Kamis, 04 Desember 2008

Ikuti Seminar Kanker Sabtu 06 Des 2008

Seminar Kanker
"Waspadai Kanker - Cegah kesehatan anda dari Sekarang"
Sabtu, 06 Desember 2008 pk 08.30-14.00
di Hotel Atlet Century Park Senayan Jakarta
Pembicara Dr Mellisa S, MH (Yayasan Kanker Indonesia)
Dr Irena Winata
Mari praktekkan hidup sehat secara alami dan mandiri untuk mencegah berbagai penyakit degeneratif seperti kanker, jantung, osteoporosis dll.
Kontribusi rp 50.000 (materi, lunch, goodie bag, sertifikat, doorprize )
Informasi dan pendaftaran 53677835 ext 4215

Apiterapi, terapi sengat lebah yang alami menyehatkan

Apiterapi, Sengat dan Madu Lebah

Disebutkan dalam Alquran surat An Nahl ayat 68-69, di dalam madu lebah terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Produk turunan yang dihasilkan lebah ada 13 buah, di antaranya madu, propolis, royal jelly, pollen, bee venom, lilin lebah, madu sarang, roti lebah, larva lebah, dan phedra. Kata aphitherapy (apiterapi) adalah perpaduan bahasa Latin, aphis berarti lebah dan therapy, pengobatan. Apiterapi didefinisikan sebagai upaya pengobatan komplementer untuk tujuan prefentif, kuratif, dan rehabilitasi menggunakan lebah dan produk turunannya. Ribuan Tahun Penggunaan madu lebah untuk kesehatan, kata Dr. Adji Suranto, Sp.A, dari Perhimpunan Dokter Indonesia Pengembang Kesehatan Tradisional Timur (PDPKT) DKI Jakarta, telah diketahui sejak ribuan tahun lalu. Lukisan karang zaman batu (6000 SM) memperlihatkan kegiatan honey hunting. Bukti tertua penggunaan madu untuk mengobati infeksi kulit dan luka, borok, penyakit mata dan telinga, tertulis dalam keramik bangsa Samaria (2000 SM). The Ebers Papyrus (1550 SM) mencatat resep-resep madu untuk pemakaian luar, yaitu untuk terapi kebotakan, luka bakar, abses, dan pereda nyeri. Madu juga dimanfaatkan untuk menyembuhkan luka usai pembedahan, termasuk sunat, supositoria, mengurangi peradangan, serta meredakan kaku sendi. Hingga tahun 1990, katun yang direndam dalam jus lemon dan madu masih digunakan sebagai alat kontrasepsi. Penggunaan sengat lebah untuk terapi nyeri sendi dan artritis telah lama dilakukan oleh bangsa Yunani. Pelopornya adalah bapak kedokteran modern, Hippocrates. Tahun 1888, Dr. Philip Tere dari Perancis meneliti hubungan antara sengat lebah dan rematik. Sebelumnya, tahun 1864, Prof. Libowsky melaporkan kesembuhan pasiennya yang menderita rematik dan neuralgia setelah diterapi dengan sengatan lebah. Pengobatan menggunakan sengat (bisa) lebah dikenal sebagai apipuntur. Apipuntur, kata Dr. Adji, adalah bagian dari apiterapi. Apipuntur memanfaatkan bee venom dan metode akupuntur. Lebah untuk terapi ini jenis Apis mellifera dan Apis cerana. Apipuntur sendiri merupakan bagian dari apiterapi. Sengat atau racun lebah sangat baik untuk menormalkan segala aktivitas pembuluh darah dan saraf. “Hasil penelitian menunjukkan bahwa sengat lebah mengandung melitin, apamin, peptida 401 (MDC), inhibitor protease, dan norepinephrine,” kata dokter yang mendalami pengobatan komplementer sejak tahun 1999 ini. Apiterapi secara umum dimanfaatkan untuk meredakan gangguan rematik, masuk angin, flu, salah urat, hingga penyakit berat, seperti darah tinggi, diabetes, dan kanker. Cara ini pun diklaim efektif untuk mengobati penyakit degeneratif, seperti stroke. Kombinasi Dalam praktik apipuntur, dituturkan Dr. Adji, sengat lebah yang dimasukkan ke dalam tubuh dilakukan dengan dua cara, yakni langsung (direct bee sting) dan lewat suntikan berisi racun lebah. “Racun lebah diambil dari antibodi murni seseorang yang sudah sering disengat lebah,” katanya. Jumlah sengatan tergantung pada jenis penyakit. Namun, satu sengatan di titik-titik tertentu dianggap cukup sebagai perkenalan. “Dalam terapi berikutnya, titik-titik tersebut disengat lagi, tetapi tidak boleh lebih dari 10 sengatan,” ujar pria satu anak ini. Sengatan lebah yang sedang bereaksi di tubuh ditandai dengan ketidaknormalan sejenak yang sifatnya individual. Reaksi pasien berbeda-beda, apakah sebelumnya pernah disengat lebah atau tidak. Biasanya pasien akan mengalami reaksi lokal dan sistemik. Ciri reaksi lokal adalah pembengkakan di sekitar lokasi sengatan, gejala klinisnya gatal, nyeri, dan kaku. Reaksi sistemik berupa demam, lemas, telinga berdengung, dan pusing. Menurut Dr. Adji, bila reaksi itu terjadi pada pasien yang sensitif, diganti dengan pemberian obat antihistamin selama 10 hari. Selanjutnya baru boleh dilakukan apiterapi lagi. Kondisi di atas, kata dokter lulusan FKUI 1988 ini, adalah alamiah karena racun lebah sedang bereaksi di dalam tubuh. Seperti saat kita diimunisasi. Untuk menetralkan kondisi tersebut, ia menganjurkan konsumsi madu dan mengoleskan minyak gosok di bagian yang bengkak dan gatal. Karena itu, terapi sengat lebah akan lebih efektif bila dikombinasikan dengan pemberian madu, propolis, pollen, atau royal jelly. Meski dikombinasi, tidak semua jenis penyakit bisa disembuhkan dengan terapi yang sama. Contohnya, untuk kencing manis, terapi tambahan yang digunakan adalah pollen dan propolis. Untuk gangguan katarak, selain sengat lebah, terapinya berupa tetes mata madu trigona dan madu lebah. Untuk gangguan rematik, ada dua titik yang disengat, yakni titik lokal di mana yang sakit dan titik sistemik, yaitu titik akupuntur zusanli (daerah bercekung di bawah lutut). Selain sengatan di titik itu ditambah konsumsi royal jelly, propolis, dan citosan. Terapi apipuntur dilakukan dalam 12 kali pertemuan. “Biasanya pada kunjungan pertama titik yang disengat hanya satu. Hari berikutnya ditambah satu titik sengatan lagi. Begitu seterusnya. Lamanya sengatan antara 10-15 menit. Setelah itu bisa diulang lagi,” katanya. Pemanfaatan apipuntur, tambah Dr. Adji, ditentukan oleh jenis penyakit, umur pasien, dan kontraindikasinya. Wanita hamil, bayi, anak-anak, dan orang lanjut usia dianjurkan tidak menjalani terapi ini. Mau coba? @ Hendra Priantono
dari gayahidupsehat

Senin, 25 Agustus 2008

Donor Darah menjelang Puasa 26 Agustus 2008

Sebelum dateng bulan ramadhan ...ayo ikutan Aksi Amal Donor Darah
Selasa, 26 Agustus 2008 jam 09.00- 12.00
di aula RS Medika Permata Hijau (RSMPH)
Jl Raya Kebayoran Lama - Perempatan Permata Hijau
Jakarta Barat Telp 5347411
Yang pasti kita makin sehaa.......t !

Talkshow Buku Sehat itu Murah

Ikuti Talkshow 2 Buku Best Seller
Sehat itu Murah & Jurus Sehat tanpa Ongkos
karya Dr Handrawan Nadesul
Jum'at 22 Agustus 2008 jam 16.00 di TB Gramedia Matraman &
Jum'at 29 Agustus 2008 jam 16.00 di TB Gramedia Taman Anggrek
Gratis
Pasti dapet banyak ilmu & tidak perlu ke dokter lagi

Minggu, 27 Juli 2008

Situs Tanyadokter

Telah Hadir web tanyadokter.com Situs Konsultasi Kesehatan dengan Penanganan o/ dokter-dokter terpercaya.
Berisikan hal mengenai penyakit, obat, perkembangan bayi dan anak, gigi, ganggauan kesehatan.
Mitra sehat bisa berkonsultasi mengenai hal-hal diatas secara gratis hanya dengan terdaftar sebagai anggota. Semoga tambah sehat.

Kamis, 26 Juni 2008

Bedah Buku

Bedah Buku "Tubuh Anda adalah Dokter yang terbaik"
Jum'at 4 Juli 2008
oleh DR Husen Ahmad
di R Anggrek Istora Senayan Arena Pesta Buku Jakarta

Gratis

Panitia Penerbit : Niaga Qolbu Salim-Media Prima Indonesia

Ali Fridi (08122024544)

Minggu, 22 Juni 2008

Nutrisi Tepat untuk Penderita Kanker

Apa saja nutrisi alami yang baik bagi penderita kanker ?
Jus sayuran segar sangat baik dikonsumsi oleh penderita kanker. Mengapa? Pada dasarnya, setiap orang memiliki sel kanker. Sepanjang hidup seseorang, tubuh mengalami enam sampai 10 kali erupsi sel-sel kanker. Masalah muncul bila sistem kekebalan tubuh mengalami gangguan atau melemah.Kekebalan yang melemah mengakibatkan daya tahan tubuh tidak mampu mengendalikan mutasi genetik sel karena terganggu atau kehilangan mekanisme kontrol.

Seperti dituturkan oleh ahli bedah kanker dan pakar pengobatan herbal, dr Paulus W Halim SpB, daya tahan tubuh yang lemah akan kehilangan kemampuan untuk membunuh sel kanker yang ada dan tidak mampu mengendalikan pertumbuhan sel tersebut. Akibatnya, melalui aliran darah dan getah bening, sel kanker leluasa menyebar ke jaringan sekitar dan organ lain.

Lazimnya, pengobatan kanker dilakukan melalui pembedahan dengan membuang jaringan yang terserang sel-sel ganas itu. Pengobatan lain, dengan kemoterapi atau radioterapi untuk membinasakan sel kanker. Ada pula terapi hormon yang bertujuan mengatur keseimbangan hormon. Namun, menurut Paulus, pengobatan kanker bisa juga dibarengi dengan terapi komplementer atau terapi pendamping berupa pemberian nutrisi. Dengan memerhatikan ekobiosistem tubuh, terapi ini dilakukan dengan tidak memunculkan lingkungan dalam tubuh yang mendukung sel kanker untuk hidup dan berkembang biak.

Untuk ini, penderita disarankan mengonsumsi makanan yang juga berfungsi sebagai obat (bersifat nutrasetikal). ”Jadi, cara paling efektif dalam berperang melawan kanker adalah jangan beri sel kanker makanan yang disukai,” tutur Paulus dalam sebuah seminar di Jakarta, Sabtu (9/6/2007) lalu.

NutrasetikalKonsep nutrasetikal, menurut dia, diperkenalkan pertama kali oleh Stephen De Felice, ketua Foundation for Innovation in Medicine pada 1989. Nutrasetikal adalah bahan pangan atau bagian dari pangan yang memberikan manfaat medis, termasuk mencegah atau mengobati penyakit. Intinya merupakan kombinasi dari fungsi nutrisi dan pharmaceutical. Nutrasetikal terdiri atas herbal, suplemen, dan minuman nutrasetikal. Herbal dapat berbentuk bumbu dapur, sayuran, dan buah-buahan. Suplemen berupa vitamin dan mineral, sedangkan minuman nutrasetikal meliputi air jahe, kunyit asam, beras kencur, air kacang hijau, susu kedelai, agar-agar, atau gula aren.

Nah, bagi penderita kanker, kata Paulus, jika ingin mengonsumsi gula sebaiknya pilih madu, gula aren, atau gula kelapa. Hindari pemanis buatan. Selain itu, hindari susu sapi dan hasil olahan susu sapi. Susu sapi membuat tubuh memproduksi mucous. ”Kanker makan dari mucous. Jadi, sebaiknya gunakan susu kedelai tanpa pemanis.”

Menurut dia, sel kanker senang dengan lingkungan asam. Daging, misalnya, adalah bahan pangan yang bersifat asam. Selain itu, daging juga mengandung residu antibiotik, hormon pertumbuhan, dan parasit. Karena itu, penderita kanker sebaiknya kembali ke diet vegetarian.
Penderita kanker juga perlu menghindari konsumsi lemak tinggi, tapi diimbangi dengan serat tinggi. Demikian pula dengan makanan kalengan, makanan yang diawetkan atau mengandung bahan pengawet. ”Hindari mengonsumsi garam meja yang mengandung pemutih dan bahan kimia, sebaiknya mengonsumi garam kasar.”

Hal lain yang perlu dihindari adalah makanan yang telah direkayasa, seperti kedelai dan jagung transgenik. Juga, sayuran yang mengandung residu logam berat, pestisida, atau herbisida. Lupakan makanan seperti jengkol, emping, melinjo, durian, buah bergetah seperti cempedak, nangka, sawo, duku, langsat. Enyahkan pula makanan yang dipanaskan dengan microwave, makanan yang dibekukan, dan makanan yang dipanaskan dengan suhu tinggi.

Paulus mengingatkan, makanan yang wajib dikonsumsi oleh penderita kanker harus 80 persen berupa sayuran segar, biji-bijian, sereal, dan buah-buahan. ”Jus sayuran segar mengandung zat fito enzim yang mudah diserap sel dalam waktu 15 menit,” ujar dokter yang membuka klinik di Tangerang itu.

Sisanya, sekitar 20 persen, makanan yang dimasak, termasuk kacang-kacangan. Kacang-kacangan harus dimasak karena ia memiliki antinutrisi. Setelah dimasak, sifat negatif itu akan hilang. Selain itu, hindari cabai dan santan yang kental.

Perhatikan minuman. Tak hanya makanan, penderita kanker juga perlu memerhatikan minuman yang akan dikonsumsi. Minuman yang tinggi kafein seperti kopi, teh, dan cokelat, sebaiknya dihapus dalam daftar menu sehari-hari. Sebagai pengganti, minumlah teh hijau karena mengandung zat antikanker.

Bagaimana dengan air suling? Air ini ternyata tidak baik bagi penderita kanker karena mengandung asam. Air isi ulang juga perlu dihindari sebab kemungkinan mengandung toksin dan logam berat. Jadi, sebaiknya gunakan air murni atau yang sudah di-filter. ”Lebih penting lagi, hindari minuman beralkohol dan soft drink.”

Paulus mengungkapkan, Indonesia adalah negara kedua di dunia setelah Brasil dengan kekayaan hayati. Dari 40 jenis flora di dunia, 30 ribu di antaranya tumbuh di negeri ini. Sekitar 26 persen dari jumlah tersebut sudah dibudidayakan, 74 persen masih tumbuh liar di hutan-hutan. Bahkan, ada 940 jenis tanaman berkhasiat dalam pengobatan dan telah dibudidayakanai 10 kali erupsi sel-sel kanker. Masalah muncul bila sistem kekebalan tubuh mengalami gangguan atau melemah. Kekebalan yang melemah mengakibatkan daya tahan tubuh tidak mampu mengendalikan mutasi genetik sel karena terganggu atau kehilangan mekanisme kontrol.

Seperti dituturkan oleh ahli bedah kanker dan pakar pengobatan herbal, dr Paulus W Halim SpB, daya tahan tubuh yang lemah akan kehilangan kemampuan untuk membunuh sel kanker yang ada dan tidak mampu mengendalikan pertumbuhan sel tersebut. Akibatnya, melalui aliran darah dan getah bening, sel kanker leluasa menyebar ke jaringan sekitar dan organ lain.

Lazimnya, pengobatan kanker dilakukan melalui pembedahan dengan membuang jaringan yang terserang sel-sel ganas itu. Pengobatan lain, dengan kemoterapi atau radioterapi untuk membinasakan sel kanker. Ada pula terapi hormon yang bertujuan mengatur keseimbangan hormon. Namun, menurut Paulus, pengobatan kanker bisa juga dibarengi dengan terapi komplementer atau terapi pendamping berupa pemberian nutrisi. Dengan memerhatikan ekobiosistem tubuh, terapi ini dilakukan dengan tidak memunculkan lingkungan dalam tubuh yang mendukung sel kanker untuk hidup dan berkembang biak.

Untuk ini, penderita disarankan mengonsumsi makanan yang juga berfungsi sebagai obat (bersifat nutrasetikal). ”Jadi, cara paling efektif dalam berperang melawan kanker adalah jangan beri sel kanker makanan yang disukai,” tutur Paulus dalam sebuah seminar di Jakarta, Sabtu (9/6) lalu. Nutrasetikal Konsep nutrasetikal, menurut dia, diperkenalkan pertama kali oleh Stephen De Felice, ketua Foundation for Innovation in Medicine pada 1989. Nutrasetikal adalah bahan pangan atau bagian dari pangan yang memberikan manfaat medis, termasuk mencegah atau mengobati penyakit. Intinya merupakan kombinasi dari fungsi nutrisi dan pharmaceutical. Nutrasetikal terdiri atas herbal, suplemen, dan minuman nutrasetikal.

Herbal dapat berbentuk bumbu dapur, sayuran, dan buah-buahan. Suplemen berupa vitamin dan mineral, sedangkan minuman nutrasetikal meliputi air jahe, kunyit asam, beras kencur, air kacang hijau, susu kedelai, agar-agar, atau gula aren. Nah, bagi penderita kanker, kata Paulus, jika ingin mengonsumsi gula sebaiknya pilih madu, gula aren, atau gula kelapa. Hindari pemanis buatan. Selain itu, hindari susu sapi dan hasil olahan susu sapi. Susu sapi membuat tubuh memproduksi mucous. ”Kanker makan dari mucous. Jadi, sebaiknya gunakan susu kedelai tanpa pemanis.”

Menurut dia, sel kanker senang dengan lingkungan asam. Daging, misalnya, adalah bahan pangan yang bersifat asam. Selain itu, daging juga mengandung residu antibiotik, hormon pertumbuhan, dan parasit. Karena itu, penderita kanker sebaiknya kembali ke diet vegetarian. Penderita kanker juga perlu menghindari konsumsi lemak tinggi, tapi diimbangi dengan serat tinggi. Demikian pula dengan makanan kalengan, makanan yang diawetkan atau mengandung bahan pengawet. ”Hindari mengonsumsi garam meja yang mengandung pemutih dan bahan kimia, sebaiknya mengonsumi garam kasar.” Hal lain yang perlu dihindari adalah makanan yang telah direkayasa, seperti kedelai dan jagung transgenik. Juga, sayuran yang mengandung residu logam berat, pestisida, atau herbisida. Lupakan makanan seperti jengkol, emping, melinjo, durian, buah bergetah seperti cempedak, nangka, sawo, duku, langsat.

Enyahkan pula makanan yang dipanaskan dengan microwave, makanan yang dibekukan, dan makanan yang dipanaskan dengan suhu tinggi. Paulus mengingatkan, makanan yang wajib dikonsumsi oleh penderita kanker harus 80 persen berupa sayuran segar, biji-bijian, sereal, dan buah-buahan. ”Jus sayuran segar mengandung zat fito enzim yang mudah diserap sel dalam waktu 15 menit,” ujar dokter yang membuka klinik di Tangerang itu.

Sisanya, sekitar 20 persen, makanan yang dimasak, termasuk kacang-kacangan. Kacang-kacangan harus dimasak karena ia memiliki antinutrisi. Setelah dimasak, sifat negatif itu akan hilang. Selain itu, hindari cabai dan santan yang kental. Perhatikan minuman Tak hanya makanan, penderita kanker juga perlu memerhatikan minuman yang akan dikonsumsi. Minuman yang tinggi kafein seperti kopi, teh, dan cokelat, sebaiknya dihapus dalam daftar menu sehari-hari. Sebagai pengganti, minumlah teh hijau karena mengandung zat antikanker.

http://meli14.wordpress.com/2007/06/29/nutrisi-tepat-untuk-penderita-kanker/