Rabu, 28 September 2011

Fun Bike Speedy minggu 2 Oktober 2011

Dalam rangka memeriahkan pelaksanaan event Balap Sepeda Internasional Speedy Tour d’ Indonesia 2011, Telkom akan menyelenggarakan Fun Bike di kota-kota yang berada dalam lintasan race tersebut. Jadwal pelaksanaan di kota-kota tersebut adalah:
Fun Bike di Jakarta pada hari Minggu, 2 Oktober 2011. Start dari Plaza Selatan Gelora Bung Karno Senayan.
Terbuka untuk umum.
Tanggal pendaftaran : 15 September s/d 1 Oktober 2011.
Biaya pendaftaran : Rp.15.000/orang mendapatkan T-shirt dan soft drink.
Tempat Pendaftaran :
Parkir IRTI Monas (Ibu Wati), Telepon 08567848471
Rusun Tahap 3 Kemayoran Lantai 1709 (Ibu Nining), Telepon 021-92206203
Jl. Letjen. Suprapto No.38, Telepon 085888766630
Toko Sepeda Akong Kaya, Jl. Cempaka Baru 5, Telepon 08129696505
Hotline pendaftaran: 021-4251591 / 021-4251576
Door Prize: Yamaha Mio, TV, Mesin Cuci, Handphone, Modem, dan hadiah menarik lain

Tips Kesehatan

"Anda yang kebanyakan tidur sebaiknya mengurangi jam tidur, karena para peneliti menemukan bahwa salah satu penyebab pikun, terutama di masa tua ternyata karena kebanyakan tidur." detik health

Otak Manusia Tetap Bisa Belajar Sambil Tidur

East Lansing, Michigan, Guru manapun pasti tidak akan suka jika ada muridnya yang tertidur saat mengikuti pelajaran. Namun hasil penelitian terbaru mungkin bisa mengubah sikap para guru, sebab ternyata selama tertidur otak manusia masih tetap bisa belajar.

Sebuah penelitian yang dilakukan Prof Kimberly Fenn dari Michigan State University menunjukkan, tingkat ketenangan manusia saat tertidur berbeda-beda. Ada yang sangat tenang hingga benar-benar terlelap, ada yang masih gelisah karena diam-diam otaknya masih bekerja.

Pada orang-orang yang tidurnya tidak benar-benar tenang, salah satu bagian otak yang masih bekerja adalah sleeping memory atau memori tidur. Bagian ini bekerja di luar kesadaran manusia, sehingga tetap bisa mengolah informasi saat sedang terlelap.

"Ada bukti yang cukup kuat bahwa selama tidur otak masih tetap mengolah informasi tanpa disadari. Kemampuan ini dapat meningkatkan memori secara keseluruhan saat terbangun," ungkap Prof Fenn seperti dikutip dari Health24, Kamis (29/9/2011).

Kemampuan otak untuk menjalankan memori tidur diklaim merupakan sebuah temuan baru, karena selama ini belum terdefinisikan. Berbagai penelitian menunjukkan ada bagian otak yang tetap aktigf selama tidur, namun hanya menjalankan fungsi pengaturan dan bukan untuk mengolah informasi.

Fenn mengatakan, kemampuan ini juga berbeda-beda pada setiap individu, sehingga tidak semua orang bisa belajar sambil tidur. Belum ada metode untuk mengukur kemampuan ini, bahkan tes kecerdasan yang ada saat ini juga belum dapat mengukur kemampuan memori tidur.

Namun menurut Fenn, adanya kemampuan otak untuk menjalankan memori tidur bisa dijadikan alasan untuk memberikan waktu yang cukup untuk tidur. Artinya jangan anggap tidur hanya buang-buang waktu, sebab selama tidur otak masih akan tetap berpikir dan mengolah informasi.

"Sederhananya, meningkatkan kualitas tidur akan sangat meningkatkan prestasi belajar Anda di kelas," ungkap Fenn yang baru-baru ini melaporkan temuannya tersebut di Journal of Experimental Psychology. AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

Acara Kesehatan Mother & Baby Fair 2011

Buat para Orangtua terutama Ibu dan bayi, event tahunan ini pasti tidak bisa dilewatkan waktunya hari Jumat, 30 September 2011
10.00 – 11.00 : Praktek Pijat sehat mandiri (Self Massage for Pregnant Mom )
13.00 – 14.00 : Rekreasi Aman & Sehat bersama Si Buah Hati
16.00 – 17.00 : Awal Sehat Tumbuh Sehat by MOM & Me
info lengkap di www.motherandbaby.co.id

Selasa, 12 Juli 2011

Seminar Kajian Islam, "Current Medical Sciences: Islamic Perspective" Minggu 17 Juli 2011

Ikuti Seminar Sehari
Seminar Kajian Islam, "Current Medical Sciences: Islamic Perspective"
Hari Minggu 17 Juli 2011, pukul 08 - selesai.
Tempat : Gedung A lantai1, Ruang Prof. Djamaloeddin. RSCM.
Jl. Diponegoro No.71 Jakarta Pusat.

Pembicara * Prof. Zubairi Djoerban Sp.PD-KHOM, * Ust.DR Muhammad Arifin,* Prof. Yunisaf Sp.OG, * dr. Gentur Sp. * dr. Anna Sp.PD-KP
Pendaftaran: 08176085033

Tenaga Kesehatan Jadi Prioritas Imunisasi Hepatitis B

Jakarta, Pada bayi, vaksin hepatitis sudah termasuk dalam program imunisasi wajib. Namun bagi remaja dan dewasa, pemberian vaksin hepatitis B masih bersifat swadaya dan masih diprioritaskan bagi kelompok berisiko antara lain tenaga kesehatan.

Imunisasi atau pemberian vaksin hepatitis B pada kelompok remaja dan dewasa hingga saat ini bersifat swadana karena tidak termasuk program yang diwajibkan pemerintah. Upaya pencegahan yang disebut Catch Up Imunization ini biasanya dilakukan secara kolektif di sebuah perusahaan.

Biayanya tidak murah karena biasanya harus didahului dengan skrining serologi untuk mencegah pemberian vaksin pada yang tidak perlu. Karena itu di beberapa perusahaan, imunisasi dilakukan dengan dibiayai oleh pemilik atau pimpinan perusahaan.

"Untuk tahap pertama yang diprioritaskan adalah kelompok berisiko, yang sering tertusuk misalnya tenaga kesehatan," ungkap Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan, Prof Dr Tjandra Yoga Aditama, dalam simposium Roche Fair 2011 di Balai Kartini, Jl Gatot Subroto, Selasa (12/7/2011).

Prioritas ini sesuai dengan resolusi World Health Assembly (WHA) 2010, yang menempatkan tenaga kesehatan sebagai salah satu kelompok yang rentan terhadap infeksi hepatitis B. Resolusi tersebut untuk pertama kalinya juga menetapkan tanggal 28 Juli sebagai Hari Hepatitis Dunia.

Hepatitis B merupakan salah satu infeksi virus dengan tingkat penularan paling tinggi, 100 kali lebih menular dibandingkan Human Immunodeficiency Virus (HIV). Diperkirakan ada 2 miliar pengidap hepatitis B di seluruh dunia, 400 juta di antaranya adalah penderita kronis yang berisiko terkena kanker hati.

Di Indonesia sendiri diperkirakan ada 30 juta penderita hepatitis B dan C, dengan penderita kronis yang berisiko kanker hati sebanyak 1,5 juta orang. Dengan prevalensi atau angka kejadian sebesar 9,4 persen, Indonesia masuk kategori endemis tinggi untuk hepatitis B dan C.

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

Pemerintah Masih Upayakan Obat Murah untuk Hepatitis

Jakarta, Skrining hepatitis tidak akan memberikan manfaat yang optimal selama harga obatnya masih mahal seperti sekarang ini. Untuk mengatasinya, pemerintah masih terus berupaya melobi perusahaan farmasi untuk memberikan harga semurah mungkin.

"Nanti ini saja saya mau ketemu perusahaan farmasi membicarakan mungkin tidak untuk untuk memberikan obatnya dengan harga murah," ungkap Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Prof Dr Tjandra Yoga Aditama, seusai simposium Roche Fair 2011 di Balai Kartini, Jl Gatot Subroto, Selasa (12/7/2011).

Prof Tjandra Yoga mengatakan, pembiacaraannya dengan perusahaan tersebut belum mengarah ke compulsary license atau pengambilalihan paten obat agar harganya tidak terlalu mahal. Namun diakuinya, compulsary license termasuk salah satu opsi yang dipertimbangkan.

Dalam sebuah kesepakatan compulsary license, ada syarat yang harus dipenuhi yakni obat yang patennya diambilalih oleh negara harus diberikan secara gratis. Obat tersebut tidak boleh dijual sekalipun dengan harga lebih murah karena sudah tidak dilindungi paten.

Alternatif lain jika tidak mungkin digratiskan adalah dengan menjalin kerjasama dengan perusahaan yang memegang paten. Seperti diberitakan detikHealth sebelumnya, opsi ini bisa membuat harga obat hepatisis turun dari Rp 500-an ribu menjadi sekitar Rp 100-200 ribu.

Saat ini obat-obat hepatitis harganya sangat mahal karena sebagian besar masih dilindungi paten. Contohnya injeksi interferon yang harganya mencapai Rp 8-10 juta sekali suntik, padahal harus diberikan setiap bulan secara teratur dalam 6-12 bulan.

Versi generiknya yang harganya bisa dibuat jauh lebih murah baru boleh diproduksi jika masa patennya sudah berakhir. Masa paten untuk sebuah temuan obat baru biasanya berlaku 20 tahun sejak paten tersebut didaftarkan, kecuali jika ada perpanjangan.

"Yang saya dengar (obat-obat hepatitis) ada yang habis patennya tahun 2012 atau 2013, kita lihat saja nanti," tambah Prof Tjandra Yoga. AN Uyung Pramudiarja - detikHealth