Senin, 28 Maret 2011

Talkshow "Menjadi Muda Lebih Lama" Kamis, 31 Maret 2011

Talkshow "Menjadi Muda Lebih Lama" Kamis, 31 Maret 2011 Pukul 13.00 WIB
bersama Dr. Farina
tempat di tupperware home Jl. Tirtayasa No.24 Kebayoran Baru Jakarta Selatan.
Rreservasi dan informasi hubungi: 021-7250985, 0856 876 8070 (LINI)
http://www.tupperware.co.id/Pages/EventsHome.aspx?ID=Dx0aFaQ0eO7DmBy/Jtmz5g==&Page=3

Acara Talkshow "Eat Green to Stop Diabetes" Selasa, 29 Maret 2011

Acara Talkshow "Eat Green to Stop Diabetes" Selasa, 29 Maret 2011Pukul 13.00 WIB
bersama pakar dan Mona Ratuliu bertempat di Jl. Tirtayasa No.24 Kebayoran Baru Jakarta Selatan.
Rreservasi dan informasi hubungi: 021-7250985, 0856 876 8070 (LINI)

Kamis, 24 Maret 2011

Daun Sirsak Lebih Hebat dari Kemoterapi, benarkah ?

Konon, daya kerja rebusan daun sirsak dalam membasmi kanker 10.000 kali lebih kuat daripada obat kimia yang biasa digunakan dalam kemoterapi. Selain itu diklaim tidak menyebabkan mual dan merontokkan rambut.

Belakangan, daun sirsak memang jadi primadona. Khasiatnya dalam mengobati kanker sedang dibicarakan di seluruh penjuru dunia. Bukan hanya oleh masyarakat awam, namun juga kalangan medis dan ilmuwan. Kehebohan ini juga merambah dunia maya. Di situs mesin pencari Google, misalnya, topik “daun sirsak obat kanker” pada pertengahan Februari 2011 mencapai 284.000 buah, dan terdiri dari berbagai tulisan. Mulai dari artikel yang menyiarkan kabar kehebatan daun sirsak, hingga obrolan di dalam milis-milis yang mempertanyakan kebenarannya.

Sejak berabad-abad yang lalu

Jika orang menanggapi dengan bentuk antusiasme yang berbeda-beda, itu bisa dimaklumi. Bagi sebagian orang, kabar ini memang cukup mengejutkan. Selama ini sirsak tidak dikenal sebagai tanaman yang istimewa. Di Indonesia, pohon sirsak bisa tumbuh tanpa perawatan khusus di kebun atau halaman rumah. Buahnya pun bukan komoditi yang bernilai jual tinggi.

Belum banyak yang tahu, bahwa sesungguhnya, tanaman yang bernama Latin Annona muricata ini sudah lazim dimanfaatkan sebagai obat. Sejak berabad-abad yang lalu, suku Indian di kawasan Amerika Selatan menggunakan kulit kayu, akar, daun, buah, dan bijinya untuk mengatasi berbagai macam penyakit, seperti asma, rematik, gangguan liver, dan jantung. Nenek moyang kita pun sudah sering memanfaatkan daun dan buahnya untuk mengatasi gangguan sehari-hari, seperti anyang-anyangan (infeksi saluran kemih), ambeien, batuk, bisul, cacingan, diare, gatal-gatal, dan masih banyak lagi.

Seiring berjalannya waktu, beberapa referensi mencatat kekhasiatannya yang tidak lepas dari beberapa senyawa yang terkandung di dalamnya. Batang dan daun tanaman sirsak kaya akan tanin, fitosterol, kalsium oksalat, serta zat alkaloid. Sementara buahnya mengandung banyak protein, kalsium, fosfor, vitamin A, dan vitamin C. Kandungan tersebut membuat sirsak berkhasiat sebagai antioksidan, antibakteri, antijamur, antikejang, dan antiradang.

Penemuan mutakhir: antikanker

Khasiat sirsak sebagai antitumor dan antikanker konon bukan penemuan baru. Menurut beberapa sumber, risetnya sudah dilakukan sejak puluhan tahun yang lalu oleh sebuah perusahaan obat di Amerika. Namun, karena ada aturan dari pemerintah setempat yang mengatakan bahwa sumber alami untuk obat tidak bisa dipatenkan, perusahaan itu merasa tidak bakal memperoleh keuntungan. Akibatnya, ia memilih untuk menutup proyek penelitian, sekaligus menyimpan rapat-rapat hasil risetnya pada masyarakat luas.

Tapi kabarnya, ada seorang ilmuwan yang membocorkan temuan tersebut, antara lain kepada tim riset dari Health Sciences Institute, sebuah lembaga penelitian dunia yang berkedudukan di Inggris. Sejak saat itu, sebanyak 20 laboratorium di berbagai negara mulai melakukan berbagai penelitian terhadap sirsak.

Perlahan-lahan, rahasia itu mulai terkuak. Pada tahun 1976, The National Cancer Institute, Amerika, menemukan bahwa senyawa aktif yang terdapat dalam batang, daun, dan ranting daun sirsak, bernama annonaceous acetogenin, mampu menyerang dan melumpuhkan sel kanker.

Sekitar 20 tahun kemudian, beberapa penelitian yang dilakukan oleh Jerry L. McLaughlin, Nicholas H. Oberlies, Lu Zeng, dan Feng-E Wu dari Purdue University, Amerika, bekerjasama dengan Soelaksono Sastrodihardjo dari Institut Teknologi Bandung (ITB), menemukan bahwa senyawa tersebut bisa membedakan sel normal dan sel kanker, dan hanya membasmi sel kankernya saja.

Lebih hebatnya lagi, sel kanker yang sudah resisten terhadap obat bisa dilumpuhkan. Ini disebabkan, annonaceous acetogenin bekerja dengan cara menghambat sekaligus merusak produksi adenine triphosphat (ATP) yaitu semacam sumber energi bagi pertumbuhan sel kanker. Karena tidak memperoleh makanan dan tenaga untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya, sel-sel kanker itu akhirnya mati.

Kehebatan annonaceous acetogenin dalam sirsak ternyata juga dimiliki oleh “saudara” sirsak yang lain, yaitu srikaya (Annona cherimolia). Dal Hwan Kim dan rekan-rekannya dari Department of Pharmacy, Catholic University of Daegu, Gyeongsan, Korea, menemukan bahwa annonaceous acetogenin yang terdapat dalam biji srikaya memiliki aktivitas sebagai antikanker 10.000 kali lebih kuat dari Adriamycin (obat yang biasa digunakan dalam terapi kanker), saat diuji coba pada kasus tumor prostat, kanker payudara, dan kanker usus besar. Penelitian yang berjudul “Annomolin and Annocherimolin, New Cytotoxic Annonaceous Acetogenins from Annona Cherimolia” itu dimuat dalam Journal of Natural Product, Vol.64, tahun 2001.

Tetap kritis dan waspada

Sesungguhnya, belum ada pernyataan yang menegaskan bahwa annonaceous acetogenin yang terdapat dalam sirsak memiliki kesamaan dengan srikaya seperti penemuan Dal Hwan Kim itu. Kesimpulan bahwa daun sirsak lebih hebat dari kemoterapi, kemungkinan didasarkan pada kesamaan kandungan annonaceous acetogenin yang terdapat di dalamnya.

Namun berita yang berkembang di luar sana terlanjur membuat banyak orang berpendapat bahwa daun sirsak memiliki potensi lebih kuat dari kemoterapi. Terlebih, ada beberapa penderita kanker mengaku kondisinya jauh lebih baik bahkan sembuh setelah mengonsumsi daun sirsak.

Menanggapi fenomena ini, Dr Aldrin Neilwan, SpAK, MARS, M.Biomed, MKes, Kepala Unit Complementary Alternative Medicine (CAM) RS Kanker Dharmais, Jakarta, menilai, bagaimanapun, penemuan mengenai potensi daun sirsak sebagai obat kanker perlu disambut positif. “Namun yang perlu diingat, jangan sampai terbuai dengan berita bombastisnya saja! Tingkat keberhasilan seseorang terhadap suatu jenis pengobatan tidak bisa dipukul rata. Selain itu, proses kesembuhan penderita juga dipengaruhi oleh banyak faktor,” tuturnya.(N) Penulis : Dyah Pratitasari
Simak artikel lengkapnya di Nirmala 03/Tahun 11, edar 1 Maret 2011

90% Penyakit Dipicu dari Makanan

Jakarta, Tahukah Anda bahwa hampir 90 persen penyakit yang diderita oleh manusia ada hubungannya dengan makanan yang dikonsumsinya. Makanan menjadi pemicu penyakit-penyakit seram seperti diabetes atau jantung.

Memang ada penyakit yang diakibatkan genetik atau kelainan organ tapi itu jumlahnya tidak banyak. Sedangkan 90% penyakit dipicu oleh makanan mulai dari kekurangan gizi makanan atau makan secara berlebih yang semuanya berhubungan dengan pola makan yang tidak benar. Tapi banyak orang tidak peduli dan sering terdengar ungkapan, "Ini enggak sehat, itu enggak sehat terus makan apa?". Anda mungkin sudah tahu makanan berkolesterol tinggi, terlalu manis, alkohol tentu tidak baik, meski kalau hanya sesekali mencoba dalam dosis wajar tentu saja masih bisa ditolerasi.

Tapi yang menjadi masalah, kadang orang sudah tahu makanan itu tidak bermanfaat tapi tetap saja menuruti nafsunya. Maka jangan pernah merasa bosan jika ada yang mengingatkan agar pola makan Anda diperbaiki. Makanan akan terhubung dengan kesehatan saluran pencernaan yang sangat menentukan kualitas kesehatan orang tersebut.

Sistem pencernaan manusia dimulai dari mulut lalu melewati esofagus, masuk ke lambung diteruskan ke usus besar, usus 12 jari, usus kecil dan berakhir pada anus. Maka perjalanan dari makanan yang dikonsumsi oleh seseorang sangat panjang untuk diolah.

Dr. Epistel P Simatupang, SpPD dalam acara Seminar Umum 'Waspadai Saluran Cerna Anda & Hepatitis' di Siloam Hospital Kebun Jeruk, Jakarta, mengatakan masalah yang paling sering terjadi pada saluran pencernaan seseorang adalah peradangan esofagus, tukak lambung, peradangan usus 12 jari dan fungsionalis dispepsia yaitu adanya keluhan namun jika diperiksa secara endoskopi tidak ada luka pda saluran cernanya.

Dr Epistel juga menambahkan bahwa saat orang makan sebaiknya jangan minum terlalu banyak. Hal ini bisa mengencerkan enzim pencernaan yang membuat enzim tersebut tidak bekerja secara optimal dalam membantu proses pencernaan. Selain itu jangan makan terlalu banyak karena bisa membuat lambung memproduksi asam lambung yang berlebih.

"Usus besar manusia berfungsi untuk penyerapan air sedangkan hampir 90 persen penyerapan makanan terjadi di usus kecil. Dan sebaiknya orang mengonsumsi buah dalam bentuk padat karena bisa membantu otot wajah bekerja sehingga bentuk wajah seseorang masih bisa tetap bagus," ujar dokter yang mengambil program spesialis di Manila ini.

Dr Epistel memberikan beberapa tips agar bisa menjaga sistem pencernaan seseorang tetap baik, yaitu:

1. Perbanyak mengonsumsi buah dan sayuran, sehingga membuat otot lambung dan usus menjadi kuat.
2. Makanlah makanan yang mengandung antioksidan tinggi.
3. Hindari makanan yang melalui proses dalam pembuatannya seperti makanan instan.
4. Minumlah air putih 8 gelas sehari.
5. Hindari atau kurangi makanan yang mengandung gula tinggi (manis), lemak dan minyak.
6. Olahragalah secara teratur.
7. Pengendalian diri yang baik dari kebiasaan-kebiasaan buruk.


Jadi, jika ingin mendapatkan tubuh yang sehat dan terhindar dari penyakit, maka rawatlah saluran pencernaan Anda dengan memasukkan makanan yang berguna buat tubuh. Vera Farah Bararah - detikHealth

Biasakan Makan Makanan Rumah Agar Lebih Sehat

Kesibukan yang tinggi membuat orang banyak menghabiskan waktu di luar rumah yang membuatnya lebih sering jajan. Padahal sering jajan makin sulit mengontrol jumlah makanan yang masuk. Pakar kesehatan kini mengajak orang untuk membiasakan makan makanan rumah agar lebih sehat.

Makanan yang dibeli di luar dan makanan buatan rumah memiliki perbedaan seperti bahan yang digunakan, nilai gizi serta rasanya. Umumnya rasa makanan yang dibeli di luar lebih enak dan gurih.

Hal ini karena makanan yang dijual di luar lebih banyak mengandung bahan adiktif seperti senyawa kimia MSG (monosodium glutamat) yang membuat seseorang ingin makan lebih banyak lagi padahal makanan tersebut tidak sehat.

Di sisi lain, orang kadang malas untuk masak makanan rumah karena terbilang lebih repot dan rasanya mungkin tidak seenak jajan di luar.

Padalah ada beberapa kelebihan yang membuat makanan rumah jauh lebih baik daripada makanan luar seperti dikutip dari Mayo Clinic, Selasa (8/2/2011) yaitu:

1. Makanan rumah umumnya terdiri dari bahan-bahan yang sudah terpilih kualitasnya.
2. Makanan rumah memiliki nilai gizi yang lebih terjamin dibandingkan dengan makanan luar karena mengandung bahan berkualitas dan terhindar dari bahan adiktif makanan seperti MSG, sehingga bisa mencegah seseorang mengalami kelebihan berat badan.
3. Memiliki nilai kekeluargaan serta mengajarkan keluarga untuk terbiasa mengonsumsi makanan rumah yang sehat.
4. Makanan rumah jauh lebih sehat untuk dikonsumsi dan lebih sedikit kemungkinan terkontaminasi bakteri atau mikroorganisme lainnya karena berada di dalam rumah dan tertutup.
5. Rasa yang dimiliki lebih sesuai dengan citarasa pribadi dan kesegarannya lebih terjaga karena langsung dibuat, sehingga vitamin dan mineral yang terkandung dalam makanan tersebut tidak hilang.
6. Jika makanannya digoreng maka minyak yang digunakan umumnya masih baru atau tidak dipakai berkali-kali, karena minyak yang digunakan berulang-ulang hingga warnanya menjadi hitam bisa berbahaya bagi kesehatan.
7. Umumnya biaya yang dikeluarkan untuk membuat makanan rumah lebih murah.
Vera Farah Bararah - detikHealth

Makanan yang Merusak Tubuh Dalam Hitungan Detik dan Menit

Jakarta,AN Uyung Pramudiarja - detikHealth Berbagai ancaman bagi kesehatan bisa ditemukan dalam makanan sehari-hari mulai dari gula, garam hingga lemak jahat. Masing-masing butuh waktu yang berbeda untuk menimbulkan kerusakan mulai dari hitungan detik hingga menit.

Kerusakan pada bagian-bagian tertentu di dalam tubuh bisa terjadi hanya dalam hitungan jam, bahkan menit. Bahan-bahan yang biasa dikonsumsi sehari-hari lewat makanan dan minuman akan memicu kerusakan, tentunya jika dikonsumsi secara berlebihan.

Seberapa cepat kerusakan itu terjadi, berikut perbandingannya seperti dikutip dari Dailymail, Selasa (15/3/2011).

Rokok: 3 detik
Untuk mencapai paru-paru, asap rokok hanya butuh waktu sekitar 3 detik dan langsung memacu jantung untuk bekerja lebih keras dalam memompa darah. Tekanan yang meningkat akibat kerja jantung yang berlebihan dapat memicu serangan jantung dan stroke bagi yang punya risiko.

Gula: 2 menit
Bahkan sebelum ditelan, gula sudah memicu kerusakan pada lapisan enamel gigi karena dalam 2 menit bisa memicu pertumbuhan bakteri jahat di rongga mulut. Begitu ditelan, 20 sendok teh gula bisa mengurangi kemampuan sel darah putih untuk membasmi bakteri jahat penyebab penyakit hanya dalam 2-5 jam sesudahnya.

Alkohol: 6 menit
Dalam waktu 6 menit, 1 liter bir atau 3 gelas anggur beralkohol sudah bisa menyebabkan kerusakan otak meski sifatnya reversibel alias tidak permanen. Jika dilanjutkan sampai mabuk dan dilakukan terlalu sering, maka kerusakannya akan menjadi permanen.

Garam: 30 menit
Makanan asin bisa memicu pengerasan pembuluh darah arteri alias nadi hanya dalam 30 menit setelah ditelan. Dampak lain dari kelebihan garam adalah terserapnya cairan ke pembuluh darah sehingga tekanannya naik lalu meningkatkan risiko stroke dan serangan jantung.

Kafein: 30 menit
Setengah jam setelah minum kopi, tekanan dan aliran darah ke otot akan meningkat sehingga menjadi lebih berstamina karena ada pelepasan hormon adrenalin. Sebaliknya, aliran darah ke organ lain selain otot akan berkurang, sehingga mengurangi kinerjanya.

Lemak jahat: 45 menit
Kandungan lemak jenuh pada keju, biskuit dan jenis makanan lainnya bisa meningkatkan risiko penggumpalan darah dalam waktu kurang dari 1 jam. Dampaknya tentu saja adalah penyumbatan pembuluh darah yang bisa memicu serangan jantung. Kabar baiknya, lemak tak jenuh dan asam lemak omega-3 pada kacang-kacangan dan minyak ikan bisa menetralisir efek lemak jenuh

Fun Bike "Bike For Nature " Minggu 27 Maret 2011.

Kembali event fun bike yang memanjakan para pesepeda yaitu Fun Bike dengan tema Bike For Nature pada hari Minggu 27 Maret 2011.
Start jam 07.00 dari Gedung Kompas Gramedia Jl Palmerah Selatan No. 26-28 dan finish di Gandaria City Jl. Sultan Iskandar Muda, Arteri Pondok Indah.
Dengan semakin seringnya acara fun bike seperti ini diharapkan makin menggugah kesadaran kita tentang pelestarian lingkungan hidup.
Selain sehat yang didapat, para peserta Fun Bike juga dapat kesempatan untuk memenangkan berbagai doorprize yang sangat menarik. Untuk mengikuti acar ini, peserta cukup membayar harga tiket sebesar Rp 30.000. Dengan biaya tersebut, peserta memperoleh kaos jersey, snack, dan minuman.

Doorprize :
10 Sepeda Polygon Royale Series 40 Sepeda Polygon 5 TV LCD 32″ 3 Kamera Digital
5 E-Book Reader 20 Langganan Kompas Setahun 1000 Tiket Nonton Bioskop

Untuk informasi hubungi :
Markom Kompas 021 – 5367 9909 Ext.6311
Tempat Pembelian Tiket :
Markom Kompas Palmerah 021 – 5367 9909 Ext.6323
Gandaria City 021 – 2905 2888