisa meningkatkan tekanan darah. Namun penelitian kami menunjukkan gula juga bisa memicu hipertensi, sama seperti garam," ungkap Paul Elliott dari Imperial College London, seperti dikutip dari Reuters, Selasa (1/3/2011).
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Hypertension ini melibatkan 2.696 orang berusia 40-59 tahun di Inggris dan Amerika Serikat. Selama 3 pekan, peneliti mengamati pola makan dan melakukan pemeriksaan gula darah, tekanan darah dan komposisi urine para relawan.
Hasil analisis menunjukkan konsumsi gula yang berlebihan dalam sehari bisa meningkatkan tekanan sitolik sebesar 1,6 mmHg dan tekanan diastolik sebesar 0,8 mmHg. Tekanan sistolik diukur ketika jantung memompa darah, sedangkan sistolik diukur saat jeda pemompaan.
Para peneliti mengaku belum dapat menjelaskan secara pasti hubungan antara gula dan hipertensi, namun yang jelas pengaruhnya lebih besar jika konsumsi gula yang berlebihan itu disertai juga dengan konsumsi garam. Dengan kata lain, gula bisa memperburuk hipertensi yang dipicu oleh kelebihan garam.
Seperti pernah ditulis detikHealth, konsumsi gula yang dianjurkan untuk orang dewasa adalah sekitar 90 gram/hari atau tidak lebih dari setengah cangkir. Lebih dari 100 gram/hari, konsumsi gula dikatakan berlebihan dan bisa mempengaruhi sistem kekebalan tubuh. AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Rabu, 23 Februari 2011
Penyakit yang Bisa Disembuhkan Sendiri oleh Tubuh
Jakarta, Tidak semua penyakit butuh obat, sebab tubuh punya mekanisme alami untuk menyembuhkan beberapa jenis penyakit. Agar tidak terjebak dalam konsumsi obat yang berlebihan dan tidak rasional, kenali penyakit-penyakit yang bisa sembuh sendiri.
Hampir semua jenis penyakit yang sifatnya akut (berlangsung singkat, tidak menahun) merupakan self limiting disease artau penyakit yang akan sembuh dengan sendirinya. Beberapa di antaranya dipicu oleh gangguan pada mekanisme alami tubuh manusia, namun sebagain besar disebabkan oleh virus.
Berbeda dengan infeksi bakteri, infeksi virus tidak bisa diobati dengan antibiotik. Dikutip dari chestofbooks, Senin (7/1/2011), infeksi virus akan sembuh dengan sendirinya karena sistem kekebalan tubuh akan membentuk perlawanan untuk membunuh dan menyingkirkan virus-virus tersebut.
Berikut ini adalah beberapa jenis penyakit yang termasuk self limiting disease dan tidak membutuhkan obat khusus selain untuk mengatasi gejala yang menyertainya.
1. Cacar air
Penyakit yang lebih sering menyerang anak kecil ini dipicu oleh infeksi virus varicella-zoster. Gejala cacar air atau chickenpox antara lain gatal-gatal, bentol kemerahan di sekujur tubuh dan disertai demam tinggi.
Meski pada anak sehat bisa sembuh dengan sendirinya, cacar air bisa juga menyebabkan komplikasi yang mematikan. Diperkirakan dalam setahun ada sekitar 100 orang tewas dan lebih dari 14.000 orang masuk rumah sakit karena komplikasi cacar yang meliputi asma, pneumonia serta dehidrasi akibat mual-muntah dan diare.
Meski tetap diberi antivirus, pengobatan untuk penyakit ini lebih banyak ditujukan untuk mengatasi gejala dan mencegah infeksi penyerta. Misalnya penurun panas untuk mengatasi demam, kalamin untuk mengurangi gatal dan antiseptik untuk mandi atau membersihkan tubuh.
2. Flu dan pilek
Common cold atau pilek ditularkan oleh virus influenza, bukan oleh bakteri seperti yang diduga oleh sebagian orang. Oleh karena itu, antibiotik tidak perlu diberikan apabila tidak disertai radang maupun demam yang mengindikasikan adanya infeksi penyerta oleh bakteri.
Pemberian antibiotik sering tidak ada gunanya, karena pengobatan yang lebih dibutuhkan pada flu dan pilek adalah obat-obat simptomatik atau pengurang gejala. Misalnya dekongestan untuk melegakan tenggorokan, antialergi untuk bersin-bersin dan pereda batuk jika diperlukan.
Suplemen multivitamin juga penting untuk diberikan dalam kondisi seperti ini, karena bisa meningkatkan sistem imun atau kekebalan tubuh. Secara alami, sistem imun yang sehat dengan sendirinya akan membentuk perlawanan terhadap virus flu.
3. Batuk yang tidak disertai radang
Batuk merupakan mekanisme alami dalam tubuh untuk menyingkirkan benda asing dari saluran pernapasan. Tanpa harus diobati, umumnya batuk akan berhenti ketika rangsangan benda asing itu sudah hilang.
Batuk baru butuh antitusif atau pereda batuk jika sangat mengganggu aktivitas dan memicu radang karena tidak sembuh-sembuh.
Jenis batuk produktif yang disertai dahak bahkan tidak boleh dihentikan, namun perlu diberi ekspektoran atau pengencer dahak agar pengeluaran lendir-lendir tersebut bisa berlangsung lebih lancar.
4. Diare nonspesifik
Diare dibagi menjadi 2 jenis yakni diare spesifik dan diare nonspesifik. Diare spesifik disebabkan oleh infeksi bakteri, sementara diare nonspesifik merupakan mekanisme alami untuk mengeluarkan benda asing yang dianggap berbahaya oleh saluran pencernaan.
Diare spesifik ditandai dengan demam dan didiagnosis berdasarkan pemeriksaan laboratorium. Obat yang perlu diberikan untuk jenis diare yang satu ini adalah antibiotik, dengan jenis dan kekuatan yang disesuaikan dengan jenis bakteri dalam hasil pemeriksaan.
Sementara diare nonspesifik yang terjadi antara lain setelah makan cabai terlalu banyak, tidak perlu diobati karena akan sembuh dengan sendirinya. Selama dirasa belum terlalu mengganggu aktivitas, kondisi ini cukup diatasi dengan oralit untuk mengantisipasi dehidrasi atau kehilangan cairan tubuh.
5. Alergi gatal-gatal
Meski beberapa jenis obat antihistamin atau antialergi bisa dibeli dengan bebas, bukan berarti obat ini harus digunakan setiap kali mengalami gatal-gatal karena alergi. Reaksi alergi hanya terjadi jika ada faktor pemicu, sehingga langkah paling tepat adalah menghindari hal-hal yang memicunya.
Obat antihistamin sebaiknya hanya dikonsumsi jika faktor pemicu alergi memang tidak terhindarkan, misalnya cuaca dingin. Jenis-jenis makanan tertentu jika masih bisa dihindari maka lebih baik dihindari saja daripada harus minum obat.
6. Jerawat bintik putih
Banyak yang menawarkan obat-obatan untuk menghilangkan jerawat atau Acne vulgaris di wajah. Padahal selama tidak disertai infeksi, jerawat biasa yang sering memiliki bintik putih di dalamnya akan hilang jika kebersihan dan kadar minyak di permukaan kulit selalu terkendali.
Sebagian besar jerawat bisa disebabkan oleh penyumbatan kelenjar minyak oleh kotoran maupun bekas make-up yang tidak dibersihkan. Fungsi minyak sendiri adalah menjaga kelembaban kulit agar tidak kering dan pecah-pecah.
7. Molluscum Contagiosum
Penyakit kulit yang dicirikan dengan benjolan-benjolan (papulla) bening dan berair ini disebabkan oleh infeksi virus dan lebih banyak menyerang anak-anak dibandingkan orang dewasa. Karena ditemukan juga di sekitar alat kelamin dan bisa menular lewat kontak langsung, penyakit ini sering dikira penyakit menular seksual.
Meski tidak berbahaya, benjolan-benjolan itu bisa pecah bila tergores atau digaruk sehingga membuka pintu untuk terjadinya infeksi pada bekas luka. Namun bagi individu dengan sistem kekebalan tubuh yang baik, penyakit kulit ini bisa sembuh sendiri dalam waktu 6-12 bulan.
8. Chikungunya
Penyakit ini disebabkan oleh jenis virus bernama Alphavirus dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Gejalanya antara lain demam tinggi sampai menggigil yang disertai rasa ngilu yang menusuk hingga ke otot dan tulang sehingga disebut juga flu tulang.
Meski gejalanya sangat parah, virus yang menyebabkan penyakit ini tidak dibasmi sehingga obat yang diberikan hanya untuk mengatasi gejala seperti diberi penurun panas untuk mengatasi demamnya. Untungnya, gejala ini hanya berlangsung antara 5-10 hari dan akan sembuh dengan sendirinya.
9. Hand, foot and mouth disease (HFMD)
Penyakit tangan, kaki dan mulut disebabkan oleh infeksi berbagai jenis virus dari keluarga Picornaviridae terutama Enterovirus 71 (EV-71). Virus ini lebih banyak menyerang bayi dan anak-anak terutama pada musim panas.
Gejala yang menyertai penyakit ini adalah demam dan ruam seperti herpes di sekitar tangan, kaki dan mulut. Umumnya gejala-gejala tersebut akan sembuh dengan sendirinya dalam waktu 7-10 hari dan tidak meninggalkan bekas apapun.
10. Kikuchi-Fujimoto disease
Sesuai namanya, penyakit yang disebabkan oleh virus Epstein-Barr (EBV) ini ditemukan oleh Dr Masahiro Kikuchi dan Y Fujimoto pada tahun 1972. Gejalanya adalah demam yang disertai pembengkakan di leher akibat adanya pelebaran pada pembuluh limpa.
Penyakit langka yang lebih banyak ditemukan di wilayah Asia ini sering menyerang kaum mudah khususnya wanita pada rentang usia 20-30 tahun. Obat yang diberikan hanya bertujuan untuk mengatasi demam sementara untuk infeksinya belum ada obatnya, namun akan sembuh dengan sendirinya. (up/ir) AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Hampir semua jenis penyakit yang sifatnya akut (berlangsung singkat, tidak menahun) merupakan self limiting disease artau penyakit yang akan sembuh dengan sendirinya. Beberapa di antaranya dipicu oleh gangguan pada mekanisme alami tubuh manusia, namun sebagain besar disebabkan oleh virus.
Berbeda dengan infeksi bakteri, infeksi virus tidak bisa diobati dengan antibiotik. Dikutip dari chestofbooks, Senin (7/1/2011), infeksi virus akan sembuh dengan sendirinya karena sistem kekebalan tubuh akan membentuk perlawanan untuk membunuh dan menyingkirkan virus-virus tersebut.
Berikut ini adalah beberapa jenis penyakit yang termasuk self limiting disease dan tidak membutuhkan obat khusus selain untuk mengatasi gejala yang menyertainya.
1. Cacar air
Penyakit yang lebih sering menyerang anak kecil ini dipicu oleh infeksi virus varicella-zoster. Gejala cacar air atau chickenpox antara lain gatal-gatal, bentol kemerahan di sekujur tubuh dan disertai demam tinggi.
Meski pada anak sehat bisa sembuh dengan sendirinya, cacar air bisa juga menyebabkan komplikasi yang mematikan. Diperkirakan dalam setahun ada sekitar 100 orang tewas dan lebih dari 14.000 orang masuk rumah sakit karena komplikasi cacar yang meliputi asma, pneumonia serta dehidrasi akibat mual-muntah dan diare.
Meski tetap diberi antivirus, pengobatan untuk penyakit ini lebih banyak ditujukan untuk mengatasi gejala dan mencegah infeksi penyerta. Misalnya penurun panas untuk mengatasi demam, kalamin untuk mengurangi gatal dan antiseptik untuk mandi atau membersihkan tubuh.
2. Flu dan pilek
Common cold atau pilek ditularkan oleh virus influenza, bukan oleh bakteri seperti yang diduga oleh sebagian orang. Oleh karena itu, antibiotik tidak perlu diberikan apabila tidak disertai radang maupun demam yang mengindikasikan adanya infeksi penyerta oleh bakteri.
Pemberian antibiotik sering tidak ada gunanya, karena pengobatan yang lebih dibutuhkan pada flu dan pilek adalah obat-obat simptomatik atau pengurang gejala. Misalnya dekongestan untuk melegakan tenggorokan, antialergi untuk bersin-bersin dan pereda batuk jika diperlukan.
Suplemen multivitamin juga penting untuk diberikan dalam kondisi seperti ini, karena bisa meningkatkan sistem imun atau kekebalan tubuh. Secara alami, sistem imun yang sehat dengan sendirinya akan membentuk perlawanan terhadap virus flu.
3. Batuk yang tidak disertai radang
Batuk merupakan mekanisme alami dalam tubuh untuk menyingkirkan benda asing dari saluran pernapasan. Tanpa harus diobati, umumnya batuk akan berhenti ketika rangsangan benda asing itu sudah hilang.
Batuk baru butuh antitusif atau pereda batuk jika sangat mengganggu aktivitas dan memicu radang karena tidak sembuh-sembuh.
Jenis batuk produktif yang disertai dahak bahkan tidak boleh dihentikan, namun perlu diberi ekspektoran atau pengencer dahak agar pengeluaran lendir-lendir tersebut bisa berlangsung lebih lancar.
4. Diare nonspesifik
Diare dibagi menjadi 2 jenis yakni diare spesifik dan diare nonspesifik. Diare spesifik disebabkan oleh infeksi bakteri, sementara diare nonspesifik merupakan mekanisme alami untuk mengeluarkan benda asing yang dianggap berbahaya oleh saluran pencernaan.
Diare spesifik ditandai dengan demam dan didiagnosis berdasarkan pemeriksaan laboratorium. Obat yang perlu diberikan untuk jenis diare yang satu ini adalah antibiotik, dengan jenis dan kekuatan yang disesuaikan dengan jenis bakteri dalam hasil pemeriksaan.
Sementara diare nonspesifik yang terjadi antara lain setelah makan cabai terlalu banyak, tidak perlu diobati karena akan sembuh dengan sendirinya. Selama dirasa belum terlalu mengganggu aktivitas, kondisi ini cukup diatasi dengan oralit untuk mengantisipasi dehidrasi atau kehilangan cairan tubuh.
5. Alergi gatal-gatal
Meski beberapa jenis obat antihistamin atau antialergi bisa dibeli dengan bebas, bukan berarti obat ini harus digunakan setiap kali mengalami gatal-gatal karena alergi. Reaksi alergi hanya terjadi jika ada faktor pemicu, sehingga langkah paling tepat adalah menghindari hal-hal yang memicunya.
Obat antihistamin sebaiknya hanya dikonsumsi jika faktor pemicu alergi memang tidak terhindarkan, misalnya cuaca dingin. Jenis-jenis makanan tertentu jika masih bisa dihindari maka lebih baik dihindari saja daripada harus minum obat.
6. Jerawat bintik putih
Banyak yang menawarkan obat-obatan untuk menghilangkan jerawat atau Acne vulgaris di wajah. Padahal selama tidak disertai infeksi, jerawat biasa yang sering memiliki bintik putih di dalamnya akan hilang jika kebersihan dan kadar minyak di permukaan kulit selalu terkendali.
Sebagian besar jerawat bisa disebabkan oleh penyumbatan kelenjar minyak oleh kotoran maupun bekas make-up yang tidak dibersihkan. Fungsi minyak sendiri adalah menjaga kelembaban kulit agar tidak kering dan pecah-pecah.
7. Molluscum Contagiosum
Penyakit kulit yang dicirikan dengan benjolan-benjolan (papulla) bening dan berair ini disebabkan oleh infeksi virus dan lebih banyak menyerang anak-anak dibandingkan orang dewasa. Karena ditemukan juga di sekitar alat kelamin dan bisa menular lewat kontak langsung, penyakit ini sering dikira penyakit menular seksual.
Meski tidak berbahaya, benjolan-benjolan itu bisa pecah bila tergores atau digaruk sehingga membuka pintu untuk terjadinya infeksi pada bekas luka. Namun bagi individu dengan sistem kekebalan tubuh yang baik, penyakit kulit ini bisa sembuh sendiri dalam waktu 6-12 bulan.
8. Chikungunya
Penyakit ini disebabkan oleh jenis virus bernama Alphavirus dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Gejalanya antara lain demam tinggi sampai menggigil yang disertai rasa ngilu yang menusuk hingga ke otot dan tulang sehingga disebut juga flu tulang.
Meski gejalanya sangat parah, virus yang menyebabkan penyakit ini tidak dibasmi sehingga obat yang diberikan hanya untuk mengatasi gejala seperti diberi penurun panas untuk mengatasi demamnya. Untungnya, gejala ini hanya berlangsung antara 5-10 hari dan akan sembuh dengan sendirinya.
9. Hand, foot and mouth disease (HFMD)
Penyakit tangan, kaki dan mulut disebabkan oleh infeksi berbagai jenis virus dari keluarga Picornaviridae terutama Enterovirus 71 (EV-71). Virus ini lebih banyak menyerang bayi dan anak-anak terutama pada musim panas.
Gejala yang menyertai penyakit ini adalah demam dan ruam seperti herpes di sekitar tangan, kaki dan mulut. Umumnya gejala-gejala tersebut akan sembuh dengan sendirinya dalam waktu 7-10 hari dan tidak meninggalkan bekas apapun.
10. Kikuchi-Fujimoto disease
Sesuai namanya, penyakit yang disebabkan oleh virus Epstein-Barr (EBV) ini ditemukan oleh Dr Masahiro Kikuchi dan Y Fujimoto pada tahun 1972. Gejalanya adalah demam yang disertai pembengkakan di leher akibat adanya pelebaran pada pembuluh limpa.
Penyakit langka yang lebih banyak ditemukan di wilayah Asia ini sering menyerang kaum mudah khususnya wanita pada rentang usia 20-30 tahun. Obat yang diberikan hanya bertujuan untuk mengatasi demam sementara untuk infeksinya belum ada obatnya, namun akan sembuh dengan sendirinya. (up/ir) AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Dunia Apresiasi Penelitian Susu IPB, Kenapa Terus Dikontroversi?
Jakarta, Andai Institut Pertanian Bogor (IPB) tidak pernah melakukan penelitian susu yang mengandung Enterobacter sakazakii, hingga kini dunia tak akan pernah punya standar kesehatan susu dan makanan yang baik.
Berkat penelitian yang dipimpin Dr Sri Estuningsih, dunia internasional jadi tahu bagaimana risiko infeksi E.sakazakii pada manusia.
Penelitian berjudul 'Potensi Kejadian Meningitis pada Mencit Neonatus akibat Infeksi Enterobacter sakazakii' ini pun dipresentasikan dalam sidang-sidang World Health Organization (WHO) dan Food and Drug Administration (FAO).
Dunia menilai penelitian Dr Sri Estuningsih sebagai kontribusi penting untuk kemanusiaan sehingga ia terpilih sebagai delegasi Asia dalam pertemuan para ahli di Roma yang membahas risiko infeksi E.sakazakii pada manusia. AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Menurut Rektor IPB Herry Prof Herry Suhardiyanto, penelitian tersebut akhirnya dijadikan pertimbangan untuk penetapan standar Codex Alimentarius (Standar Internasional Kesehatan Konsumen).
Dus, sejak saat itu standar Codex menetapkan susu formula tidak boleh mengandung Enterobacter sakazakii. Alhasil, seluruh negara anggota Codex sejak tahun 2008 harus mengikuti standar terbaru tersebut untuk susu formula, makanan dan kosmetik termasuk Indonesia.
"Penelitian ini justru menyadarkan agar tidak keterusan mengonsumsi susu yang mengandung E.sakazakii. Terbukti setelah BPOM mengadopsi aturan Codex pada Oktober 2008, hanya 4 bulan sejak ditetapkan Codex, penelitian ulang dengan metode yang sama menunjukkan hasil negatif pada semua sampel yang digunakan," ungkap Prof Herry dalam jumpa pers di Gedung Kementerian Pendidikan Nasional, Rabu (23/2/2011).
Tapi hasil penelitian yang mendapatkan apresiasi dari dunia internasional ini justru menjadi kontroversi di dalam negeri. Mewakili suara konsumen, seorang pengacara bernama David Tobing menggugat Menkes, BPOM dan IPB untuk mengumumkan merek susu yang digunakan dalam penelitian tersebut.
Sejak saat itu masyarakat resah, bahkan muncul tuduhan ada kongkalikong antara pabrik susu dengan pihak-pihak yang terkait sehubungan dengan tidak diumumkannya merek susu yang diteliti tersebut. Penjelasan pihak tergugat bahwa risiko infeksi E.sakazakii hanya terjadi di rumah sakit pada bayi tertentu yang bermasalah dengan ketahanan tubuh hingga kini belum mampu meredam keresahan tersebut.
Begitu pula dengan hasil penelitian ulang yang dilakukan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang tidak menemukan lagi susu yang mengandung Enterobacter sakazakii, juga dirasa tidak cukup.
Publik terus-terusan menuntut agar susu yang diteliti IPB itu diumumkan, walaupun menurut beberapa pakar kesehatan seperti Dr Utami Roesli, SpA, MBA, IBCLC yang pernah dihubungi detikHealth mengatakan, pengumuman nama susu tersebut sudah tidak lagi relevan karena penelitiannya dilakukan tahun 2003 sementara penelitian terbaru menunjukkan hasil nhasil negatif. Fokus sekarang menurut Dr Utami adalah menyelamatkan bayi di bawah 1 tahun agar tidak mengonsumsi susu formula tapi lebih utamakan ASI.
Sementara Prof Herry dalam jumpa pers Rabu kemarin mengatakan tidak semua penelitian harus mempublikasikan identitas sampel yang digunakan.
"Harus dilihat tujuan penelitiannya. Yang dilakukan IPB tahun 2003-2006 adalah penelitian isolasi dan identifikasi bakteri patogen, atau kiasannya adalah 'berburu bakteri'. Bukan surveilance yang tujuannya memang mengungkap susu apa saja yang terkontaminasi," jelas Prof Herry.
Karena jenis penelitian IPB adalah penelitian isolasi, menurutnya tidak lazim mencantumkan identitas sampel yang digunakan karena tidak bisa mewakili seluruh populasi susu formula. Dalam jurnal internasional, perusahaan dan merek susu yang menjadi sampel penelitian isolasi hanya disebut dengan kode tertentu.
Tapi jika itu penelitian surveilance maka harus dicantumkan merek susu yang diteliti. Namun tentunya ada syarat keterwakilan populasi yang harus dipenuhi dalam penelitian surveilance. Misalnya untuk meneliti kontaminasi E.sakazakii, dari tiap batch susu formula harus diambil 30 sampel masing-masing sebanyak 10 gram.
"Kalau penelitian isolasi harus menyebutkan merek sampel yang dipakai, menjadi tidak fair bagi yang tidak diteliti. Belum tentu yang lain bebas dari E.sakazakii. Apalagi penelitiannya dilakukan tahun 2003-2006, sementara Codex baru mengatur kontaminasi E.sakazakii dalam susu formula bulan Juli 2008," jelas Prof Herry.
Penelitian isolasi IPB menguji bayi tikus yang terkena bakteri E.sakazakii terbukti bisa memicu meningitis. Meski belum dibuktikan pada manusia, namun bakteri ini diyakini punya potensi yang membahayakan terutama pada bayi yang punya masalah ketahanan tubuh misalnya karena lahir prematur atau terinfeksi HIV. Karena itu, E.sakazakii disebut juga parasit oportunistik yakni parasit yang hanya menyerang jika kekebalan tubuh lemah seperti kekebalan tubu
(up/ir)
Berkat penelitian yang dipimpin Dr Sri Estuningsih, dunia internasional jadi tahu bagaimana risiko infeksi E.sakazakii pada manusia.
Penelitian berjudul 'Potensi Kejadian Meningitis pada Mencit Neonatus akibat Infeksi Enterobacter sakazakii' ini pun dipresentasikan dalam sidang-sidang World Health Organization (WHO) dan Food and Drug Administration (FAO).
Dunia menilai penelitian Dr Sri Estuningsih sebagai kontribusi penting untuk kemanusiaan sehingga ia terpilih sebagai delegasi Asia dalam pertemuan para ahli di Roma yang membahas risiko infeksi E.sakazakii pada manusia. AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Menurut Rektor IPB Herry Prof Herry Suhardiyanto, penelitian tersebut akhirnya dijadikan pertimbangan untuk penetapan standar Codex Alimentarius (Standar Internasional Kesehatan Konsumen).
Dus, sejak saat itu standar Codex menetapkan susu formula tidak boleh mengandung Enterobacter sakazakii. Alhasil, seluruh negara anggota Codex sejak tahun 2008 harus mengikuti standar terbaru tersebut untuk susu formula, makanan dan kosmetik termasuk Indonesia.
"Penelitian ini justru menyadarkan agar tidak keterusan mengonsumsi susu yang mengandung E.sakazakii. Terbukti setelah BPOM mengadopsi aturan Codex pada Oktober 2008, hanya 4 bulan sejak ditetapkan Codex, penelitian ulang dengan metode yang sama menunjukkan hasil negatif pada semua sampel yang digunakan," ungkap Prof Herry dalam jumpa pers di Gedung Kementerian Pendidikan Nasional, Rabu (23/2/2011).
Tapi hasil penelitian yang mendapatkan apresiasi dari dunia internasional ini justru menjadi kontroversi di dalam negeri. Mewakili suara konsumen, seorang pengacara bernama David Tobing menggugat Menkes, BPOM dan IPB untuk mengumumkan merek susu yang digunakan dalam penelitian tersebut.
Sejak saat itu masyarakat resah, bahkan muncul tuduhan ada kongkalikong antara pabrik susu dengan pihak-pihak yang terkait sehubungan dengan tidak diumumkannya merek susu yang diteliti tersebut. Penjelasan pihak tergugat bahwa risiko infeksi E.sakazakii hanya terjadi di rumah sakit pada bayi tertentu yang bermasalah dengan ketahanan tubuh hingga kini belum mampu meredam keresahan tersebut.
Begitu pula dengan hasil penelitian ulang yang dilakukan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang tidak menemukan lagi susu yang mengandung Enterobacter sakazakii, juga dirasa tidak cukup.
Publik terus-terusan menuntut agar susu yang diteliti IPB itu diumumkan, walaupun menurut beberapa pakar kesehatan seperti Dr Utami Roesli, SpA, MBA, IBCLC yang pernah dihubungi detikHealth mengatakan, pengumuman nama susu tersebut sudah tidak lagi relevan karena penelitiannya dilakukan tahun 2003 sementara penelitian terbaru menunjukkan hasil nhasil negatif. Fokus sekarang menurut Dr Utami adalah menyelamatkan bayi di bawah 1 tahun agar tidak mengonsumsi susu formula tapi lebih utamakan ASI.
Sementara Prof Herry dalam jumpa pers Rabu kemarin mengatakan tidak semua penelitian harus mempublikasikan identitas sampel yang digunakan.
"Harus dilihat tujuan penelitiannya. Yang dilakukan IPB tahun 2003-2006 adalah penelitian isolasi dan identifikasi bakteri patogen, atau kiasannya adalah 'berburu bakteri'. Bukan surveilance yang tujuannya memang mengungkap susu apa saja yang terkontaminasi," jelas Prof Herry.
Karena jenis penelitian IPB adalah penelitian isolasi, menurutnya tidak lazim mencantumkan identitas sampel yang digunakan karena tidak bisa mewakili seluruh populasi susu formula. Dalam jurnal internasional, perusahaan dan merek susu yang menjadi sampel penelitian isolasi hanya disebut dengan kode tertentu.
Tapi jika itu penelitian surveilance maka harus dicantumkan merek susu yang diteliti. Namun tentunya ada syarat keterwakilan populasi yang harus dipenuhi dalam penelitian surveilance. Misalnya untuk meneliti kontaminasi E.sakazakii, dari tiap batch susu formula harus diambil 30 sampel masing-masing sebanyak 10 gram.
"Kalau penelitian isolasi harus menyebutkan merek sampel yang dipakai, menjadi tidak fair bagi yang tidak diteliti. Belum tentu yang lain bebas dari E.sakazakii. Apalagi penelitiannya dilakukan tahun 2003-2006, sementara Codex baru mengatur kontaminasi E.sakazakii dalam susu formula bulan Juli 2008," jelas Prof Herry.
Penelitian isolasi IPB menguji bayi tikus yang terkena bakteri E.sakazakii terbukti bisa memicu meningitis. Meski belum dibuktikan pada manusia, namun bakteri ini diyakini punya potensi yang membahayakan terutama pada bayi yang punya masalah ketahanan tubuh misalnya karena lahir prematur atau terinfeksi HIV. Karena itu, E.sakazakii disebut juga parasit oportunistik yakni parasit yang hanya menyerang jika kekebalan tubuh lemah seperti kekebalan tubu
(up/ir)
Negara jangan menunda-nunda pengumuman susu berbakteri !
Rabu pagi ini pihak menkes endang rahayu , BPOM dan IPB tetap ngeyel menolak mengumumkan merk-merk susu terkontaminasi bakteri sakazaki di hadapan anggota DPR RI . Padahal MA sudah jelas-jelas menginsruksikannya. Pemerintah memberikan pepesan kosong kepada masyarakat soal janji mengumumkan merek susu formula tercemar Enterobacter sakazakii. Sampai hari yang dijanjikan, Rabu (23/2), Menteri Kesehatan, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), dan Institut Pertanian Bogor (IPB) tetap bungkam.
Malah, pemerintah akan melakukan upaya hukum Peninjauan Kembali (PK) kasasi MA. Berikut wawancara dengan Ketua Komisi Informasi Pusat, Ahmad Alamsyah Saragih, menyikapi kekeraskepalaan pemerintah:
Seberapa besar hak masyarakat mengetahui merek susu tercemar bakteri?
Masyarakat dalam mengonsumsi sesuatu dijamin keamanannya oleh negara. Negara punya lembaga publik -- kementerian, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), atau lembaga riset. Hasil penelitan IPB berdampak luas. Kalau ada kepentingan publik lebih luas, negara harus mengumumkannya. Jangan menunda-nunda karena alasan pasar atau etika penelitian.
Bagaimana Anda melihat kontroversi merek susu yang tercemar bakteri sakazakii versi penelitian IPB?
Saya melihat ada perbedaan pandangan sampai dipanggil ke DPR. Dekan Fakultas Peternakan IPB mengaku belum mendapatkan salinan putusan. Kalau sudah menerima, baru akan dibuka. Mereka sadar ini harus dibuka, karena itu proses hukum. http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/kesehatan/11/02/24/165907-negara-jangan-menundanunda
Malah, pemerintah akan melakukan upaya hukum Peninjauan Kembali (PK) kasasi MA. Berikut wawancara dengan Ketua Komisi Informasi Pusat, Ahmad Alamsyah Saragih, menyikapi kekeraskepalaan pemerintah:
Seberapa besar hak masyarakat mengetahui merek susu tercemar bakteri?
Masyarakat dalam mengonsumsi sesuatu dijamin keamanannya oleh negara. Negara punya lembaga publik -- kementerian, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), atau lembaga riset. Hasil penelitan IPB berdampak luas. Kalau ada kepentingan publik lebih luas, negara harus mengumumkannya. Jangan menunda-nunda karena alasan pasar atau etika penelitian.
Bagaimana Anda melihat kontroversi merek susu yang tercemar bakteri sakazakii versi penelitian IPB?
Saya melihat ada perbedaan pandangan sampai dipanggil ke DPR. Dekan Fakultas Peternakan IPB mengaku belum mendapatkan salinan putusan. Kalau sudah menerima, baru akan dibuka. Mereka sadar ini harus dibuka, karena itu proses hukum. http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/kesehatan/11/02/24/165907-negara-jangan-menundanunda
Langganan:
Postingan (Atom)