Klikdokter - Setiap orang mempunyai aktifitas yang berbeda-beda, entah itu bermain, belajar dan bekerja. 3 aspek tersebut sangatlah luas dan bisa kita kembangkan menurut kesenangan kita pribadi. Olahraga bisa menjadi asupan serta nutrisi bagi beberapa aspek kehidupan.
Bermain sepeda, voli, bulutangkis dan berenang bisa dibilang kita melalukan suatu aktifitas/kegiatan yang identik dengan nama olahraga. Tidak hanya bermain, belajar dan bekerja pun erat kaitannya dengan olahraga.
Departemen Latihan dan Olahraga Ilmu Pengetahuan , University of Copenhagen melakukan penelitian tentang efek kesehatan dari latihan sepak bola yang dipimpin langsung oleh Profesor Peter Krustrup dan Jens Bangsbo. “Soccer adalah olahraga tim yang sangat populer yang beriisi faktor-faktor motivasi dan sosial positif yang dapat memfasilitasi kepatuhan dan memberikan kontribusi pada pemeliharaan gaya hidup aktif secara fisik,” demikian tutur Pemimpin studi Peter Krustrup menyimpulkan.
Sepak bola merupakan salah satu cabang olahraga dengan peminatnya hampir sebagaian besar penduduk yang ada di belahan dunia. Selama jalannya permainan, setiap pemain bertekad untuk mencapai puncak kemenangan, mempertahankan gawang dari serangan musuh sama halnya dengan mempertahankan sebuah kehormatan. Serangan yang diatur sedemikian rupa dibarisan tengah , sama kreatifnya mencari jalan untuk tetap hidup. Menyerang dan diserang, menang dan kalah layaknya hidup yang kadang harus memenangkan suatu persaingan dan dilain hal kita harus bertahan untuk tetap menjaga eksistensinya. Itulah mengapa sepak bola bisa dikatakan sebagai cermin kehidupan.
Terkadang orang sering kali mengeluarkan jutaan rupiah untuk sekedar tersenyum lebar, tertawa lepas dan melepaskan kepenatan yang ada di jiwa. Sepak bola tidak memerlukan nominal sebanyak itu untuk mencapainya, setiap pemain bola bisa mengekspresikan segala rasa yang ada di hati. Dengan secara otomatiscabang olahraga yang banyak digemari ini akan menuntun manusia untuk mendapatkan kepuasan, entah dengan berlari, menendang dan menyundul bola, bahkan membobol gawang. Ternyata kebahagiaan merupakan sarana yang dapat kita nikmati dari sepak bola.
Sepak bola mengiring kita pada sisi edukasi moral, yaitu tanggung jawab. Para pembaca klikdokter.com bisa mengamati dari sebuah pertandingan sepak bola pada moment adu penalti. Dalam dirinya tertumpu beban yang amat besar, puluhan juta orang yang menyaksikan pertandingan berharap penuh dan membebaninya tanggung jawab. Kita bisa lihat dari sejarah, Roberto Bagio trauma karena mengeksekusi pinalti di laga final piala, atau Andres Recoba yang merenggang nyawa karena ditembak pendukung sepak bola di negerinya. Skenario-skenario selalu saja hadir dan datang yang akan membentuk diri kita sebagai pemegang mandat yang harus dipertanggungjawabkan.
Sepak bola, olahraga,bermain,belajar dan bekerja bisa kita sejajarkan secara horizontal dalam aspek kehidupan kita. Kehidupan yang sehat terdapat kesehatan jiwa. Kesehatan jiwa bisa dikemas melalui olahraga, salah satunya sepak bola. Sudahkah kancah dunia sepak bola merah putih kita ini yang notabene tengah kisruh kepemimpinan sepak bola telah menunjung tinggi nilai kesehatan jiwa dan raga, filosofi sepak bola dan rasa tanggung jawab? Semoga.[](AG/DA)
Senin, 28 Maret 2011
Kurang Minum Bikin Bau Urine Tak Sedap
Jakarta, Urine berbau tidak sedap bisa menjadi indikator kondisi tubuh. Ada beberapa penyebab bau urine yang menyengat dan tak sedap, salah satunya kurang minum dan dehidrasi.
Wanita paling sering menyadari bau yang kuat, tajam, menyengat dan busuk pada urine. Jika hanya terjadi beberapa kali, hal tersebut mungkin hanya pengaruh dari makanan yang dimakan, tetapi jika bau pada urine terjadi berkepanjangan, maka hal itu bisa menandakan suatu masalah kesehatan yang perlu diperhatikan.
Ada banyak penyebab bau yang kuat dalam urine, yang umumnya dapat diobati dengan menggunakan pengobatan rumah sederhana. Beberapa penyebab dari urine berbau adalah kandungan amonia yang berlebih pada urine.
Kurang minum dan dehidrasi adalah penyebab paling umum untuk bau urine yang menyengat. Air berperan sangat penting untuk menjalankan fungsi tubuh yang normal.
Jika Anda berolahraga secara teratur atau terlibat dalam pekerjaan fisik yang berat, jangan lupa minum cukup air setidaknya 2 liter per hari untuk menggantikan cairan yang hilang melalui keringat.
Bila tidak minum cukup air, kondisi tersebut bisa mengurangi kadar air dalam urine dan meningkatkan konsentrasi, warna dan bau pada urine. Hal ini disebabkan karena kandungan amonia yang meningkat.
Selain kurang minum dan dehidrasi, ada beberapa faktor lain yang menyebabkan bau menyengat pada urine, terutama pada wanita, seperti dilansir Buzzle, Kamis (24/3/2011), yaitu:
1. Infeksi saluran kemih
Alasan lain urine berbau tak sedap adalah infeksi saluran kemih. Setiap wanita mengalami infeksi saluran kemih setidaknya sekali seumur hidup. Kondisi ini cukup mudah didiagnosa dan diobati.
2. Infeksi vagina
Infeksi vagina juga bisa menjadi penyebab bau menyengat pada urine. Sebenarnya bau yang tidak sedap tersebut berasal dari vagina. Jadi seringkali urine yang berbau tidak sedap disertai denhan rasa terbakar dan gatal pada vagina.
3. Obat atau makanan
Kadang-kadang makanan atau obat-obatan tertentu bertanggung jawab untuk bau urine yang tidak sedap. Misalnya, asparagus, jengkol atau petai adalah salah satu makanan yang menyebabkan bau busuk pada urine.
Juga, jika Anda mengonsumsi banyak obat untuk gangguan tubuh atau telah mengambil beberapa vitamin atau suplemen kesehatan lainnya. Obat-obatan tertentu bisa menjadi penyebab bau kuat dalam urine. Merry Wahyuningsih - detikHealth
Wanita paling sering menyadari bau yang kuat, tajam, menyengat dan busuk pada urine. Jika hanya terjadi beberapa kali, hal tersebut mungkin hanya pengaruh dari makanan yang dimakan, tetapi jika bau pada urine terjadi berkepanjangan, maka hal itu bisa menandakan suatu masalah kesehatan yang perlu diperhatikan.
Ada banyak penyebab bau yang kuat dalam urine, yang umumnya dapat diobati dengan menggunakan pengobatan rumah sederhana. Beberapa penyebab dari urine berbau adalah kandungan amonia yang berlebih pada urine.
Kurang minum dan dehidrasi adalah penyebab paling umum untuk bau urine yang menyengat. Air berperan sangat penting untuk menjalankan fungsi tubuh yang normal.
Jika Anda berolahraga secara teratur atau terlibat dalam pekerjaan fisik yang berat, jangan lupa minum cukup air setidaknya 2 liter per hari untuk menggantikan cairan yang hilang melalui keringat.
Bila tidak minum cukup air, kondisi tersebut bisa mengurangi kadar air dalam urine dan meningkatkan konsentrasi, warna dan bau pada urine. Hal ini disebabkan karena kandungan amonia yang meningkat.
Selain kurang minum dan dehidrasi, ada beberapa faktor lain yang menyebabkan bau menyengat pada urine, terutama pada wanita, seperti dilansir Buzzle, Kamis (24/3/2011), yaitu:
1. Infeksi saluran kemih
Alasan lain urine berbau tak sedap adalah infeksi saluran kemih. Setiap wanita mengalami infeksi saluran kemih setidaknya sekali seumur hidup. Kondisi ini cukup mudah didiagnosa dan diobati.
2. Infeksi vagina
Infeksi vagina juga bisa menjadi penyebab bau menyengat pada urine. Sebenarnya bau yang tidak sedap tersebut berasal dari vagina. Jadi seringkali urine yang berbau tidak sedap disertai denhan rasa terbakar dan gatal pada vagina.
3. Obat atau makanan
Kadang-kadang makanan atau obat-obatan tertentu bertanggung jawab untuk bau urine yang tidak sedap. Misalnya, asparagus, jengkol atau petai adalah salah satu makanan yang menyebabkan bau busuk pada urine.
Juga, jika Anda mengonsumsi banyak obat untuk gangguan tubuh atau telah mengambil beberapa vitamin atau suplemen kesehatan lainnya. Obat-obatan tertentu bisa menjadi penyebab bau kuat dalam urine. Merry Wahyuningsih - detikHealth
Talkshow "Menjadi Muda Lebih Lama" Kamis, 31 Maret 2011
Talkshow "Menjadi Muda Lebih Lama" Kamis, 31 Maret 2011 Pukul 13.00 WIB
bersama Dr. Farina
tempat di tupperware home Jl. Tirtayasa No.24 Kebayoran Baru Jakarta Selatan.
Rreservasi dan informasi hubungi: 021-7250985, 0856 876 8070 (LINI)
http://www.tupperware.co.id/Pages/EventsHome.aspx?ID=Dx0aFaQ0eO7DmBy/Jtmz5g==&Page=3
bersama Dr. Farina
tempat di tupperware home Jl. Tirtayasa No.24 Kebayoran Baru Jakarta Selatan.
Rreservasi dan informasi hubungi: 021-7250985, 0856 876 8070 (LINI)
http://www.tupperware.co.id/Pages/EventsHome.aspx?ID=Dx0aFaQ0eO7DmBy/Jtmz5g==&Page=3
Acara Talkshow "Eat Green to Stop Diabetes" Selasa, 29 Maret 2011
Acara Talkshow "Eat Green to Stop Diabetes" Selasa, 29 Maret 2011Pukul 13.00 WIB
bersama pakar dan Mona Ratuliu bertempat di Jl. Tirtayasa No.24 Kebayoran Baru Jakarta Selatan.
Rreservasi dan informasi hubungi: 021-7250985, 0856 876 8070 (LINI)
bersama pakar dan Mona Ratuliu bertempat di Jl. Tirtayasa No.24 Kebayoran Baru Jakarta Selatan.
Rreservasi dan informasi hubungi: 021-7250985, 0856 876 8070 (LINI)
Kamis, 24 Maret 2011
Daun Sirsak Lebih Hebat dari Kemoterapi, benarkah ?
Konon, daya kerja rebusan daun sirsak dalam membasmi kanker 10.000 kali lebih kuat daripada obat kimia yang biasa digunakan dalam kemoterapi. Selain itu diklaim tidak menyebabkan mual dan merontokkan rambut.
Belakangan, daun sirsak memang jadi primadona. Khasiatnya dalam mengobati kanker sedang dibicarakan di seluruh penjuru dunia. Bukan hanya oleh masyarakat awam, namun juga kalangan medis dan ilmuwan. Kehebohan ini juga merambah dunia maya. Di situs mesin pencari Google, misalnya, topik “daun sirsak obat kanker” pada pertengahan Februari 2011 mencapai 284.000 buah, dan terdiri dari berbagai tulisan. Mulai dari artikel yang menyiarkan kabar kehebatan daun sirsak, hingga obrolan di dalam milis-milis yang mempertanyakan kebenarannya.
Sejak berabad-abad yang lalu
Jika orang menanggapi dengan bentuk antusiasme yang berbeda-beda, itu bisa dimaklumi. Bagi sebagian orang, kabar ini memang cukup mengejutkan. Selama ini sirsak tidak dikenal sebagai tanaman yang istimewa. Di Indonesia, pohon sirsak bisa tumbuh tanpa perawatan khusus di kebun atau halaman rumah. Buahnya pun bukan komoditi yang bernilai jual tinggi.
Belum banyak yang tahu, bahwa sesungguhnya, tanaman yang bernama Latin Annona muricata ini sudah lazim dimanfaatkan sebagai obat. Sejak berabad-abad yang lalu, suku Indian di kawasan Amerika Selatan menggunakan kulit kayu, akar, daun, buah, dan bijinya untuk mengatasi berbagai macam penyakit, seperti asma, rematik, gangguan liver, dan jantung. Nenek moyang kita pun sudah sering memanfaatkan daun dan buahnya untuk mengatasi gangguan sehari-hari, seperti anyang-anyangan (infeksi saluran kemih), ambeien, batuk, bisul, cacingan, diare, gatal-gatal, dan masih banyak lagi.
Seiring berjalannya waktu, beberapa referensi mencatat kekhasiatannya yang tidak lepas dari beberapa senyawa yang terkandung di dalamnya. Batang dan daun tanaman sirsak kaya akan tanin, fitosterol, kalsium oksalat, serta zat alkaloid. Sementara buahnya mengandung banyak protein, kalsium, fosfor, vitamin A, dan vitamin C. Kandungan tersebut membuat sirsak berkhasiat sebagai antioksidan, antibakteri, antijamur, antikejang, dan antiradang.
Penemuan mutakhir: antikanker
Khasiat sirsak sebagai antitumor dan antikanker konon bukan penemuan baru. Menurut beberapa sumber, risetnya sudah dilakukan sejak puluhan tahun yang lalu oleh sebuah perusahaan obat di Amerika. Namun, karena ada aturan dari pemerintah setempat yang mengatakan bahwa sumber alami untuk obat tidak bisa dipatenkan, perusahaan itu merasa tidak bakal memperoleh keuntungan. Akibatnya, ia memilih untuk menutup proyek penelitian, sekaligus menyimpan rapat-rapat hasil risetnya pada masyarakat luas.
Tapi kabarnya, ada seorang ilmuwan yang membocorkan temuan tersebut, antara lain kepada tim riset dari Health Sciences Institute, sebuah lembaga penelitian dunia yang berkedudukan di Inggris. Sejak saat itu, sebanyak 20 laboratorium di berbagai negara mulai melakukan berbagai penelitian terhadap sirsak.
Perlahan-lahan, rahasia itu mulai terkuak. Pada tahun 1976, The National Cancer Institute, Amerika, menemukan bahwa senyawa aktif yang terdapat dalam batang, daun, dan ranting daun sirsak, bernama annonaceous acetogenin, mampu menyerang dan melumpuhkan sel kanker.
Sekitar 20 tahun kemudian, beberapa penelitian yang dilakukan oleh Jerry L. McLaughlin, Nicholas H. Oberlies, Lu Zeng, dan Feng-E Wu dari Purdue University, Amerika, bekerjasama dengan Soelaksono Sastrodihardjo dari Institut Teknologi Bandung (ITB), menemukan bahwa senyawa tersebut bisa membedakan sel normal dan sel kanker, dan hanya membasmi sel kankernya saja.
Lebih hebatnya lagi, sel kanker yang sudah resisten terhadap obat bisa dilumpuhkan. Ini disebabkan, annonaceous acetogenin bekerja dengan cara menghambat sekaligus merusak produksi adenine triphosphat (ATP) yaitu semacam sumber energi bagi pertumbuhan sel kanker. Karena tidak memperoleh makanan dan tenaga untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya, sel-sel kanker itu akhirnya mati.
Kehebatan annonaceous acetogenin dalam sirsak ternyata juga dimiliki oleh “saudara” sirsak yang lain, yaitu srikaya (Annona cherimolia). Dal Hwan Kim dan rekan-rekannya dari Department of Pharmacy, Catholic University of Daegu, Gyeongsan, Korea, menemukan bahwa annonaceous acetogenin yang terdapat dalam biji srikaya memiliki aktivitas sebagai antikanker 10.000 kali lebih kuat dari Adriamycin (obat yang biasa digunakan dalam terapi kanker), saat diuji coba pada kasus tumor prostat, kanker payudara, dan kanker usus besar. Penelitian yang berjudul “Annomolin and Annocherimolin, New Cytotoxic Annonaceous Acetogenins from Annona Cherimolia” itu dimuat dalam Journal of Natural Product, Vol.64, tahun 2001.
Tetap kritis dan waspada
Sesungguhnya, belum ada pernyataan yang menegaskan bahwa annonaceous acetogenin yang terdapat dalam sirsak memiliki kesamaan dengan srikaya seperti penemuan Dal Hwan Kim itu. Kesimpulan bahwa daun sirsak lebih hebat dari kemoterapi, kemungkinan didasarkan pada kesamaan kandungan annonaceous acetogenin yang terdapat di dalamnya.
Namun berita yang berkembang di luar sana terlanjur membuat banyak orang berpendapat bahwa daun sirsak memiliki potensi lebih kuat dari kemoterapi. Terlebih, ada beberapa penderita kanker mengaku kondisinya jauh lebih baik bahkan sembuh setelah mengonsumsi daun sirsak.
Menanggapi fenomena ini, Dr Aldrin Neilwan, SpAK, MARS, M.Biomed, MKes, Kepala Unit Complementary Alternative Medicine (CAM) RS Kanker Dharmais, Jakarta, menilai, bagaimanapun, penemuan mengenai potensi daun sirsak sebagai obat kanker perlu disambut positif. “Namun yang perlu diingat, jangan sampai terbuai dengan berita bombastisnya saja! Tingkat keberhasilan seseorang terhadap suatu jenis pengobatan tidak bisa dipukul rata. Selain itu, proses kesembuhan penderita juga dipengaruhi oleh banyak faktor,” tuturnya.(N) Penulis : Dyah Pratitasari
Simak artikel lengkapnya di Nirmala 03/Tahun 11, edar 1 Maret 2011
Belakangan, daun sirsak memang jadi primadona. Khasiatnya dalam mengobati kanker sedang dibicarakan di seluruh penjuru dunia. Bukan hanya oleh masyarakat awam, namun juga kalangan medis dan ilmuwan. Kehebohan ini juga merambah dunia maya. Di situs mesin pencari Google, misalnya, topik “daun sirsak obat kanker” pada pertengahan Februari 2011 mencapai 284.000 buah, dan terdiri dari berbagai tulisan. Mulai dari artikel yang menyiarkan kabar kehebatan daun sirsak, hingga obrolan di dalam milis-milis yang mempertanyakan kebenarannya.
Sejak berabad-abad yang lalu
Jika orang menanggapi dengan bentuk antusiasme yang berbeda-beda, itu bisa dimaklumi. Bagi sebagian orang, kabar ini memang cukup mengejutkan. Selama ini sirsak tidak dikenal sebagai tanaman yang istimewa. Di Indonesia, pohon sirsak bisa tumbuh tanpa perawatan khusus di kebun atau halaman rumah. Buahnya pun bukan komoditi yang bernilai jual tinggi.
Belum banyak yang tahu, bahwa sesungguhnya, tanaman yang bernama Latin Annona muricata ini sudah lazim dimanfaatkan sebagai obat. Sejak berabad-abad yang lalu, suku Indian di kawasan Amerika Selatan menggunakan kulit kayu, akar, daun, buah, dan bijinya untuk mengatasi berbagai macam penyakit, seperti asma, rematik, gangguan liver, dan jantung. Nenek moyang kita pun sudah sering memanfaatkan daun dan buahnya untuk mengatasi gangguan sehari-hari, seperti anyang-anyangan (infeksi saluran kemih), ambeien, batuk, bisul, cacingan, diare, gatal-gatal, dan masih banyak lagi.
Seiring berjalannya waktu, beberapa referensi mencatat kekhasiatannya yang tidak lepas dari beberapa senyawa yang terkandung di dalamnya. Batang dan daun tanaman sirsak kaya akan tanin, fitosterol, kalsium oksalat, serta zat alkaloid. Sementara buahnya mengandung banyak protein, kalsium, fosfor, vitamin A, dan vitamin C. Kandungan tersebut membuat sirsak berkhasiat sebagai antioksidan, antibakteri, antijamur, antikejang, dan antiradang.
Penemuan mutakhir: antikanker
Khasiat sirsak sebagai antitumor dan antikanker konon bukan penemuan baru. Menurut beberapa sumber, risetnya sudah dilakukan sejak puluhan tahun yang lalu oleh sebuah perusahaan obat di Amerika. Namun, karena ada aturan dari pemerintah setempat yang mengatakan bahwa sumber alami untuk obat tidak bisa dipatenkan, perusahaan itu merasa tidak bakal memperoleh keuntungan. Akibatnya, ia memilih untuk menutup proyek penelitian, sekaligus menyimpan rapat-rapat hasil risetnya pada masyarakat luas.
Tapi kabarnya, ada seorang ilmuwan yang membocorkan temuan tersebut, antara lain kepada tim riset dari Health Sciences Institute, sebuah lembaga penelitian dunia yang berkedudukan di Inggris. Sejak saat itu, sebanyak 20 laboratorium di berbagai negara mulai melakukan berbagai penelitian terhadap sirsak.
Perlahan-lahan, rahasia itu mulai terkuak. Pada tahun 1976, The National Cancer Institute, Amerika, menemukan bahwa senyawa aktif yang terdapat dalam batang, daun, dan ranting daun sirsak, bernama annonaceous acetogenin, mampu menyerang dan melumpuhkan sel kanker.
Sekitar 20 tahun kemudian, beberapa penelitian yang dilakukan oleh Jerry L. McLaughlin, Nicholas H. Oberlies, Lu Zeng, dan Feng-E Wu dari Purdue University, Amerika, bekerjasama dengan Soelaksono Sastrodihardjo dari Institut Teknologi Bandung (ITB), menemukan bahwa senyawa tersebut bisa membedakan sel normal dan sel kanker, dan hanya membasmi sel kankernya saja.
Lebih hebatnya lagi, sel kanker yang sudah resisten terhadap obat bisa dilumpuhkan. Ini disebabkan, annonaceous acetogenin bekerja dengan cara menghambat sekaligus merusak produksi adenine triphosphat (ATP) yaitu semacam sumber energi bagi pertumbuhan sel kanker. Karena tidak memperoleh makanan dan tenaga untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya, sel-sel kanker itu akhirnya mati.
Kehebatan annonaceous acetogenin dalam sirsak ternyata juga dimiliki oleh “saudara” sirsak yang lain, yaitu srikaya (Annona cherimolia). Dal Hwan Kim dan rekan-rekannya dari Department of Pharmacy, Catholic University of Daegu, Gyeongsan, Korea, menemukan bahwa annonaceous acetogenin yang terdapat dalam biji srikaya memiliki aktivitas sebagai antikanker 10.000 kali lebih kuat dari Adriamycin (obat yang biasa digunakan dalam terapi kanker), saat diuji coba pada kasus tumor prostat, kanker payudara, dan kanker usus besar. Penelitian yang berjudul “Annomolin and Annocherimolin, New Cytotoxic Annonaceous Acetogenins from Annona Cherimolia” itu dimuat dalam Journal of Natural Product, Vol.64, tahun 2001.
Tetap kritis dan waspada
Sesungguhnya, belum ada pernyataan yang menegaskan bahwa annonaceous acetogenin yang terdapat dalam sirsak memiliki kesamaan dengan srikaya seperti penemuan Dal Hwan Kim itu. Kesimpulan bahwa daun sirsak lebih hebat dari kemoterapi, kemungkinan didasarkan pada kesamaan kandungan annonaceous acetogenin yang terdapat di dalamnya.
Namun berita yang berkembang di luar sana terlanjur membuat banyak orang berpendapat bahwa daun sirsak memiliki potensi lebih kuat dari kemoterapi. Terlebih, ada beberapa penderita kanker mengaku kondisinya jauh lebih baik bahkan sembuh setelah mengonsumsi daun sirsak.
Menanggapi fenomena ini, Dr Aldrin Neilwan, SpAK, MARS, M.Biomed, MKes, Kepala Unit Complementary Alternative Medicine (CAM) RS Kanker Dharmais, Jakarta, menilai, bagaimanapun, penemuan mengenai potensi daun sirsak sebagai obat kanker perlu disambut positif. “Namun yang perlu diingat, jangan sampai terbuai dengan berita bombastisnya saja! Tingkat keberhasilan seseorang terhadap suatu jenis pengobatan tidak bisa dipukul rata. Selain itu, proses kesembuhan penderita juga dipengaruhi oleh banyak faktor,” tuturnya.(N) Penulis : Dyah Pratitasari
Simak artikel lengkapnya di Nirmala 03/Tahun 11, edar 1 Maret 2011
90% Penyakit Dipicu dari Makanan
Jakarta, Tahukah Anda bahwa hampir 90 persen penyakit yang diderita oleh manusia ada hubungannya dengan makanan yang dikonsumsinya. Makanan menjadi pemicu penyakit-penyakit seram seperti diabetes atau jantung.
Memang ada penyakit yang diakibatkan genetik atau kelainan organ tapi itu jumlahnya tidak banyak. Sedangkan 90% penyakit dipicu oleh makanan mulai dari kekurangan gizi makanan atau makan secara berlebih yang semuanya berhubungan dengan pola makan yang tidak benar. Tapi banyak orang tidak peduli dan sering terdengar ungkapan, "Ini enggak sehat, itu enggak sehat terus makan apa?". Anda mungkin sudah tahu makanan berkolesterol tinggi, terlalu manis, alkohol tentu tidak baik, meski kalau hanya sesekali mencoba dalam dosis wajar tentu saja masih bisa ditolerasi.
Tapi yang menjadi masalah, kadang orang sudah tahu makanan itu tidak bermanfaat tapi tetap saja menuruti nafsunya. Maka jangan pernah merasa bosan jika ada yang mengingatkan agar pola makan Anda diperbaiki. Makanan akan terhubung dengan kesehatan saluran pencernaan yang sangat menentukan kualitas kesehatan orang tersebut.
Sistem pencernaan manusia dimulai dari mulut lalu melewati esofagus, masuk ke lambung diteruskan ke usus besar, usus 12 jari, usus kecil dan berakhir pada anus. Maka perjalanan dari makanan yang dikonsumsi oleh seseorang sangat panjang untuk diolah.
Dr. Epistel P Simatupang, SpPD dalam acara Seminar Umum 'Waspadai Saluran Cerna Anda & Hepatitis' di Siloam Hospital Kebun Jeruk, Jakarta, mengatakan masalah yang paling sering terjadi pada saluran pencernaan seseorang adalah peradangan esofagus, tukak lambung, peradangan usus 12 jari dan fungsionalis dispepsia yaitu adanya keluhan namun jika diperiksa secara endoskopi tidak ada luka pda saluran cernanya.
Dr Epistel juga menambahkan bahwa saat orang makan sebaiknya jangan minum terlalu banyak. Hal ini bisa mengencerkan enzim pencernaan yang membuat enzim tersebut tidak bekerja secara optimal dalam membantu proses pencernaan. Selain itu jangan makan terlalu banyak karena bisa membuat lambung memproduksi asam lambung yang berlebih.
"Usus besar manusia berfungsi untuk penyerapan air sedangkan hampir 90 persen penyerapan makanan terjadi di usus kecil. Dan sebaiknya orang mengonsumsi buah dalam bentuk padat karena bisa membantu otot wajah bekerja sehingga bentuk wajah seseorang masih bisa tetap bagus," ujar dokter yang mengambil program spesialis di Manila ini.
Dr Epistel memberikan beberapa tips agar bisa menjaga sistem pencernaan seseorang tetap baik, yaitu:
1. Perbanyak mengonsumsi buah dan sayuran, sehingga membuat otot lambung dan usus menjadi kuat.
2. Makanlah makanan yang mengandung antioksidan tinggi.
3. Hindari makanan yang melalui proses dalam pembuatannya seperti makanan instan.
4. Minumlah air putih 8 gelas sehari.
5. Hindari atau kurangi makanan yang mengandung gula tinggi (manis), lemak dan minyak.
6. Olahragalah secara teratur.
7. Pengendalian diri yang baik dari kebiasaan-kebiasaan buruk.
Jadi, jika ingin mendapatkan tubuh yang sehat dan terhindar dari penyakit, maka rawatlah saluran pencernaan Anda dengan memasukkan makanan yang berguna buat tubuh. Vera Farah Bararah - detikHealth
Memang ada penyakit yang diakibatkan genetik atau kelainan organ tapi itu jumlahnya tidak banyak. Sedangkan 90% penyakit dipicu oleh makanan mulai dari kekurangan gizi makanan atau makan secara berlebih yang semuanya berhubungan dengan pola makan yang tidak benar. Tapi banyak orang tidak peduli dan sering terdengar ungkapan, "Ini enggak sehat, itu enggak sehat terus makan apa?". Anda mungkin sudah tahu makanan berkolesterol tinggi, terlalu manis, alkohol tentu tidak baik, meski kalau hanya sesekali mencoba dalam dosis wajar tentu saja masih bisa ditolerasi.
Tapi yang menjadi masalah, kadang orang sudah tahu makanan itu tidak bermanfaat tapi tetap saja menuruti nafsunya. Maka jangan pernah merasa bosan jika ada yang mengingatkan agar pola makan Anda diperbaiki. Makanan akan terhubung dengan kesehatan saluran pencernaan yang sangat menentukan kualitas kesehatan orang tersebut.
Sistem pencernaan manusia dimulai dari mulut lalu melewati esofagus, masuk ke lambung diteruskan ke usus besar, usus 12 jari, usus kecil dan berakhir pada anus. Maka perjalanan dari makanan yang dikonsumsi oleh seseorang sangat panjang untuk diolah.
Dr. Epistel P Simatupang, SpPD dalam acara Seminar Umum 'Waspadai Saluran Cerna Anda & Hepatitis' di Siloam Hospital Kebun Jeruk, Jakarta, mengatakan masalah yang paling sering terjadi pada saluran pencernaan seseorang adalah peradangan esofagus, tukak lambung, peradangan usus 12 jari dan fungsionalis dispepsia yaitu adanya keluhan namun jika diperiksa secara endoskopi tidak ada luka pda saluran cernanya.
Dr Epistel juga menambahkan bahwa saat orang makan sebaiknya jangan minum terlalu banyak. Hal ini bisa mengencerkan enzim pencernaan yang membuat enzim tersebut tidak bekerja secara optimal dalam membantu proses pencernaan. Selain itu jangan makan terlalu banyak karena bisa membuat lambung memproduksi asam lambung yang berlebih.
"Usus besar manusia berfungsi untuk penyerapan air sedangkan hampir 90 persen penyerapan makanan terjadi di usus kecil. Dan sebaiknya orang mengonsumsi buah dalam bentuk padat karena bisa membantu otot wajah bekerja sehingga bentuk wajah seseorang masih bisa tetap bagus," ujar dokter yang mengambil program spesialis di Manila ini.
Dr Epistel memberikan beberapa tips agar bisa menjaga sistem pencernaan seseorang tetap baik, yaitu:
1. Perbanyak mengonsumsi buah dan sayuran, sehingga membuat otot lambung dan usus menjadi kuat.
2. Makanlah makanan yang mengandung antioksidan tinggi.
3. Hindari makanan yang melalui proses dalam pembuatannya seperti makanan instan.
4. Minumlah air putih 8 gelas sehari.
5. Hindari atau kurangi makanan yang mengandung gula tinggi (manis), lemak dan minyak.
6. Olahragalah secara teratur.
7. Pengendalian diri yang baik dari kebiasaan-kebiasaan buruk.
Jadi, jika ingin mendapatkan tubuh yang sehat dan terhindar dari penyakit, maka rawatlah saluran pencernaan Anda dengan memasukkan makanan yang berguna buat tubuh. Vera Farah Bararah - detikHealth
Biasakan Makan Makanan Rumah Agar Lebih Sehat
Kesibukan yang tinggi membuat orang banyak menghabiskan waktu di luar rumah yang membuatnya lebih sering jajan. Padahal sering jajan makin sulit mengontrol jumlah makanan yang masuk. Pakar kesehatan kini mengajak orang untuk membiasakan makan makanan rumah agar lebih sehat.
Makanan yang dibeli di luar dan makanan buatan rumah memiliki perbedaan seperti bahan yang digunakan, nilai gizi serta rasanya. Umumnya rasa makanan yang dibeli di luar lebih enak dan gurih.
Hal ini karena makanan yang dijual di luar lebih banyak mengandung bahan adiktif seperti senyawa kimia MSG (monosodium glutamat) yang membuat seseorang ingin makan lebih banyak lagi padahal makanan tersebut tidak sehat.
Di sisi lain, orang kadang malas untuk masak makanan rumah karena terbilang lebih repot dan rasanya mungkin tidak seenak jajan di luar.
Padalah ada beberapa kelebihan yang membuat makanan rumah jauh lebih baik daripada makanan luar seperti dikutip dari Mayo Clinic, Selasa (8/2/2011) yaitu:
1. Makanan rumah umumnya terdiri dari bahan-bahan yang sudah terpilih kualitasnya.
2. Makanan rumah memiliki nilai gizi yang lebih terjamin dibandingkan dengan makanan luar karena mengandung bahan berkualitas dan terhindar dari bahan adiktif makanan seperti MSG, sehingga bisa mencegah seseorang mengalami kelebihan berat badan.
3. Memiliki nilai kekeluargaan serta mengajarkan keluarga untuk terbiasa mengonsumsi makanan rumah yang sehat.
4. Makanan rumah jauh lebih sehat untuk dikonsumsi dan lebih sedikit kemungkinan terkontaminasi bakteri atau mikroorganisme lainnya karena berada di dalam rumah dan tertutup.
5. Rasa yang dimiliki lebih sesuai dengan citarasa pribadi dan kesegarannya lebih terjaga karena langsung dibuat, sehingga vitamin dan mineral yang terkandung dalam makanan tersebut tidak hilang.
6. Jika makanannya digoreng maka minyak yang digunakan umumnya masih baru atau tidak dipakai berkali-kali, karena minyak yang digunakan berulang-ulang hingga warnanya menjadi hitam bisa berbahaya bagi kesehatan.
7. Umumnya biaya yang dikeluarkan untuk membuat makanan rumah lebih murah.
Vera Farah Bararah - detikHealth
Makanan yang dibeli di luar dan makanan buatan rumah memiliki perbedaan seperti bahan yang digunakan, nilai gizi serta rasanya. Umumnya rasa makanan yang dibeli di luar lebih enak dan gurih.
Hal ini karena makanan yang dijual di luar lebih banyak mengandung bahan adiktif seperti senyawa kimia MSG (monosodium glutamat) yang membuat seseorang ingin makan lebih banyak lagi padahal makanan tersebut tidak sehat.
Di sisi lain, orang kadang malas untuk masak makanan rumah karena terbilang lebih repot dan rasanya mungkin tidak seenak jajan di luar.
Padalah ada beberapa kelebihan yang membuat makanan rumah jauh lebih baik daripada makanan luar seperti dikutip dari Mayo Clinic, Selasa (8/2/2011) yaitu:
1. Makanan rumah umumnya terdiri dari bahan-bahan yang sudah terpilih kualitasnya.
2. Makanan rumah memiliki nilai gizi yang lebih terjamin dibandingkan dengan makanan luar karena mengandung bahan berkualitas dan terhindar dari bahan adiktif makanan seperti MSG, sehingga bisa mencegah seseorang mengalami kelebihan berat badan.
3. Memiliki nilai kekeluargaan serta mengajarkan keluarga untuk terbiasa mengonsumsi makanan rumah yang sehat.
4. Makanan rumah jauh lebih sehat untuk dikonsumsi dan lebih sedikit kemungkinan terkontaminasi bakteri atau mikroorganisme lainnya karena berada di dalam rumah dan tertutup.
5. Rasa yang dimiliki lebih sesuai dengan citarasa pribadi dan kesegarannya lebih terjaga karena langsung dibuat, sehingga vitamin dan mineral yang terkandung dalam makanan tersebut tidak hilang.
6. Jika makanannya digoreng maka minyak yang digunakan umumnya masih baru atau tidak dipakai berkali-kali, karena minyak yang digunakan berulang-ulang hingga warnanya menjadi hitam bisa berbahaya bagi kesehatan.
7. Umumnya biaya yang dikeluarkan untuk membuat makanan rumah lebih murah.
Vera Farah Bararah - detikHealth
Langganan:
Postingan (Atom)