PB PASI yang ke-7 kalinya menggelar Jakarta Internasional 10K (JI10K). Siapkah Anda untuk jadi "Raja Jakarta" tahun ini? Event ini akan berlangsung pada hari Minggu 20 Juni 2010 mulai jam 06.00 dengan start di Monas. Route yang ditempuh Monas - HI - Sudirman - Semanggi dan berputar menuju finish ke tempat semula.
Yang mau ikut acara iini gratis cuma daftar bawa fotokopi KTP ke alamat di bawah ini:
Kantor Disorda di lima wilayah DKI Jakarta,
1.Jl. Tanah Abang I Blok C jakarta Pusat, telp 021 3519083
2.Jl. Yos Sudarso no. 27-29 Jakarta Utara, telp 021 435 8780
3.Jl. Raya Kembangan No.2 Jakarta Barat, telp 021 582 1761
4.Jl. Prapanca Raya no. 9 Blop P Jakarta Selatan, telp 021 720 5891
5.Jl. Sentra Primer Baru Jakarta Timur, telp 021 480 2037
Sekretariat PB PASI
Stadion Madya Senayan, Jl. Asia Afrika no. 18-19 Senayan
Fakultas Ilmu Olah Raga, Kampus Universitas Negeri Jakarta.
Jl. Pemuda No. 10 Rawamangun Jakarta Timur.
Gedung Dinas Olahraga dan Pemuda Provinsi DKI Jakarta
Bidang Olahraga Prestasi, Lt. 2
Jl. Raya Jatinegara Timur No. 55 Jakarta Timur
Paling lambart 17 Juni, buruan ya......
Selasa, 15 Juni 2010
Seminar Jangan Biarkan Vertigo Mengganggu Aktivitas Anda
Kembali RS Siloam Kebun Jeruk menggelar Seminar Kesehatan kali ini dengan tema "Jangan Biarkan Vertigo mengganggu Aktivitas Anda" pada hari Sabtu 19 Juni 2010 jam 09.00-12.00
di RS SIloam Kebon Jeruk Jakarta Barat.
Iuran cuma rp 20.000 (dapat snack, makalah, makan siang, produk sponsor. Yang berminat cepetan daftar yaaa.
di RS SIloam Kebon Jeruk Jakarta Barat.
Iuran cuma rp 20.000 (dapat snack, makalah, makan siang, produk sponsor. Yang berminat cepetan daftar yaaa.
Pola Makan Sehat dengan Serat
Klikdokter-Kita semua tahu bahwa serat memiliki banyak keuntungan apabila dikonsumsi. Bukan hanya menurunkan kolesterol, serat juga dapat mengurangi berat badan dan mengurangi risiko terkena kanker usus besar. Jadi bagaimana memenuhi kebutuhan serat tubuh setiap harinya?
Para ahli merekomendasikan asupan serat sebanyak 25 gram sehari untuk mereka dengan asupan kalori 2000 kal/hari. Sebelum anda mulai mengonsumsi diet tinggi serat, ingatlah untuk selalu mengimbanginya dengan asupan cairan yang banyak (8 gelas/hari). Tingkatkanlah asupan serat anda perlahan-lahan untuk membantu adaptasi dari saluran cerna. Beberapa jenis makanan yang dapat dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan serat tubuh dalam sehari adalah:
1. Konsumsilah ‘whole grains’ apabila memungkinkan
- 2 potong roti gandum = 4 gram serat
- 1 mangkok nasi yang berasal dari beras merah = 4 gram serat
- biskuit rendah lemak = 3 gram serat
2. Konsumsi sereal atau makanan tinggi serat untuk sarapan
- 1 mangkok oatmeal = 3 gram serat
- 1 mangkok sereal tinggi serat = 5-7,5 gram serat
- 2 potong roti gandum = 4 gram serat
3. Makanlah buncis beberapa kali seminggu. Buncis atau kacang-kacangan mengandung cukup banyak serat dibandingkan sayuran lain yang sejenis. Buncis dan kacang-kacangan juga dilengkapi dengan berbagai protein nabati
4. Konsumsi buah beberapa kali setiap hari
- 1 apel besar = 4 gram serat
- 1 buah pisang = 3 gram serat
- 1 buah pir = 4 gram serat
- 1 mangkok strawberi = 4 gram serat
5. Konsumsilah sayuran beberapa kali setiap harinya
- ½ potong wortel = 5 gram serat
- 1 mangkok brokoli masak = 4,5 gram serat
- 1 potong kentang = 4 gram serat
- 1 mangkok kembang kol = 3 gram serat
- 2 mangkok daun bayam = 3 gram serat
Para ahli merekomendasikan asupan serat sebanyak 25 gram sehari untuk mereka dengan asupan kalori 2000 kal/hari. Sebelum anda mulai mengonsumsi diet tinggi serat, ingatlah untuk selalu mengimbanginya dengan asupan cairan yang banyak (8 gelas/hari). Tingkatkanlah asupan serat anda perlahan-lahan untuk membantu adaptasi dari saluran cerna. Beberapa jenis makanan yang dapat dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan serat tubuh dalam sehari adalah:
1. Konsumsilah ‘whole grains’ apabila memungkinkan
- 2 potong roti gandum = 4 gram serat
- 1 mangkok nasi yang berasal dari beras merah = 4 gram serat
- biskuit rendah lemak = 3 gram serat
2. Konsumsi sereal atau makanan tinggi serat untuk sarapan
- 1 mangkok oatmeal = 3 gram serat
- 1 mangkok sereal tinggi serat = 5-7,5 gram serat
- 2 potong roti gandum = 4 gram serat
3. Makanlah buncis beberapa kali seminggu. Buncis atau kacang-kacangan mengandung cukup banyak serat dibandingkan sayuran lain yang sejenis. Buncis dan kacang-kacangan juga dilengkapi dengan berbagai protein nabati
4. Konsumsi buah beberapa kali setiap hari
- 1 apel besar = 4 gram serat
- 1 buah pisang = 3 gram serat
- 1 buah pir = 4 gram serat
- 1 mangkok strawberi = 4 gram serat
5. Konsumsilah sayuran beberapa kali setiap harinya
- ½ potong wortel = 5 gram serat
- 1 mangkok brokoli masak = 4,5 gram serat
- 1 potong kentang = 4 gram serat
- 1 mangkok kembang kol = 3 gram serat
- 2 mangkok daun bayam = 3 gram serat
Talkshow "Pola Makan Sehat " 18 Juni 2010
Ikuti Talkshow Bincang-bincang Ringan tema "Pola Makan Sehat"
dalam rangka PKS Expo Jum'at 18 Juni 2010 jam 13.00 - 16.00
bersama dr Rita Lestari & dr Ambun Sari
di Semanggi Expo SCBD Sudirman Jakarta. Gratis. Info 93096415.
dalam rangka PKS Expo Jum'at 18 Juni 2010 jam 13.00 - 16.00
bersama dr Rita Lestari & dr Ambun Sari
di Semanggi Expo SCBD Sudirman Jakarta. Gratis. Info 93096415.
Hari Donor Darah seDunia 14 Juni 2010
Memperingati Hari Darah Sedunia kemarin Senin 14/6, PMI dibawah nakhoda Yusuf Kalla mengkampanyekan donor darah dengan ”menembak” sasaran para pendonor berusia muda.
“PMI membuka Gerai Donor Darahnya di berbagai mal dan kampus. Supaya masyarakat juga mudah mendonorkan darahnya,” ucap Jusuf Kalla. Ia juga telah membayangkan bagaimana percakapan para anak muda Indonesia akan berkisar pada betapa pentingnya mendonorkan darah untuk menyelamatkan jiwa sesama.
Selain itu PMI menggelar peluncuran Program Gerai UDD di The Hall, Lantai 8 Senayan City, Senin siang 14/6 tepat pukul 13.00 WIB. Peresmian akan dilakukan langsung oleh Ketua Umum PMI Jusuf Kalla di Unit Donor Darah (UDD) yang terletak di Crystal Lagoon, Lantai LG Senayan City. Acara ini juga disertai dengan aksi donor darah yang menargetkan akan mencapai 500 kantong darah.
Dalam waktu dekat, Gerai UDD juga dibuka di Tanah Abang, Universitas Trisakti, dan selanjutnya dalam waktu dekat juga akan didirikan di Mal Makassar dan Universitas Hasanudin (UNHAS) Makassar, Olympic Garden Malang, Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya, dan Universitas Jember. Gerai UDD akan beroperasi setiap hari selama 8 jam dengan target minimal 50 pendonor setiap hari.
“PMI membuka Gerai Donor Darahnya di berbagai mal dan kampus. Supaya masyarakat juga mudah mendonorkan darahnya,” ucap Jusuf Kalla. Ia juga telah membayangkan bagaimana percakapan para anak muda Indonesia akan berkisar pada betapa pentingnya mendonorkan darah untuk menyelamatkan jiwa sesama.
Selain itu PMI menggelar peluncuran Program Gerai UDD di The Hall, Lantai 8 Senayan City, Senin siang 14/6 tepat pukul 13.00 WIB. Peresmian akan dilakukan langsung oleh Ketua Umum PMI Jusuf Kalla di Unit Donor Darah (UDD) yang terletak di Crystal Lagoon, Lantai LG Senayan City. Acara ini juga disertai dengan aksi donor darah yang menargetkan akan mencapai 500 kantong darah.
Dalam waktu dekat, Gerai UDD juga dibuka di Tanah Abang, Universitas Trisakti, dan selanjutnya dalam waktu dekat juga akan didirikan di Mal Makassar dan Universitas Hasanudin (UNHAS) Makassar, Olympic Garden Malang, Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya, dan Universitas Jember. Gerai UDD akan beroperasi setiap hari selama 8 jam dengan target minimal 50 pendonor setiap hari.
Jumat, 28 Mei 2010
Penting bagi yang punya bayi : Bakteri Baik
Bakteri Baik Selamatkan Bayi dari Diare
KEHADIRAN buah hati yang sehat dan cerdas merupakan dambaan para orang tua. Sayangnya, proses tumbuh kembang si kecil kerapkali terganggu oleh berbagai masalah kesehatan. Salah satu gangguan kesehatan yang banyak diderita bayi dan anak-anak berusia di bawah lima tahun adalah diare dan alergi.
Cut Fabiayya, misalnya, menderita alergi dan mencret saat baru berusia lebih dari satu bulan. Bagian pipinya ruam merah. Ia juga mencret berulang kali dalam sehari. Padahal, begitu pulang dari rumah sakit, ia mendapat air susu ibu (ASI) secara eksklusif dari ibunya.
Setelah diperiksa dokter, ternyata ia menderita alergi. Bakat alergi itu berasal dari kedua orang tuanya yang menderita asma. Penyebabnya, selama menyusui, ibunya mengonsumsi susu untuk ibu menyusui dan beberapa jenis makanan yang berpotensi menimbulkan alergi. Untuk mengurangi risiko alergi, selama menyusui, Rifsia, ibu dari Cut Fabiayya, lalu pantang makan ikan laut, kacang tanah, dan telur.
Hal serupa juga dialami Raka Pratama saat menginjak usia lima bulan. Karena sampai dua hari setelah lahir ASI ibunya belum keluar, Raka kemudian diberi susu formula. Beberapa hari kemudian, ia menderita panas tinggi, kulitnya kemerahan terutama di bagian muka, kaki dan badan. Setelah diberi antibiotik, Raka malah mencret sampai 15 kali dalam sehari, tinja yang keluar berlendir dan bercampur dengan sedikit darah, dan pada tubuhnya keluar bercak-bercak merah.
Karena ibunya memiliki riwayat menderita asma, dokter mulai mencurigai adanya gejala alergi susu sapi sehingga disarankan agar susu formula yang biasa dikonsumsi Raka diganti dengan susu formula berbahan dasar kedelai. Setelah diobati dan berganti jenis susu, diarenya cepat sembuh. "Bercak kemerahan pada kulit Raka juga hilang," kata Ny Titin, nenek dari Raka yang sehari-hari tinggal di Ciledug, Tangerang.
Awal kelahiran
Masalah diare dan reaksi alergi dialami bayi-bayi dan kelompok anak berusia di bawah lima tahun di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia. Bila tidak segera diatasi, bayi dan anak balita yang menderita diare dan alergi akan terganggu proses tumbuh kembangnya pada periode emas pertumbuhan.
Hasil penelitian yang dilakukan Prof Bengt Björkstén dari Institut Karolinska Swedia Björksté n pada tahun 2001 membuktikan, bayi-bayi penderita alergi terbukti mempunyai lebih sedikit Bifidobakteria pada feses atau tinja hingga mereka berusia lima tahun. Sejumlah riset dalam 10 tahun terakhir juga membuktikan perbedaan mencolok komposisi mikrobiota bayi sehat dan alergi di negara-negara dengan prevalensi alergi rendah dan tinggi.
Menurut Bengt Björkstén, pengaruh kondisi awal kelahiran, termasuk cara kelahiran dan penggunaan antibiotik, mempunyai efek sangat besar terhadap pola mikroflora (jasad renik berukuran kecil seperti bakteri dan jamur) saluran cerna. Mikroflora itu sangat penting untuk merangsang sistem daya tahan tubuh dalam kondisi normal, ujarnya menegaskan.
Hasil penelitian (Gronlund et al, Clin Exp Allergy 1999) memperlihatkan, keberadaan bakteri menguntungkan seperti Bifidobakteria pada bayi yang lahir cesar akan tertunda, dan dibutuhkan waktu hingga 6 bulan untuk menyamai bayi yang lahir normal. Oleh karena, bayi yang lahir cesar akan steril dari bakteri baik saat dilahirkan, sedangkan bayi lahir normal telah terpapar bakteri ketika dilahirkan.
Padahal bakteri baik seperti Bifidobakteria (kelompok bakteri menguntungkan atau probiotik di saluran cerna) yang diperoleh pada periode awal kelahiran, diperlukan untuk mengenali dan membentuk toleransi terhadap zat-zat asing yang masuk ke tubuh. Dominasi Bifidobakteria dalam saluran cerna terbukti dapat menekan pertumbuhan bakteri patogen sehingga bisa membantu kekebalan lokal di daerah pencernaan pada bayi.
"Pentingnya peranan bakteri menguntungkan ini menjelaskan mengapa bayi yang dilahirkan secara cesar dilaporkan memiliki angka kejadian alergi dan infeksi yang lebih tinggi," kata Kepala Divisi Gastrohepatologi Departemen Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo Prof Agus Firmansyah.
Probiotik
Sejumlah penelitian secara klinis menunjukkan, pemakaian beberapa jenis probiotik memberi efek sedang untuk mengatasi eksim pada bayi . Hal ini menarik untuk mengetahui potensi pencegahan alergi dengan mempengaruhi mikroflora saluran cerna melalui pemberian probiotik mikroorganisme non patogen yang memberi manfaat bagi yang mengonsumsinyapada bayi. "Tidak semua bakteri adalah probiotik," ujar Björksté n.
Penggunaan mikroorganisme yang bermanfaat bagi kesehatan telah digunakan sejak lama dan telah terbukti keamanan penggunaan probiotik, bahkan pada bayi dan subjek yang daya tahannya agak lemah. Air susu ibu merupakan sumber alami probiotik. Ini menunjukkan pentingnya peranan probiotik sejak awal kelahiran. Bayi lahir normal yang diberi ASI akan makin sehat karena bakteri probiotik mendominasi mikrobiota saluran cerna, kata Agus.
Maka dari itu, beberapa tahun belakangan ini bakteri probiotik mulai diberikan kepada bayi dan balita dengan memperhatikan aspek keamanan. Hanya preparat probiotik yang sudah diuji secara intensif dan terbukti aman yang boleh diberikan. Probiotik Bifidobacterium lactis merupakan salah satu probiotik yang dinyatakan aman oleh Badan Pengawas Makanan dan Obat-Obatan Amerika Serikat atau US-FDA, ujar Björkstén.
Sebagian besar riset tentang probiotik untuk anak-anak difokuskan pada pencegahan diare, kolik intoleransi laktosa, baru kemudian alergi. Pada tahun 1994, Saavedra dkk melaporkan penurunan drastis angka kejadian diare pada anak-anak yang dirawat di rumah sakit yang diberi probiotik dibandingkan kelompok yang tidak memperoleh probiotik.
Sejauh ini, ada empat penelitian terkontrol menggunakan plasebo yang memberi kan probiotik pada bayi usia 6-12 bulan. Tiga penelitian itu memperlihatkan pengurangan eksim pada anak-anak itu. Hasil temuan itu akan mendorong lebih banyak penelitian lanjutan untuk membuktikan bahwa pemberian probiotik akan mengurangi angka kejadian a lergi pada saluran napas di masa kanak-kanak.
Penyakit alergi itu bersifat kompleks dan penyebabnya multifaktorial. Probiotik telah diteliti untuk membantu mengurangi risiko munculnya reaksi alergi pada bayi. Penelitian itu masih berada di tahap awal dan hasilnya cukup menggembirakan yaitu muncul efek perlindungan signifikan dari probiotik untuk mencegah timbulnya atopik dermatitis .
"Memahami ekologi mikroba membuka cara baru untuk pencegahan dan terapi," kata Björkstén. Bersahabat dengan kelompok bakteri baik diharapkan bisa mengurangi risiko diare dan alergi pada bayi dan balita yang pada akhirnya akan mengoptimalkan tumbuh kembang sang buah hati sumber klikdokter 28-05-2010
KEHADIRAN buah hati yang sehat dan cerdas merupakan dambaan para orang tua. Sayangnya, proses tumbuh kembang si kecil kerapkali terganggu oleh berbagai masalah kesehatan. Salah satu gangguan kesehatan yang banyak diderita bayi dan anak-anak berusia di bawah lima tahun adalah diare dan alergi.
Cut Fabiayya, misalnya, menderita alergi dan mencret saat baru berusia lebih dari satu bulan. Bagian pipinya ruam merah. Ia juga mencret berulang kali dalam sehari. Padahal, begitu pulang dari rumah sakit, ia mendapat air susu ibu (ASI) secara eksklusif dari ibunya.
Setelah diperiksa dokter, ternyata ia menderita alergi. Bakat alergi itu berasal dari kedua orang tuanya yang menderita asma. Penyebabnya, selama menyusui, ibunya mengonsumsi susu untuk ibu menyusui dan beberapa jenis makanan yang berpotensi menimbulkan alergi. Untuk mengurangi risiko alergi, selama menyusui, Rifsia, ibu dari Cut Fabiayya, lalu pantang makan ikan laut, kacang tanah, dan telur.
Hal serupa juga dialami Raka Pratama saat menginjak usia lima bulan. Karena sampai dua hari setelah lahir ASI ibunya belum keluar, Raka kemudian diberi susu formula. Beberapa hari kemudian, ia menderita panas tinggi, kulitnya kemerahan terutama di bagian muka, kaki dan badan. Setelah diberi antibiotik, Raka malah mencret sampai 15 kali dalam sehari, tinja yang keluar berlendir dan bercampur dengan sedikit darah, dan pada tubuhnya keluar bercak-bercak merah.
Karena ibunya memiliki riwayat menderita asma, dokter mulai mencurigai adanya gejala alergi susu sapi sehingga disarankan agar susu formula yang biasa dikonsumsi Raka diganti dengan susu formula berbahan dasar kedelai. Setelah diobati dan berganti jenis susu, diarenya cepat sembuh. "Bercak kemerahan pada kulit Raka juga hilang," kata Ny Titin, nenek dari Raka yang sehari-hari tinggal di Ciledug, Tangerang.
Awal kelahiran
Masalah diare dan reaksi alergi dialami bayi-bayi dan kelompok anak berusia di bawah lima tahun di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia. Bila tidak segera diatasi, bayi dan anak balita yang menderita diare dan alergi akan terganggu proses tumbuh kembangnya pada periode emas pertumbuhan.
Hasil penelitian yang dilakukan Prof Bengt Björkstén dari Institut Karolinska Swedia Björksté n pada tahun 2001 membuktikan, bayi-bayi penderita alergi terbukti mempunyai lebih sedikit Bifidobakteria pada feses atau tinja hingga mereka berusia lima tahun. Sejumlah riset dalam 10 tahun terakhir juga membuktikan perbedaan mencolok komposisi mikrobiota bayi sehat dan alergi di negara-negara dengan prevalensi alergi rendah dan tinggi.
Menurut Bengt Björkstén, pengaruh kondisi awal kelahiran, termasuk cara kelahiran dan penggunaan antibiotik, mempunyai efek sangat besar terhadap pola mikroflora (jasad renik berukuran kecil seperti bakteri dan jamur) saluran cerna. Mikroflora itu sangat penting untuk merangsang sistem daya tahan tubuh dalam kondisi normal, ujarnya menegaskan.
Hasil penelitian (Gronlund et al, Clin Exp Allergy 1999) memperlihatkan, keberadaan bakteri menguntungkan seperti Bifidobakteria pada bayi yang lahir cesar akan tertunda, dan dibutuhkan waktu hingga 6 bulan untuk menyamai bayi yang lahir normal. Oleh karena, bayi yang lahir cesar akan steril dari bakteri baik saat dilahirkan, sedangkan bayi lahir normal telah terpapar bakteri ketika dilahirkan.
Padahal bakteri baik seperti Bifidobakteria (kelompok bakteri menguntungkan atau probiotik di saluran cerna) yang diperoleh pada periode awal kelahiran, diperlukan untuk mengenali dan membentuk toleransi terhadap zat-zat asing yang masuk ke tubuh. Dominasi Bifidobakteria dalam saluran cerna terbukti dapat menekan pertumbuhan bakteri patogen sehingga bisa membantu kekebalan lokal di daerah pencernaan pada bayi.
"Pentingnya peranan bakteri menguntungkan ini menjelaskan mengapa bayi yang dilahirkan secara cesar dilaporkan memiliki angka kejadian alergi dan infeksi yang lebih tinggi," kata Kepala Divisi Gastrohepatologi Departemen Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo Prof Agus Firmansyah.
Probiotik
Sejumlah penelitian secara klinis menunjukkan, pemakaian beberapa jenis probiotik memberi efek sedang untuk mengatasi eksim pada bayi . Hal ini menarik untuk mengetahui potensi pencegahan alergi dengan mempengaruhi mikroflora saluran cerna melalui pemberian probiotik mikroorganisme non patogen yang memberi manfaat bagi yang mengonsumsinyapada bayi. "Tidak semua bakteri adalah probiotik," ujar Björksté n.
Penggunaan mikroorganisme yang bermanfaat bagi kesehatan telah digunakan sejak lama dan telah terbukti keamanan penggunaan probiotik, bahkan pada bayi dan subjek yang daya tahannya agak lemah. Air susu ibu merupakan sumber alami probiotik. Ini menunjukkan pentingnya peranan probiotik sejak awal kelahiran. Bayi lahir normal yang diberi ASI akan makin sehat karena bakteri probiotik mendominasi mikrobiota saluran cerna, kata Agus.
Maka dari itu, beberapa tahun belakangan ini bakteri probiotik mulai diberikan kepada bayi dan balita dengan memperhatikan aspek keamanan. Hanya preparat probiotik yang sudah diuji secara intensif dan terbukti aman yang boleh diberikan. Probiotik Bifidobacterium lactis merupakan salah satu probiotik yang dinyatakan aman oleh Badan Pengawas Makanan dan Obat-Obatan Amerika Serikat atau US-FDA, ujar Björkstén.
Sebagian besar riset tentang probiotik untuk anak-anak difokuskan pada pencegahan diare, kolik intoleransi laktosa, baru kemudian alergi. Pada tahun 1994, Saavedra dkk melaporkan penurunan drastis angka kejadian diare pada anak-anak yang dirawat di rumah sakit yang diberi probiotik dibandingkan kelompok yang tidak memperoleh probiotik.
Sejauh ini, ada empat penelitian terkontrol menggunakan plasebo yang memberi kan probiotik pada bayi usia 6-12 bulan. Tiga penelitian itu memperlihatkan pengurangan eksim pada anak-anak itu. Hasil temuan itu akan mendorong lebih banyak penelitian lanjutan untuk membuktikan bahwa pemberian probiotik akan mengurangi angka kejadian a lergi pada saluran napas di masa kanak-kanak.
Penyakit alergi itu bersifat kompleks dan penyebabnya multifaktorial. Probiotik telah diteliti untuk membantu mengurangi risiko munculnya reaksi alergi pada bayi. Penelitian itu masih berada di tahap awal dan hasilnya cukup menggembirakan yaitu muncul efek perlindungan signifikan dari probiotik untuk mencegah timbulnya atopik dermatitis .
"Memahami ekologi mikroba membuka cara baru untuk pencegahan dan terapi," kata Björkstén. Bersahabat dengan kelompok bakteri baik diharapkan bisa mengurangi risiko diare dan alergi pada bayi dan balita yang pada akhirnya akan mengoptimalkan tumbuh kembang sang buah hati sumber klikdokter 28-05-2010
Jalan Sehat Minggu 30 Mei 2010
Ikuti Jalan Sehat dalam rangka peringatan 1 abad ormas Muhammadiyah
Ahad, 30 Mei 2010 jam 06.00 sd selesai
di halaman depan gedung pusat Muhammadiyah
Jl Menteng Raya Jakarta Pusat
dihadiri Gubernur DKI dan Menkes RI
Ahad, 30 Mei 2010 jam 06.00 sd selesai
di halaman depan gedung pusat Muhammadiyah
Jl Menteng Raya Jakarta Pusat
dihadiri Gubernur DKI dan Menkes RI
Langganan:
Postingan (Atom)
