Yang Punya Sepeda dan mau sehat ato ikutan FUN BIKE (rute: Plaza Timur Senayan – Sudirman – Bunderan HI – Sudirman – Plaza Timur Senayan)
Acara Lain : FUN AEROBIC BAZAAR PERIKSA KESEHATAN GRATIS
Minggu 11 April 2010 mulai jam 06.00 WIB
Lokasi :
Plaza Timur Senayan
TIKET Rp 20.000,- dapet T-Shirt, Fatigon Hydro, Snack & Kupon Doorprize
Info hub panitia B2W Indonesia
Tel. 021-99997000, 021- 91266555,021-7265481,92093683
Acara dihadiri oleh Menpora RI & Wakil Gubernur DKI Jakarta
DOORPRIZE, siapin kuponnya ya ....
• 2 LCD TV
• 3 Netbook
• 5 Blackberry Gemini
• 5 Sepeda MTB B2W
• 5 Sepeda Lipat B2W
• 10 Wheelset
• 20 Jaket Sepeda
• 50 Helm Sepeda
• 50 Kacamata Sepeda
Kamis, 08 April 2010
Selasa, 06 April 2010
Kenapa Obat Indonesia lebih mahal daripada India dan China ?
Liputan Diskusi IDI Selasa 06/4
Saat ini, 80 persen bahan baku obat-obatan di Indonesia diimpor dari India dan China. Anehnya, walaupun harga bahan baku impor ini murah, setelah diproduksi menjadi obat-obatan "generik bermerek" oleh industri farmasi di Indonesia harganya menjadi berkali lipat lebih mahal dibandingkan harga obat yang sama di India dan China.
Ini tak lain karena industri farmasi di Indonesia masih terjangkit "penyakit" mencari keuntungan yang sebesar-besarnya, yang telah berlangsung sejak era Orde Baru.
"Industri farmasi di Indonesia masih tetap terjangkit 'penyakit' rent seeking," demikian diungkapkan Prof Dr Hasbullah Thabrany, MPH, Dr PH dari Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) saat ditemui dalam diskusi IDI di Hotel Bidakara, Jakarta, Selasa (6/4/2010).
Di samping itu, menurut Prof Hasbullah, mahalnya harga obat generik bermerek di Indonesia dibandingkan dengan negara-negara lain, seperti India dan China, disebabkan tidak adanya pengaturan harga jual obat generik bermerek yang jelas dari pemerintah.
Alhasil, harga obat tersebut jadi tidak terkendali. Sementara itu, di sisi lain, obat generik yang harganya terjangkau sangat sedikit ditemukan di sarana pelayanan kesehatan swasta di Indonesia, baik di RS maupun apotek.
Sarana pelayanan kesehatan yang ada cenderung hanya menyediakan obat generik bermerek dan obat paten dengan harga yang tentunya lebih mahal. "Tidak heran makanya kalau saat ini banyak juga masyarakat Indonesia yang membeli obat langsung ke India atau ke China karena lebih murah dari yang ada di Indonesia, tapi kualitasnya juga bagus," tandas Prof Hasbullah. Nasib Rakyat Indonesia memang begini. Lepas dari jajahan Belanda dan Jepang, kini dijajah bangsa sendiri.
Saat ini, 80 persen bahan baku obat-obatan di Indonesia diimpor dari India dan China. Anehnya, walaupun harga bahan baku impor ini murah, setelah diproduksi menjadi obat-obatan "generik bermerek" oleh industri farmasi di Indonesia harganya menjadi berkali lipat lebih mahal dibandingkan harga obat yang sama di India dan China.
Ini tak lain karena industri farmasi di Indonesia masih terjangkit "penyakit" mencari keuntungan yang sebesar-besarnya, yang telah berlangsung sejak era Orde Baru.
"Industri farmasi di Indonesia masih tetap terjangkit 'penyakit' rent seeking," demikian diungkapkan Prof Dr Hasbullah Thabrany, MPH, Dr PH dari Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) saat ditemui dalam diskusi IDI di Hotel Bidakara, Jakarta, Selasa (6/4/2010).
Di samping itu, menurut Prof Hasbullah, mahalnya harga obat generik bermerek di Indonesia dibandingkan dengan negara-negara lain, seperti India dan China, disebabkan tidak adanya pengaturan harga jual obat generik bermerek yang jelas dari pemerintah.
Alhasil, harga obat tersebut jadi tidak terkendali. Sementara itu, di sisi lain, obat generik yang harganya terjangkau sangat sedikit ditemukan di sarana pelayanan kesehatan swasta di Indonesia, baik di RS maupun apotek.
Sarana pelayanan kesehatan yang ada cenderung hanya menyediakan obat generik bermerek dan obat paten dengan harga yang tentunya lebih mahal. "Tidak heran makanya kalau saat ini banyak juga masyarakat Indonesia yang membeli obat langsung ke India atau ke China karena lebih murah dari yang ada di Indonesia, tapi kualitasnya juga bagus," tandas Prof Hasbullah. Nasib Rakyat Indonesia memang begini. Lepas dari jajahan Belanda dan Jepang, kini dijajah bangsa sendiri.
Dokter "Berbisnis", Obat Generik Tak Dilirik
Senin, 29 Maret 2010 | 16:22 WIB
MEDAN, KOMPAS.com — Penggunaan obat generik dinilai belum menjadi "primadona" bagi para dokter, baik yang bekerja di sarana pelayanan pemerintah maupun swasta karena masih banyak di antara mereka yang hanya memberikan resep obat paten kepada pasien.
Pengamat kesehatan dari Universitas Sumatera Utara (USU), Destanul Aulia, Senin di Medan, mengatakan, masih minimnya dokter yang memberikan resep obat generik kepada pasien patut disesali, padahal kualitas obat generik tidak kalah dibanding obat paten.
Menurutnya, kondisi ini harus mendapat perhatian serius dari semua pihak, terutama dinas kesehatan dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) . Padahal, Kemenkes juga telah mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor HK.02.02/MENKES/068/I/2010 tentang Kewajiban Menggunakan Obat Generik di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah.
Ia menilai, ada beberapa hal yang menyebabkan dokter enggan memberikan resep obat generik kepada pasien. Pertama, bisnis antara dokter dan perusahaan farmasi.
"Mungkin perusahaan farmasi memberikan insentif kepada dokter yang meresepkan obat paten produk mereka.
Ada juga dokter yang memang "nakal" dengan mengatakan bahwa stok obat generik telah habis, padahal masih tersedia cukup banyak.
"Ya itu tadi penyebabnya. Semakin banyak dokter yang meresepkan obat paten kepada pasien, dia juga akan mendapat insentif lebih banyak dari perusahaan farmasi," terangnya.
Menurutnya, ada beberapa langkah yang bisa diterapkan oleh pemerintah agar obat generik tidak lagi menjadi obat nomor dua. Misalnya dengan membatasi peredaran obat paten di pasaran dan lebih memperbanyak peredaran obat generik dan pemerintah lebih gencar mempromosikan penggunaan obat generik kepada masyarakat. Masyarakat juga harus lebih berani meminta resep obat generik kepada dokter," ujarnya.
MEDAN, KOMPAS.com — Penggunaan obat generik dinilai belum menjadi "primadona" bagi para dokter, baik yang bekerja di sarana pelayanan pemerintah maupun swasta karena masih banyak di antara mereka yang hanya memberikan resep obat paten kepada pasien.
Pengamat kesehatan dari Universitas Sumatera Utara (USU), Destanul Aulia, Senin di Medan, mengatakan, masih minimnya dokter yang memberikan resep obat generik kepada pasien patut disesali, padahal kualitas obat generik tidak kalah dibanding obat paten.
Menurutnya, kondisi ini harus mendapat perhatian serius dari semua pihak, terutama dinas kesehatan dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) . Padahal, Kemenkes juga telah mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor HK.02.02/MENKES/068/I/2010 tentang Kewajiban Menggunakan Obat Generik di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah.
Ia menilai, ada beberapa hal yang menyebabkan dokter enggan memberikan resep obat generik kepada pasien. Pertama, bisnis antara dokter dan perusahaan farmasi.
"Mungkin perusahaan farmasi memberikan insentif kepada dokter yang meresepkan obat paten produk mereka.
Ada juga dokter yang memang "nakal" dengan mengatakan bahwa stok obat generik telah habis, padahal masih tersedia cukup banyak.
"Ya itu tadi penyebabnya. Semakin banyak dokter yang meresepkan obat paten kepada pasien, dia juga akan mendapat insentif lebih banyak dari perusahaan farmasi," terangnya.
Menurutnya, ada beberapa langkah yang bisa diterapkan oleh pemerintah agar obat generik tidak lagi menjadi obat nomor dua. Misalnya dengan membatasi peredaran obat paten di pasaran dan lebih memperbanyak peredaran obat generik dan pemerintah lebih gencar mempromosikan penggunaan obat generik kepada masyarakat. Masyarakat juga harus lebih berani meminta resep obat generik kepada dokter," ujarnya.
Minggu, 04 April 2010
Fun Bike wong Suroboyo Minggu 11 April 2010
Fun Bike hari Minggu, (11/4/2010).
Untuk fun bike, -+ 20 km dengan peserta 4000 orang, dan start 3 wilayah yaitu dari Sidoarjo, Bangkalan dan kantor Kompas Surabaya. semuanya finish di lap lapangan Markas Kodam V/Brawijaya Jl R Wijaya.
Untuk fun bike, -+ 20 km dengan peserta 4000 orang, dan start 3 wilayah yaitu dari Sidoarjo, Bangkalan dan kantor Kompas Surabaya. semuanya finish di lap lapangan Markas Kodam V/Brawijaya Jl R Wijaya.
Sabtu, 03 April 2010
..sebentar lagi Hari Kesehatan seDunia 7 April 2010
Jakarta (ANTARA) - Hari Kesehatan Sedunia (HKS) yang diperingati setiap tanggal 7 April akan bertemakan "Urbanisasi dan Kesehatan" , karena urbanisasi sangat besar pengaruhnya baik terhadap kesehatan global maupun kesehatan individu.
Siaran pers Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan yang diterima ANTARA di Jakarta, Selasa, menyebutkan, di Indonesia tema ini akan disubtemakan menjadi "Kota Sehat, Warga Sehat" dengan slogan "1000 Kota, 1000 Kehidupan".
Subtema "Kota Sehat, Warga Sehat" dipilih karena kebijakan kota sehat telah berjalan di Indonesia, tetapi masih ditemukan kendala yaitu penyediaan air minum dan sanitasi lingkungan.
Untuk mengatasinya, diperlukan komitmen semua pemangku kepentingan dan komponen masyarakat untuk mewujudkan kota sehat yang sekaligus berdampak pada peningkatan kesehatan warganya.
Slogan 1000 Kota mempunyai makna suatu ajakan atau motivasi agar lebih dari 1000 kota berikut pimpinan/penentu kebijakan berpartisipasi dalam kegiatan peringatan HKS ke-62.
Sedangkan 1000 Kehidupan mempunyai makna adanya penggerak/ pahlawan yang melakukan aktivitas meningkatkan kesehatan di lingkungan kehidupannya.
Di Indonesia, pada tahun 2009, lebih dari 43 persen penduduk tinggal di wilayah perkotaan, dan menurut prediksi pada tahun 2025 akan meningkat menjadi 60 persen.
Peringatan HKS ke-62 di Indonesia di tingkat nasional, acara puncaknya akan diselenggarakan di Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, yang akan dihadiri antara lain oleh para menteri dan perwakilan WHO.
Sementara di tingkat provinsi, kabupaten/ kota peringatan HKS ke-62 diperingati dengan berbagai kegiatan, misalnya pemberlakuan Hari Tanpa Kendaraan Bermotor di jalan-jalan utama, perluasan Kawasan Tanpa Rokok di sekolah, pelayanan kesehatan, tempat kerja dan tempat umum lainnya seperti restoran dan tempat ibadah. sumber kantor berita Antara News
Siaran pers Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan yang diterima ANTARA di Jakarta, Selasa, menyebutkan, di Indonesia tema ini akan disubtemakan menjadi "Kota Sehat, Warga Sehat" dengan slogan "1000 Kota, 1000 Kehidupan".
Subtema "Kota Sehat, Warga Sehat" dipilih karena kebijakan kota sehat telah berjalan di Indonesia, tetapi masih ditemukan kendala yaitu penyediaan air minum dan sanitasi lingkungan.
Untuk mengatasinya, diperlukan komitmen semua pemangku kepentingan dan komponen masyarakat untuk mewujudkan kota sehat yang sekaligus berdampak pada peningkatan kesehatan warganya.
Slogan 1000 Kota mempunyai makna suatu ajakan atau motivasi agar lebih dari 1000 kota berikut pimpinan/penentu kebijakan berpartisipasi dalam kegiatan peringatan HKS ke-62.
Sedangkan 1000 Kehidupan mempunyai makna adanya penggerak/ pahlawan yang melakukan aktivitas meningkatkan kesehatan di lingkungan kehidupannya.
Di Indonesia, pada tahun 2009, lebih dari 43 persen penduduk tinggal di wilayah perkotaan, dan menurut prediksi pada tahun 2025 akan meningkat menjadi 60 persen.
Peringatan HKS ke-62 di Indonesia di tingkat nasional, acara puncaknya akan diselenggarakan di Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, yang akan dihadiri antara lain oleh para menteri dan perwakilan WHO.
Sementara di tingkat provinsi, kabupaten/ kota peringatan HKS ke-62 diperingati dengan berbagai kegiatan, misalnya pemberlakuan Hari Tanpa Kendaraan Bermotor di jalan-jalan utama, perluasan Kawasan Tanpa Rokok di sekolah, pelayanan kesehatan, tempat kerja dan tempat umum lainnya seperti restoran dan tempat ibadah. sumber kantor berita Antara News
Memilih Obat Herbal untuk Kanker
Liputan Seminar Terapi Herbal untuk Kanker
Orang yang takut dengan obat-obat medis biasanya memilih herbal karena dianggap tidak ada efek samping. Persepsi itu ternyata salah, karena sesuatu yang beraktifitas dalam tubuh baik itu obat medis ataupun obat herbal tetap punya efek samping. Namun efeknya tergantung dari obat itu masing-masing.
Demikian dikatakan dr Aldrin Neilwan. P, MD. MARS, M.Biomed, M.Kes, SpAK, Kepala Unit Complementary Alternative Medicine (CAM) RS Kanker Dharmais dalam Talkshow Pengobatan Alami kanker untuk masyarakat umum yang diadakan RS Kanker Dharmais Jakarta, Selasa (9/3/2010).
"Dokter dapat meresepkan obat herbal pada pasien sebagai terapi penunjang," kata dr Aldrin yang juga sekretaris umum Indonesian Medical Association in Herbal Medicine (IMAHM).
Namun tak sembarang obat herbal bisa diresepkan oleh seorang dokter. Dokter yang memberikan resep obat herbal juga harus memiliki izin khusus.
Syarat yang direkomendasikan untuk penggunaan herbal yang aman adalah:
1. Dokter
Harus tersertifikasi organisasi profesi
2. Herbal atau jamu
Harus teregisterasi BPOM. Untuk herbal yang diresepkan dokter harus produk fitofarmaka yakni obat bahan alam yang telah dibuktikan secara ilmiah melalui uji praklinik (melalui hewan) dan klinik (melalui manusia) yang bahan baku dan produk jadinya telah distandarisasi.
3. Sarana Pelayanan Kesehatan (Saryankes)
Harus terdaftar sebagai pemberi layanan Pembinaan Kesehatan Masyarakat (PKA) oleh Departemen Kesehatan.
4. Pasien
Harus kooperatif dan dapat menerima informasi tentang herbal tersebut dengan sejelas-jelasnya
Sedangkan obat herbal yang aman adalah yang telah terstandarisasi sebagai berikut:
1. Adanya pendampingan terhadap para petani tanaman obat
2. Adanya pendampingan teknologi budidaya
3. Standarisasi tanah, jenis tanaman, cara tanam, dan waktu panen
4. Uji secara praklinis (terhadap hewan percobaan) dan klinis (terhadap manusia)
Menurut dr Aldrin mengonsumsi obat-obatan herbal tidak salah. Asalkan tiga aspek utama terpenuhi, yaitu aman, bermanfaat, dan bermutu. Serta satu aspek tambahan lagi yaitu ilmiah (tidak empiris atau sekedar testimoni). Dokter juga seharusnya membina agar apa yang beredar di masyarakat benar-benar aman.
"Para dokter bukan anti pengobatan alternatif, kami hanya berusaha memberi pencerahan dan informasi sejelas-jelasnya sehingga pasien dapat memutuskan sendiri mana yang terbaik untuknya," kata dr Aldrin.
Khususnya untuk penyakit kanker, obat herbal yang direkomendasikan dr Aldrin adalah yang mengandung imun modulator (peningkat sistem kekebalan tubuh) dan antioksidan yang tinggi.
Yang harus diperhatikan menurut dr Aldrin adalah pemakaiannya. Penggunaan obat tradisional bisa digunakan pada tahap prepatogenesis (pencegahan) dan paliatif (tindakan untuk meringankan beban penderita kanker terutama yang tidak bisa disembuhkan).
Obat-obat herbal hanya bisa menghambat perkembangan sel kanker, bukan mematikan sel-sel tersebut. Maka itu pengobatan medis seperti kemoterapi dan radiasi tetap harus dilakukan jika si pasien ingin sembuh dan sel kankernya mati.
dr Aldrin juga menyarankan bahwa konsumsi obat-obat herbal ini sebaiknya diberi jeda dengan obat medis, agar efek obat tidak saling meniadakan misalnya diberi jeda 1 jam
Orang yang takut dengan obat-obat medis biasanya memilih herbal karena dianggap tidak ada efek samping. Persepsi itu ternyata salah, karena sesuatu yang beraktifitas dalam tubuh baik itu obat medis ataupun obat herbal tetap punya efek samping. Namun efeknya tergantung dari obat itu masing-masing.
Demikian dikatakan dr Aldrin Neilwan. P, MD. MARS, M.Biomed, M.Kes, SpAK, Kepala Unit Complementary Alternative Medicine (CAM) RS Kanker Dharmais dalam Talkshow Pengobatan Alami kanker untuk masyarakat umum yang diadakan RS Kanker Dharmais Jakarta, Selasa (9/3/2010).
"Dokter dapat meresepkan obat herbal pada pasien sebagai terapi penunjang," kata dr Aldrin yang juga sekretaris umum Indonesian Medical Association in Herbal Medicine (IMAHM).
Namun tak sembarang obat herbal bisa diresepkan oleh seorang dokter. Dokter yang memberikan resep obat herbal juga harus memiliki izin khusus.
Syarat yang direkomendasikan untuk penggunaan herbal yang aman adalah:
1. Dokter
Harus tersertifikasi organisasi profesi
2. Herbal atau jamu
Harus teregisterasi BPOM. Untuk herbal yang diresepkan dokter harus produk fitofarmaka yakni obat bahan alam yang telah dibuktikan secara ilmiah melalui uji praklinik (melalui hewan) dan klinik (melalui manusia) yang bahan baku dan produk jadinya telah distandarisasi.
3. Sarana Pelayanan Kesehatan (Saryankes)
Harus terdaftar sebagai pemberi layanan Pembinaan Kesehatan Masyarakat (PKA) oleh Departemen Kesehatan.
4. Pasien
Harus kooperatif dan dapat menerima informasi tentang herbal tersebut dengan sejelas-jelasnya
Sedangkan obat herbal yang aman adalah yang telah terstandarisasi sebagai berikut:
1. Adanya pendampingan terhadap para petani tanaman obat
2. Adanya pendampingan teknologi budidaya
3. Standarisasi tanah, jenis tanaman, cara tanam, dan waktu panen
4. Uji secara praklinis (terhadap hewan percobaan) dan klinis (terhadap manusia)
Menurut dr Aldrin mengonsumsi obat-obatan herbal tidak salah. Asalkan tiga aspek utama terpenuhi, yaitu aman, bermanfaat, dan bermutu. Serta satu aspek tambahan lagi yaitu ilmiah (tidak empiris atau sekedar testimoni). Dokter juga seharusnya membina agar apa yang beredar di masyarakat benar-benar aman.
"Para dokter bukan anti pengobatan alternatif, kami hanya berusaha memberi pencerahan dan informasi sejelas-jelasnya sehingga pasien dapat memutuskan sendiri mana yang terbaik untuknya," kata dr Aldrin.
Khususnya untuk penyakit kanker, obat herbal yang direkomendasikan dr Aldrin adalah yang mengandung imun modulator (peningkat sistem kekebalan tubuh) dan antioksidan yang tinggi.
Yang harus diperhatikan menurut dr Aldrin adalah pemakaiannya. Penggunaan obat tradisional bisa digunakan pada tahap prepatogenesis (pencegahan) dan paliatif (tindakan untuk meringankan beban penderita kanker terutama yang tidak bisa disembuhkan).
Obat-obat herbal hanya bisa menghambat perkembangan sel kanker, bukan mematikan sel-sel tersebut. Maka itu pengobatan medis seperti kemoterapi dan radiasi tetap harus dilakukan jika si pasien ingin sembuh dan sel kankernya mati.
dr Aldrin juga menyarankan bahwa konsumsi obat-obat herbal ini sebaiknya diberi jeda dengan obat medis, agar efek obat tidak saling meniadakan misalnya diberi jeda 1 jam
Talkshow Kanker Serviks Sabtu 3 April 2010
..ayo refreshing sambil tambah ilmu
Talkshow Deteksi Dini & Pencegahan Kanker Serviks
Sabtu, 3 April 2010 pk 18.30 - 20.30
di ged gramedia expo jl Basuki Rahmat 105 Surabaya
Gratis.
Talkshow Deteksi Dini & Pencegahan Kanker Serviks
Sabtu, 3 April 2010 pk 18.30 - 20.30
di ged gramedia expo jl Basuki Rahmat 105 Surabaya
Gratis.
Langganan:
Postingan (Atom)