Antibiotik mampu membunuh bakteri penyakit
. Tapi penggunaan antibiotik yang tidak tepat bisa membuat antibiotik dari obat yang menyembuhkan menjadi obat yang membayakan.
Antibiotik bisa jadi adalah obat yang paling sering diresepkan oleh para dokter, tapi sayangnya banyak yang tidak tepat pemberiannya. Waspadai ancaman penggunaan antibiotik yang tidak tepat.
Prof Iwan Dwiprahasto selaku guru besar farmakologi UGM menuturkan penggunaan antibiotik yang tidak tepat bisa membahayakan kesehatan masyarakat secara global maupun individu. Bentuk penyalahgunaannya cukup beragam mulai dari tidak tepat memilih jenis antibiotik hingga cara dan lamanya pemberian.
"Kebiasaan memberikan antibiotik dengan dosis yang tidak tepat serta waktu pemberian yang terlalu singkat atau terlalu lama akan menimbulkan masalah resistensi yang cukup serius," ujar Prof Iwan dalam acara workshop jurnalis kesehatan di gedung FISIP UI, Depok, Sabtu (26/3/2O11).
Senada dengan Prof Iwan, perwakilan World Health Organization Dr Sharad Adhikary juga menuturkan antibiotik memang obat yang telah menyelamatkan banyak jiwa, tapi tidak bisa menyembuhkan semua macam penyakit. Antibiotik hanya dapat menyembuhkan penyakit akibat infeksi bakteri.
Antibiotik kerap dibeli tanpa resep dan tanpa penjelasan, masyarakat biasanya membeli antibiotik dengan menggunakan resep sebelumnya. Padahal antibiotik harus melalui resep dan berdasarkan indikasi yang muncul.
"Jika digunakan berlebihan, bakteri bisa bermutasi sehingga jadi kebal. Jika semua kebal maka bisa menimbulkan superbug dan bisa-bisa nantinya kita kembali ke era sebelum ada antibiotik," ujar Dr Sharad.
Dr. Sharad menuturkam masalah kekebalan terhadap antibiotik bukanlah masalah baru, tapi lama kelamaan semakin mengkhawatirkan dan berbahaya. WHO pada tahun 1998 telah mulai meminta negara-negara anggotanya untuk mengatasi masalah hal ini.
Infeksi virus seperti demam, flu, batuk pilek, radang tenggorokan dan beberapa infeksi telinga merupakan infeksi yang tidak boleh diobati dengan antibiotik. Hal ini karena antibiotik membunuh bakteri dan tidak membunuh virus.
Antibiotik membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri yang peka. Tapi kadang salah satu bakteri dapat bertahan hidup karena mampu menetralisir atau menghindar dari efek antibiotik. Bakteri yang semula hanya peka bisa menjadi kebal melalui perubahan genetik di dalam selnya sehingga menjadi resisten terhadap antibiotik.
Untuk menghindari penyalahgunaan antibiotik, ada beberapa hal yang bisa dilakukan yaitu:
1. Gunakan antibiotik hanya dengan resep dokter, dengan dosis dan jangka waktu sesuai resep.
2. Tanyakan pada dokter obat mana yang mengandung antibiotik dan apa manfaatnya.
3. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat bisa menurunkan efektifitas.
4. Demam, batuk, pilek dan diare umumnya tak perlu antibiotik. Hanya perlu makan makanan bergizi, minum dan istirahat. Jika dalam waktu 3 hari tidak sembuh, segera pergi ke dokter.
5. Jangan gunakan atau beli antibiotik dari dokter atau menggunakan resep lama.
6. Penggunaan antibiotik yang sembarangan bisa merugikan diri sendiri.
7. Meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat mengenai antibiotik.
8. Memperbaiki perilaku tentang penggunaan antibiotik.
9. Mencegah dan menghindari penggunaan antibiotik yang berlebihan atau justru kurang.
"Masyarakat sebaiknya tidak mengobati diri sendiri, dan jangan mengonsumsi obat yang tidak diperlukan serta minumlah obat sesuai dosisnya," ujar Dr Sharad. Vera Farah Bararah - detikHealth
Kamis, 07 April 2011
'Dosa Besar Jika Puyer Bayi Dicampur Antibiotik'
Jakarta, Obat bayi umumnya diberikan dalam bentuk puyer yang mengandung beberapa jenis obat, salah satunya adalah antibiotik. Padahal antibiotik tidak boleh dicampurkan dengan obat lain.
"Obat antibiotik tidak boleh dicampur di dalam obat puyer dan harus terpisah, dosa besar itu," ujar Prof Iwan Dwi Prahasto dalam acara jumpa pers seminar 'Antimicrobial Resistance-Containment and Prevention' di Balai Kartini, Jakarta, Kamis (7/4/2011).
Prof Iwan menuturkan sekitar 47-68 persen antibiotik dicampur dengan obat lainnya dalam bentuk puyer. Kondisi ini masih ditemukan di pelayanan kesehatan primer seperti Puskesmas, dokter praktek swasta dan juga klinik.
"Dalam obat puyer tersebut biasanya antibiotik dicampur dengan obat analtetik atau analgesik lainnya," imbuh Prof Iwan.
Prof Iwan menyarankan masyarakat agar jangan mau diresepkan obat puyer, kalau pun harus menggunakan obat puyer tanyakan apakah mengandung antibiotik atau tidak serta lebih baik menghancurkannya sendiri.
Antibiotik seharusnya dikonsumsi sampai habis, tapi jika dicampur bersama dengan obat lain dalam bentuk puyer maka pemberian obat akan dihentikan saat gejalanya sudah hilang. Hal ini menyebabkan dosis antibiotik tidak dikonsumsi dengan tepat dan dapat memicu terjadinya resistensi.
Hal-hal lain yang menjadi masalah dalam obat puyer adalah kebersihan (apakah menggunakan masker dan sarung tangan saat meracik), dosis yang umumnya tidak sama tiap bungkus, homogenitas, higroskopis, penyerapan obat yang berbeda di dalam lambung, keterampilan serta interaksi antar obat.
Prof Iwan menuturkan interaksi antar obat bisa bermacam-macam seperti saling menguatkan, kadar obat lain ditekan, pengobatan menjadi tidak efektif, pengobatan menjadi beracun hingga kegagalan pengobatan.
Antibiotik banyak diberikan untuk diare dan ISPA
Berdasarkan studi yang dilakukan tahun 2004 oleh UGM dan juga Bank Dunia terhadap 5 provinsi di Indonesia yaitu Kalimantan Timur, Sumatera Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat dan Jawa Timur menemukan bahwa 87 persen pasien diare diberikan antibiotik dan 92-94 persen pasien ISPA diberikan antibiotik.
Rata-rata masyarakat hanya mengonsumsi antibiotik selama 1,2-2,7 hari. Kondisi ini ditemukan pada layanan kesehatan dasar seperti Puskesmas, dokter swasta dan juga klinik.
"Hal ini berarti sudah tidak tepat, pasien juga tidak mengonsumsinya dengan benar," ujarnya.
Prof Iwan menuturkan saat ini jika seseorang memiliki demam, batuk, pilek langsung dikasih antibiotik tanpa melihat mikrobanya, padahal antibiotik harus diberikan sesuai dengan bakteri yang menjadi penyebab penyakit tersebut.
"Masyarakat sebaiknya secara sadar untuk tidak membeli obat atau mengobati diri sendiri dan menanyakan setiap jenis obat yang diterimanya. Pada umumnya pilek, batuk dan diare tidak perlu antibiotik," ujar Menkes dr Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, DrPH .
Untuk mengendalikan penggunaan antibiotik yang tidak rasional ini telah diluncurkan buku Panduan Penggunaan Antibiotik untuk Rumah Sakit dan Fasilitas Kesehatan yang disusun oleh Kementerian Kesehatan.Vera Farah Bararah - detikHealth (ver/ir)
"Obat antibiotik tidak boleh dicampur di dalam obat puyer dan harus terpisah, dosa besar itu," ujar Prof Iwan Dwi Prahasto dalam acara jumpa pers seminar 'Antimicrobial Resistance-Containment and Prevention' di Balai Kartini, Jakarta, Kamis (7/4/2011).
Prof Iwan menuturkan sekitar 47-68 persen antibiotik dicampur dengan obat lainnya dalam bentuk puyer. Kondisi ini masih ditemukan di pelayanan kesehatan primer seperti Puskesmas, dokter praktek swasta dan juga klinik.
"Dalam obat puyer tersebut biasanya antibiotik dicampur dengan obat analtetik atau analgesik lainnya," imbuh Prof Iwan.
Prof Iwan menyarankan masyarakat agar jangan mau diresepkan obat puyer, kalau pun harus menggunakan obat puyer tanyakan apakah mengandung antibiotik atau tidak serta lebih baik menghancurkannya sendiri.
Antibiotik seharusnya dikonsumsi sampai habis, tapi jika dicampur bersama dengan obat lain dalam bentuk puyer maka pemberian obat akan dihentikan saat gejalanya sudah hilang. Hal ini menyebabkan dosis antibiotik tidak dikonsumsi dengan tepat dan dapat memicu terjadinya resistensi.
Hal-hal lain yang menjadi masalah dalam obat puyer adalah kebersihan (apakah menggunakan masker dan sarung tangan saat meracik), dosis yang umumnya tidak sama tiap bungkus, homogenitas, higroskopis, penyerapan obat yang berbeda di dalam lambung, keterampilan serta interaksi antar obat.
Prof Iwan menuturkan interaksi antar obat bisa bermacam-macam seperti saling menguatkan, kadar obat lain ditekan, pengobatan menjadi tidak efektif, pengobatan menjadi beracun hingga kegagalan pengobatan.
Antibiotik banyak diberikan untuk diare dan ISPA
Berdasarkan studi yang dilakukan tahun 2004 oleh UGM dan juga Bank Dunia terhadap 5 provinsi di Indonesia yaitu Kalimantan Timur, Sumatera Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat dan Jawa Timur menemukan bahwa 87 persen pasien diare diberikan antibiotik dan 92-94 persen pasien ISPA diberikan antibiotik.
Rata-rata masyarakat hanya mengonsumsi antibiotik selama 1,2-2,7 hari. Kondisi ini ditemukan pada layanan kesehatan dasar seperti Puskesmas, dokter swasta dan juga klinik.
"Hal ini berarti sudah tidak tepat, pasien juga tidak mengonsumsinya dengan benar," ujarnya.
Prof Iwan menuturkan saat ini jika seseorang memiliki demam, batuk, pilek langsung dikasih antibiotik tanpa melihat mikrobanya, padahal antibiotik harus diberikan sesuai dengan bakteri yang menjadi penyebab penyakit tersebut.
"Masyarakat sebaiknya secara sadar untuk tidak membeli obat atau mengobati diri sendiri dan menanyakan setiap jenis obat yang diterimanya. Pada umumnya pilek, batuk dan diare tidak perlu antibiotik," ujar Menkes dr Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, DrPH .
Untuk mengendalikan penggunaan antibiotik yang tidak rasional ini telah diluncurkan buku Panduan Penggunaan Antibiotik untuk Rumah Sakit dan Fasilitas Kesehatan yang disusun oleh Kementerian Kesehatan.Vera Farah Bararah - detikHealth (ver/ir)
Selasa, 05 April 2011
Donor Darah di Taman Mini Kamis, 7 April 2011
Bagi yang mau donor bisa ke Taman Mini Indonesia Indah (sekalian rekreasi juga) pada hari Kamis 7 APril 2011 jam 09 sd 12 . Acara ini dalam rangka memperingati HUT TMII
Informasi hub 8409214, 8409210
Informasi hub 8409214, 8409210
Obat Kanker Minim Efek Samping Harganya Masih Terlalu Mahal
Jakarta, Keluhan umum pada pasien kanker yang sedang menjalani pengobatan adalah efek samping, mulai dari rambut rontok hingga tidak doyan makan. Efek samping tersebut bisa diminimalkan dengan targeted therapy, hanya saja harganya masih mahal.
Selain dengan operasi pengangkatan dan radioterapi, penanganan kanker banyak dilakukan dengan obat-obatan yang disebut chemotherapy. Prinsipnya adalah memasukkan senyawa kimia (chemical) ke dalam tubuh untuk mematikan sel kanker maupun sekedar menghambat pertumbuhannya.
Meski ampuh, pengobatan dengan cara ini terkenal dengan efek sampingnya yang cukup menyiksa. Karena sifatnya kurang selektif, obat ini akan membunuh semua sel tubuh yang karakternya mirip ciri kanker yakni membelah diri dengan cepat misalnya rambut.
Akibatnya rambut di seluruh tubuh mengalami kerontokan, termasuk alis dan bulu mata. Celakanya lagi obat-obat kemoterapi yang sudah disuntikkan akan menyebar ke seluruh tubuh sehingga jika yang diobati misalnya kanker payudara, rambut di kepala ikut merasakan efek sampingnya.
Berkat perkembangan teknologi pengobatan, efek samping chemotherapy sangat menyiksa itu kini bisa diminimalkan dengan terapi terbaru yang disebut targeted therapy. Prinsipnya sama dengan chemotherapy, hanya saja aksi obat tidak akan menyebar ke seluruh tubuh.
Targeted therapy memiliki reseptor yang menentukan di mana obat akan bekerja, sehingga efek sampingnya hanya muncul di sekitar lokasi kanker. Cara kerjanya menyerupai antibodi alami tubuh manusia sehingga bisa digolongkan sebagai monoclonal antibody.
Satu-satunya kekurangan dari targeted therapy adalah harganya yang sangat mahal, karena semuanya masih dilindungi paten. Dibandingkan dengan harga obat-obatan chemotherapy, harga obat-obatan targeted therapy rata-rata mencapai 2 kali lipatnya.
"Katakanlah satu ampul obat chemotherapy harganya Rp 900 ribu, sekali suntik 7 ampul. Penggunaannya tiap 3 minggu, rata-rata sampai 6 kali penyuntikan. Obat untuk targeted therapy harganya bisa Rp 3 juta/ampul dan sekali suntik butuh 3-4 ampul," ungkap dr Joni Fauzi, Deputi Direktur Ethical PT Kalbe Farma dalam bincang-bincang dengan media di Penang Bistro, Menteng, Jakarta, Selasa (5/4/2011).
Mengingat harga obat-obat targeted therapy masih sangat tinggi, pasien kanker masih bisa mengandalkan obat-obat chemotherapy. Untuk mengatasi efek samping yang muncul, saat ini juga banyak perusahaan farmasi yang memproduksi obat kanker lainnya yakni supporting therapy.
Obat-obat supporting therapy memang ditujukan untuk mengurangi penderitaan pasien kanker akibat efek samping chemoterapy. Jenisnya bermacam-macam, umumnya berupa tambahan nutrisi mengingat salah satu efek samping chemoterapy adalah tidak doyan makan. AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Selain dengan operasi pengangkatan dan radioterapi, penanganan kanker banyak dilakukan dengan obat-obatan yang disebut chemotherapy. Prinsipnya adalah memasukkan senyawa kimia (chemical) ke dalam tubuh untuk mematikan sel kanker maupun sekedar menghambat pertumbuhannya.
Meski ampuh, pengobatan dengan cara ini terkenal dengan efek sampingnya yang cukup menyiksa. Karena sifatnya kurang selektif, obat ini akan membunuh semua sel tubuh yang karakternya mirip ciri kanker yakni membelah diri dengan cepat misalnya rambut.
Akibatnya rambut di seluruh tubuh mengalami kerontokan, termasuk alis dan bulu mata. Celakanya lagi obat-obat kemoterapi yang sudah disuntikkan akan menyebar ke seluruh tubuh sehingga jika yang diobati misalnya kanker payudara, rambut di kepala ikut merasakan efek sampingnya.
Berkat perkembangan teknologi pengobatan, efek samping chemotherapy sangat menyiksa itu kini bisa diminimalkan dengan terapi terbaru yang disebut targeted therapy. Prinsipnya sama dengan chemotherapy, hanya saja aksi obat tidak akan menyebar ke seluruh tubuh.
Targeted therapy memiliki reseptor yang menentukan di mana obat akan bekerja, sehingga efek sampingnya hanya muncul di sekitar lokasi kanker. Cara kerjanya menyerupai antibodi alami tubuh manusia sehingga bisa digolongkan sebagai monoclonal antibody.
Satu-satunya kekurangan dari targeted therapy adalah harganya yang sangat mahal, karena semuanya masih dilindungi paten. Dibandingkan dengan harga obat-obatan chemotherapy, harga obat-obatan targeted therapy rata-rata mencapai 2 kali lipatnya.
"Katakanlah satu ampul obat chemotherapy harganya Rp 900 ribu, sekali suntik 7 ampul. Penggunaannya tiap 3 minggu, rata-rata sampai 6 kali penyuntikan. Obat untuk targeted therapy harganya bisa Rp 3 juta/ampul dan sekali suntik butuh 3-4 ampul," ungkap dr Joni Fauzi, Deputi Direktur Ethical PT Kalbe Farma dalam bincang-bincang dengan media di Penang Bistro, Menteng, Jakarta, Selasa (5/4/2011).
Mengingat harga obat-obat targeted therapy masih sangat tinggi, pasien kanker masih bisa mengandalkan obat-obat chemotherapy. Untuk mengatasi efek samping yang muncul, saat ini juga banyak perusahaan farmasi yang memproduksi obat kanker lainnya yakni supporting therapy.
Obat-obat supporting therapy memang ditujukan untuk mengurangi penderitaan pasien kanker akibat efek samping chemoterapy. Jenisnya bermacam-macam, umumnya berupa tambahan nutrisi mengingat salah satu efek samping chemoterapy adalah tidak doyan makan. AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Hanya Rambut dan Kuku, Bagian Tubuh yang Kebal Kanker
Jakarta, Hampir seluruh bagian tubuh manusia mulai dari darah, otak, mata, paru-paru, kulit hingga tulang belulang bisa terkena kanker. Jika ada bagian tubuh yang tidak mungkin terkena kanker, maka bagian itu hanyalah rambut dan kuku.
"Rambut dan kuku tidak bisa kena kanker karena merupakan jaringan mati, makanya bisa dipotong," ungkap dr Joni Fauzi, Deputi Direktur Ethical PT Kalbe Farma dalam bincang-bincang dengan media di Penang Bistro, Menteng, Jakarta, Selasa (5/4/2011).
Menurut dr Joni, selain di kedua bagian tubuh tersebut kanker bisa menyerang bagian manapun pada tubuh manusia. Paru-paru termasuk bagian tubuh paling banyak diserang kanker, dengan angka kematian tertinggi di tahun 2008 yakni 1,4 juta jiwa di seluruh dunia.
Data organisasi kesehatan dunia WHO tahun 2008 menempatkan perut di peringkat kedua bagian tubuh paling banyak diserang kanker, dengan tingkat kematian 740.000 jiwa. Berturut-turut di bawahnya adalah hati (700.000 kematian), kolorektal (610.000 kematian) dan payudara (460.000 kematian).
Lebih parahnya, hingga saat ini penyebab kanker belum pernah bisa dipastikan meski banyak yang mengaitkannya dengan polusi dan gaya hidup. Pengaruh faktor genetik juga sering disebut-sebut, namun banyak yang mengangapnya peranannya tidak terlalu besar.
"Saya pikir faktor genetik tidak terlalu besar peranannya. Ambil contoh zaman dahulu kakek-neneknya tidak ada yang punya riwayat terkena kanker, sekarang anak cucunya bisa saja tiba-tiba terkena kanker," tambah dr Joni.
Satu-satunya jenis kanker yang sudah mendapat titik terang soal faktor pemicunya hanyalah kanker serviks atau leher rahim, yang salah satunya dipicu oleh infeksi Human Papiloma Virus (HPV). Oleh karena itu jenis kanker yang hanya menyerang kaum perempuan ini risikonya sudah bisa dikurangi dengan pemberian vaksin HPV. AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
"Rambut dan kuku tidak bisa kena kanker karena merupakan jaringan mati, makanya bisa dipotong," ungkap dr Joni Fauzi, Deputi Direktur Ethical PT Kalbe Farma dalam bincang-bincang dengan media di Penang Bistro, Menteng, Jakarta, Selasa (5/4/2011).
Menurut dr Joni, selain di kedua bagian tubuh tersebut kanker bisa menyerang bagian manapun pada tubuh manusia. Paru-paru termasuk bagian tubuh paling banyak diserang kanker, dengan angka kematian tertinggi di tahun 2008 yakni 1,4 juta jiwa di seluruh dunia.
Data organisasi kesehatan dunia WHO tahun 2008 menempatkan perut di peringkat kedua bagian tubuh paling banyak diserang kanker, dengan tingkat kematian 740.000 jiwa. Berturut-turut di bawahnya adalah hati (700.000 kematian), kolorektal (610.000 kematian) dan payudara (460.000 kematian).
Lebih parahnya, hingga saat ini penyebab kanker belum pernah bisa dipastikan meski banyak yang mengaitkannya dengan polusi dan gaya hidup. Pengaruh faktor genetik juga sering disebut-sebut, namun banyak yang mengangapnya peranannya tidak terlalu besar.
"Saya pikir faktor genetik tidak terlalu besar peranannya. Ambil contoh zaman dahulu kakek-neneknya tidak ada yang punya riwayat terkena kanker, sekarang anak cucunya bisa saja tiba-tiba terkena kanker," tambah dr Joni.
Satu-satunya jenis kanker yang sudah mendapat titik terang soal faktor pemicunya hanyalah kanker serviks atau leher rahim, yang salah satunya dipicu oleh infeksi Human Papiloma Virus (HPV). Oleh karena itu jenis kanker yang hanya menyerang kaum perempuan ini risikonya sudah bisa dikurangi dengan pemberian vaksin HPV. AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Take Action untuk Penderita Kanker Sabtu – Minggu 9-10 April 2011
Dalam moment yang sama memperingati ulang tahun ke 34 YKI akan mengadakan gerakan TAKE ACTION – KAMI BERTINDAK untuk mengajak masyarakat berjuang mengurangi penderita kanker dengan aktivitas yang nyata.
Acara hari Sabtu 9 April 2011 jam 16.00 – Minggu 10 April jam 10.00 wib, tempat Plaza Parkir Timur Senayan, Jakarta.
Program TAKE ACTION – BERTINDAK merupakan program yang melibatkan masyarakat dari mulai pendanaan sampai penyelenggaraan, tidak ada batas umur dari anak sampai lansia untuk ikut serta karena kanker juga tidak mengenal usia, menyerang kanak-kanak sampai dengan lansia.
Kegiatan ini mencakup 3 unsur:
1. BERSYUKUR: kami memanjatkan Puji Syukur ke hadapan Allah SWT karena kami masih dikaruniai hidup.
2. MENGENANG MEREKA YANG WAFAT
3. TERUSKAN PERJUANGAN
KAMI BERTINDAK menjadi nama program karena kami mewakili YKI dan masyarakat (KAMI = Kanker Ajal oleh Masyarakat Indonesia), program banyak mengutamakan kegiatan olah raga bagi para peserta. Karena dengan olahraga semangat berjuang terus dikembangkan untuk melawan kanker. Selain itu diadakan keramaian/hiburan bagi masyarakat.
Kegiatan ini tidak menerima sponsor dari industri rokok dan minuman beralkohol. Hub YKI Lebak Bulus: 021 750 7447 atau 021 7690704 , YKI Sam Ratulangi 021 3152603 eks.111 atau 0812 944 9133.
Acara hari Sabtu 9 April 2011 jam 16.00 – Minggu 10 April jam 10.00 wib, tempat Plaza Parkir Timur Senayan, Jakarta.
Program TAKE ACTION – BERTINDAK merupakan program yang melibatkan masyarakat dari mulai pendanaan sampai penyelenggaraan, tidak ada batas umur dari anak sampai lansia untuk ikut serta karena kanker juga tidak mengenal usia, menyerang kanak-kanak sampai dengan lansia.
Kegiatan ini mencakup 3 unsur:
1. BERSYUKUR: kami memanjatkan Puji Syukur ke hadapan Allah SWT karena kami masih dikaruniai hidup.
2. MENGENANG MEREKA YANG WAFAT
3. TERUSKAN PERJUANGAN
KAMI BERTINDAK menjadi nama program karena kami mewakili YKI dan masyarakat (KAMI = Kanker Ajal oleh Masyarakat Indonesia), program banyak mengutamakan kegiatan olah raga bagi para peserta. Karena dengan olahraga semangat berjuang terus dikembangkan untuk melawan kanker. Selain itu diadakan keramaian/hiburan bagi masyarakat.
Kegiatan ini tidak menerima sponsor dari industri rokok dan minuman beralkohol. Hub YKI Lebak Bulus: 021 750 7447 atau 021 7690704 , YKI Sam Ratulangi 021 3152603 eks.111 atau 0812 944 9133.
Ikuti Jalan Kaki Semalam Suntuk Sabtu 9 April 2011
Jalan Kaki Semalam Suntuk untuk Mengenang Korban Kanker
Jakarta, Obesitas dan kurang gerak merupakan faktor risiko yang menyumbang 30 persen kasus kanker di seluruh dunia. Untuk mengingatkan bahaya kanker, Yayasan Kanker Indonesia menggelar aksi jalan kaki semalam suntuk dari jam 7 malam hingga jam 7 pagi (12 jam) dan pelepasan lampion pada 9-10 April 2011.
Aksi ini digelar sebagai perayaan hari ulang tahun ke-34 Yayasan Kanker Indonesia (YKI) yang sebenarnya jatuh pada tanggal 17 April 2011. Dengan mengambil tema 'Kami Bertindak!', acara ini digelar serentak di 2 kota yakni Jakarta dan Yogyakarta.
Peserta jalan kaki semalam suntuk ini tak lain adalah para survivor atau mantan penderita kanker yang berhasil sembuh, serta keluarga dari mantan penderita yang sudah meninggal. Tujuannya tak lain untuk mengenang betapa beratnya bertahan hidup saat menderita kanker.
"Bagi kami para survivor, jalan kaki semalam suntuk tidak ada apa-apanya dibandingkan perjuangan melawan ganasnya sel-sel kanker," ungkap ketua panitia 'Kami Bertindak!', Enny Hardjanto yang juga seorang survivor kanker payudara stadium 4, dalam jumpa pers di kantor YKI, Menteng, Jakarta, Selasa (5/4/2011).
Tak hanya berjalan kaki, para peserta juga akan menerbangkan ratusan lampion yang ditulisi nama-nama para pasien kanker yang sudah meninggal. Penerbangan lampion akan dilakukan pukul 20.00 diiringi lagu Lilin-lilin Kecil yang dipopulerkan oleh Chrisye, penyanyi yang juga meninggal karena kanker.
Bisa dibilang, penerbangan lampion ini merupakan acara penggalangan dana karena ada sumbangan dana sukarela untuk setiap lampion yang diterbangkan. Siapapun boleh menerbangkan lampion, terutama para keluarga yang ingin mengenang anggota keluarganya yang meninggal karena kanker.
Di Jakarta, acara akan dipusatkan di Lapangan Blok-S, Kebayoran Baru dengan target peserta sekitar 500 orang. Meski akan banyak dihadiri para survivor dan keluarga pasien kanker yang sudah meninggal, acara ini juga terbuka bagi masyarakat umum yang peduli akan bahaya kanker.
Acara jalan kaki semalam suntuk itu dengan rute mengitari Lapangan Blok-S akan dimulai Sabtu (9/4/2011) pukul 19.00 WIB dan berakhir Minggu (10/4/2011) pukul 07.00 WIB. Acara jalan kaki semalam suntuk juga akan dimeriahkan dengan pasar malam yang juga ditujukan untuk penggalangan dana.Bai yang ingin ikutan hub YKI 021 750 7447 atau 021 7690704
Tahun depan, diharapkan acara yang baru pertama kali ini digelar bisa diselenggarakan secara serentak di 26 cabang YKI di seluruh Indonesia. AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Jakarta, Obesitas dan kurang gerak merupakan faktor risiko yang menyumbang 30 persen kasus kanker di seluruh dunia. Untuk mengingatkan bahaya kanker, Yayasan Kanker Indonesia menggelar aksi jalan kaki semalam suntuk dari jam 7 malam hingga jam 7 pagi (12 jam) dan pelepasan lampion pada 9-10 April 2011.
Aksi ini digelar sebagai perayaan hari ulang tahun ke-34 Yayasan Kanker Indonesia (YKI) yang sebenarnya jatuh pada tanggal 17 April 2011. Dengan mengambil tema 'Kami Bertindak!', acara ini digelar serentak di 2 kota yakni Jakarta dan Yogyakarta.
Peserta jalan kaki semalam suntuk ini tak lain adalah para survivor atau mantan penderita kanker yang berhasil sembuh, serta keluarga dari mantan penderita yang sudah meninggal. Tujuannya tak lain untuk mengenang betapa beratnya bertahan hidup saat menderita kanker.
"Bagi kami para survivor, jalan kaki semalam suntuk tidak ada apa-apanya dibandingkan perjuangan melawan ganasnya sel-sel kanker," ungkap ketua panitia 'Kami Bertindak!', Enny Hardjanto yang juga seorang survivor kanker payudara stadium 4, dalam jumpa pers di kantor YKI, Menteng, Jakarta, Selasa (5/4/2011).
Tak hanya berjalan kaki, para peserta juga akan menerbangkan ratusan lampion yang ditulisi nama-nama para pasien kanker yang sudah meninggal. Penerbangan lampion akan dilakukan pukul 20.00 diiringi lagu Lilin-lilin Kecil yang dipopulerkan oleh Chrisye, penyanyi yang juga meninggal karena kanker.
Bisa dibilang, penerbangan lampion ini merupakan acara penggalangan dana karena ada sumbangan dana sukarela untuk setiap lampion yang diterbangkan. Siapapun boleh menerbangkan lampion, terutama para keluarga yang ingin mengenang anggota keluarganya yang meninggal karena kanker.
Di Jakarta, acara akan dipusatkan di Lapangan Blok-S, Kebayoran Baru dengan target peserta sekitar 500 orang. Meski akan banyak dihadiri para survivor dan keluarga pasien kanker yang sudah meninggal, acara ini juga terbuka bagi masyarakat umum yang peduli akan bahaya kanker.
Acara jalan kaki semalam suntuk itu dengan rute mengitari Lapangan Blok-S akan dimulai Sabtu (9/4/2011) pukul 19.00 WIB dan berakhir Minggu (10/4/2011) pukul 07.00 WIB. Acara jalan kaki semalam suntuk juga akan dimeriahkan dengan pasar malam yang juga ditujukan untuk penggalangan dana.Bai yang ingin ikutan hub YKI 021 750 7447 atau 021 7690704
Tahun depan, diharapkan acara yang baru pertama kali ini digelar bisa diselenggarakan secara serentak di 26 cabang YKI di seluruh Indonesia. AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Langganan:
Postingan (Atom)