Minggu, 03 Juli 2011

'Dosa Besar Jika Puyer Bayi Dicampur Antibiotik'

Jakarta, Obat bayi umumnya diberikan dalam bentuk puyer yang mengandung beberapa jenis obat, salah satunya adalah antibiotik. Padahal antibiotik tidak boleh dicampurkan dengan obat lain.

"Obat antibiotik tidak boleh dicampur di dalam obat puyer dan harus terpisah, dosa besar itu," ujar Prof Iwan Dwi Prahasto dalam acara jumpa pers seminar 'Antimicrobial Resistance-Containment and Prevention' di Balai Kartini, Jakarta, Kamis (7/4/2011).

Prof Iwan menuturkan sekitar 47-68 persen antibiotik dicampur dengan obat lainnya dalam bentuk puyer. Kondisi ini masih ditemukan di pelayanan kesehatan primer seperti Puskesmas, dokter praktek swasta dan juga klinik.

"Dalam obat puyer tersebut biasanya antibiotik dicampur dengan obat analtetik atau analgesik lainnya," imbuh Prof Iwan.

Prof Iwan menyarankan masyarakat agar jangan mau diresepkan obat puyer, kalau pun harus menggunakan obat puyer tanyakan apakah mengandung antibiotik atau tidak serta lebih baik menghancurkannya sendiri.

Antibiotik seharusnya dikonsumsi sampai habis, tapi jika dicampur bersama dengan obat lain dalam bentuk puyer maka pemberian obat akan dihentikan saat gejalanya sudah hilang. Hal ini menyebabkan dosis antibiotik tidak dikonsumsi dengan tepat dan dapat memicu terjadinya resistensi.

Hal-hal lain yang menjadi masalah dalam obat puyer adalah kebersihan (apakah menggunakan masker dan sarung tangan saat meracik), dosis yang umumnya tidak sama tiap bungkus, homogenitas, higroskopis, penyerapan obat yang berbeda di dalam lambung, keterampilan serta interaksi antar obat.

Prof Iwan menuturkan interaksi antar obat bisa bermacam-macam seperti saling menguatkan, kadar obat lain ditekan, pengobatan menjadi tidak efektif, pengobatan menjadi beracun hingga kegagalan pengobatan.

Antibiotik banyak diberikan untuk diare dan ISPA

Berdasarkan studi yang dilakukan tahun 2004 oleh UGM dan juga Bank Dunia terhadap 5 provinsi di Indonesia yaitu Kalimantan Timur, Sumatera Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat dan Jawa Timur menemukan bahwa 87 persen pasien diare diberikan antibiotik dan 92-94 persen pasien ISPA diberikan antibiotik.

Rata-rata masyarakat hanya mengonsumsi antibiotik selama 1,2-2,7 hari. Kondisi ini ditemukan pada layanan kesehatan dasar seperti Puskesmas, dokter swasta dan juga klinik.

"Hal ini berarti sudah tidak tepat, pasien juga tidak mengonsumsinya dengan benar," ujarnya.

Prof Iwan menuturkan saat ini jika seseorang memiliki demam, batuk, pilek langsung dikasih antibiotik tanpa melihat mikrobanya, padahal antibiotik harus diberikan sesuai dengan bakteri yang menjadi penyebab penyakit tersebut.

"Masyarakat sebaiknya secara sadar untuk tidak membeli obat atau mengobati diri sendiri dan menanyakan setiap jenis obat yang diterimanya. Pada umumnya pilek, batuk dan diare tidak perlu antibiotik," ujar Menkes dr Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, DrPH .

Untuk mengendalikan penggunaan antibiotik yang tidak rasional ini telah diluncurkan buku Panduan Penggunaan Antibiotik untuk Rumah Sakit dan Fasilitas Kesehatan yang disusun oleh Kementerian Kesehatan. (ver/ir) Vera Farah Bararah - detikHealth

Ini Dia Penyebab Diare yang Muncul Usai Minum Antibiotik

Jakarta, Dalam kebanyakan kasus diare yang terjadi akibat antibiotik umumnya bersifat ringan seperti tinja menjadi lebih encer, frekuensi buang air besar (BAB) yang meningkat serta adanya dorongan yang lebih sering untuk ke kamar mandi. Kenapa habis minum antibiotok jadi diare?

Gejala ini akan berhenti setelah seseorang tidak lagi mengonsumsi obat tersebut. Diare yang disebabkan oleh antibiotik biasa disebut dengan antibiotic associated diarrhea (AAD).

Saluran pencernaan manusia terutama usus memiliki peran yang penting dalam proses pencernaan dan ekskresi. Usus ini diketahui mengandung bakteri baik (probiotik) dan juga jahat (bisa menyebabkan penyakit).

Pada kondisi tertentu antibiotik yang dikonsumsi turut membunuh bakteri baik yang terdapat di dalam usus, padahal bakteri ini bertugas membunuh mikroba yang tidak diinginkan.

Selain itu bisa juga antibiotik ini mengganggu proses metabolisme sehingga penyerapan asam lemak rantai pendek menjadi berkurang dan memicu diare. Umumnya diare terjadi jika seseorang mengonsumsi antibiotik dalam jangka waktu lama biasanya setelah 7-10 hari, seperti dikutip dari Buzzle, Senin (4/7/2011).

Beberapa obat antibiotik yang bisa menyebabkan diare atau AAD umumnya penicillin, clindamycin, cephalosporins, quinolones dan tetracyclines. Namun penggunaan obat ini memiliki reaksi yang berbeda-beda antar individu.

Jika antibiotik terus menerus dikonsumsi, maka gejala ringan yang muncul bisa menjadi lebih berat karena jumlah bakteri baik di dalam usus semakin berkurang. Gejala berat yang muncul meliputi sakit perut, demam, diare berair hingga darah dalam feses.

Gejala berat yang tidak ditangani dengan baik bisa memicu terjadinya colitis dan pseudomembranous colitis yang merupakan kasus radang usus besar. Untuk itu segera hentikan konsumsi antibiotik dan konsultasikan dengan dokter untuk meresepkan obat berbeda yang mengandung bakteri baik.

(ver/ir) Vera Farah Bararah - detikHealth

Launching Buku Menteri Kesehatan

Launching Buku Menteri Kesehatan Ibu Endang Rahayu, dr. Lula Kamal
hari Sabtu 9 Juli 2011 pk 10.30 - 12.30 di panggung utama istora senayan
Buku ini dari penerbit Mizan Pustaka

Donor Darah di hotel peninsula , Slipi

yang mau ikutan aksi amal donor darah, langsung aja meluncur
hari Selasa-Rabu 5-6 Juli 2011 jam 9-12
di hotel menara peninsula, Slipi jakarta barat.
biasanya ada bonus souvenir dari sponsor.

Senin, 27 Juni 2011

ayo nonton Pameran Flora - Fauna 2011

UNtuk menyegarkan bada dan pkiran dari segala gangguan penyakit serta stress
ayo nonton beramai-ramaiPameran Flora dan Fauna pada tanggal 21 Juni 2011 hingga 25 Juli 2011 tempatnya di Taman Lapangan Banteng Jakarta Pusat.
Acara-acaranya:
- Bursa Tanaman
- Kontes Tanaman dan Hewan
- Talkshow dan Seminar
- Taman Margastwa Ragunan
- Live music performance
- Atraksi Mini Remote Control

Informasi hubungi saja Winta : 021-36063291

Orang Perkotaan Berisiko Terkena Penyakit Mental

KlikDokter.com – Sebuah studi menunjukkan, bahwa hidup di kota meningkatkan risiko terkena gangguan mental, termasuk depresi dan skizofrenia atau gangguan jiwa, dibanding dengan orang yang tinggal di daerah. Penelitian dilakukan sekitar setengah dari orang-orang yang tinggal di perkotaan.

Penelitian yang dilakukan oleh Montreal Imaging Stress Task menunjukkan 12 persen penduduk kota lebih berisiko terkena gangguan mental dibandingkan dengan penduduk yang tinggal di pedesaan.

Lebih dari itu, terdapat juga risiko gangguan otak seperti skizofrenia atau gangguan jiwa, dengan paparan delusi dan halusinasi. Hasil penelitian menjelaskan kondisi penyakit skizofrenia dua kali lipat akan menyerang orang yang lahir dan dibesarkan di kota, dibandingkan orang yang dilahirkan dan dibesarkan di daerah non perkotaan.

Paparan stres setiap hari seperti, keadaan lalu lintas, polusi udara, akan memberikan dampak risiko terkena penyakit mental di kalangan penduduk kota. Menurut Jens Pruessner, direktur Pusat McGill University Montreal, Kanada, “stres tentu saja akan ada setiap harinya di lingkungan perkotaan dengan penyebab yang beragam, dibandingkan dengan orang yang tinggal di lingkungan pedesaan.”

Peneliti dilakukan dengan cara tes perhitungan yang dilakukan oleh peserta yang diambil dari perkotaan dan pedesaan. Ditambah juga pengambilan gambar dari otak menggunakan teknologi canggih yang tersedia.
Menurut Pruessner, hasil penelitian menunjukkan, bahwa hidup diperkotaan dikaitkan dengan respon stres yang sangat tinggi di wilayah otak, yang memengaruhi emosional dan suasana hati, serta di daerah otak kedua, yang disebut korteks cingulate, menunjukkan hubungan ke suasana hati yang negatif dan stres, ditemukan dan aktif pada orang yang dibesarkan di kota-kota.

Pruessner menjelaskan, “jadi, jika nanti seseorang tidak tinggal lagi di kota tetapi dulunya sudah tinggal di kota selama lebih dari 15 tahun, gangguan otak seperti yang dijelaskan diatas akan tetap ada mempengaruhi emosional dan suasana hati.”

“Untuk mengontrol stres, ia mengatakan, penduduk kota dapat mencoba meditasi yang bagus untuk saraf. Jika tidak membantu, ia merekomendasikan liburan akhir pekan,” ujarnya lebih lanjut.

Lebih jauh penelitian terus dikembangkan dengan tujuan membantu perencanaan kota yang lebih baik dan lebih kondusif untuk kesehatan mental.[](SN)

Waspadai Bakteri !

Kita hidup di tengah-tengah berbagai jenis bakteri yang tidak tampak. Inilah jenis-jenis bakteri yang mesti kita waspadai..
Escherichia coli
Bakteri E. coli dapat menyebabkan berbagai penyakit infeksi saluran pencernaan pada manusia, diantaranya adalah enterotoksigenik, enterohaemorrhagik, enteropatogenik, enteroinuasiue, dan enteroagregatif. Bakteri ini dapat berada dimana saja. Makan disaat kondisi tangan kotor juga dapat memicu hadirnya infeksi bakteri.
Staphylococcus Aureus
Jika terinfeksi bakteri Staphylococcus Aureus, maka potensi penyakit yang didapat pada tubuh manusia adalah infeksi saluran pernafasan, infeksi penyakit kulit, dan infeksi saluran pencernaan manusia. Bahan makanan yang disiapkan dengan kontak tangan langsung tanpa proses mencuci tangan, sangat berpotensi terkontaminasi S. aureus.
Salmonella
Diketahui terdapat 200 jenis dari 2.300 serotip Salmonella yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia. Salmonella bersifat patogen pada manusia dan hewan lainnya. Jika menginfeksi tubuh manusia, akan menyebabkan demam enterik dan gastroentritis.
Shigella
Bakteri Shigella dapat menyebabkan infeksi berbagai saluran pencernaan. Shigella biasa berada pada air yang terkontaminasi bahkan yang terlihat jernih sekalipun. Untuk membunuh bakteri ini, diperlukan lagi bantuan sabun antiseptik pada proses mencuci tangan. Sayuran segar yang tumbuh pada tanah terpolusi dapat menjadi faktor penyebab penyakit, seperti disentri basher atau shigellosis ang disebabkan oleh Shigella. Menurut USFDA (1999), diperkirakan 300.000 kasus shigellosis terjadi di Amerika Serikat setiap tahun.
Vibrio Cholerae
Sebagian besar bakteri Vibrio ditemukan di perairan air tawar atau air laut, serta merupakan bakteri patogen dalam budi daya ikan dan udang. Spesies Vibrio yang termasuk patogen adalah V. cholerae, V. parahaemolyticus, dan V. vulvinicus. Spesies V. chloreae dan V. parahaemolyticus merupakan sumber kontaminasi silang antara buah dan sayuran mentah, sedangkan V. vulvinicus penyebab infeksi pada manusia.
Enterobacter Sakazakii
Enterobacter sakazakii termasuk ke dalam famili Enterobacteriaceae. Acapkali ditemukan pada usus hewan, manusia dan lingkungannya. Bakteri sakazakii dapat menyebabkan wabah radang otak / meningitis dan diare / enteritis khususnya pada bayi. Klikdokter